HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Thursday, December 15, 2011

Mukjizat Natal


Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain.
Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.
Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarganya masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.
Berbeda dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar sangat dingin sekali dan saljupun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melainkan berada di hadapan musuh perang mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.
Tiada hadiah yang menunggu selainnya peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang jauh, sehingga hari inipun hampir seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya salju. Biasanya mereka berada di lingkungan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit, seperti layaknya seekor tikus, boro-boro bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini selainnya rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.
Seorang tentara sedang merintih kesakitan karena barusan saja terkena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras dan tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir ? Kapankah mereka akan bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing ? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang orang yang mereka kasihi ? Dan masih merupakan satu pertanyaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri dan anak - anaknya ? Entahlah...
Tidak sepatah katapun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu seperti demikian.
Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka, sehingga nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.
Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu Stille Nacht, heilige Nacht" (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarganya yang berada jauh dari medan perang ini.
Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit Sprink tersebut sebelumnya ia dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam Natal tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan menyanyikan lagu tersebut, walaupun ia mengetahui dengan menyanyikan lagu tersebut, prajurit musuh bisa mengetahui tempat di mana mereka berada.
Ia bukan hanya sekedar menyanyi dalam tempat persembunyiannya saja, ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga dapat terlihat dengan nyata oleh semua musuh - musuhnya. Melalui nyanyian tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari Natal ini, ialah untuk berbagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Tetapi apa yang terjadi, apakah ia ditembak mati ?
Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukjizat yang terjadi, sebab pada saat yang bersamaan semua prajurit yang ada di situ turut keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing, dan mereka mulai menyanyikannya bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Mereka menyanyikan lagu Malam Kudus ini dengan rasa pilu dan air mata yang turun berlinang.
Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasanya masing - masing, di sinilah rasa damai dan sukacita benar - benar terjadi. Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.
Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seyogianya harus saling tembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan menyembah bersama kelahiran-Nya, Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mukjizat Natal yang benar - benar bisa membawa suasana damai di malam yang suci.
Matius 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Natal: Suatu Pergumulan hidup


Lukas 1: 30

Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Malaikat Gabriel  datang kepada Maria (1:26) dan menyatakan bahwa Maria mendapat kasih karunia (1:30). Pertanyaannya adalah betulkah Maria mendapatkan kasih karunia? seringkali banyak orang mengidentikan kasih karunia  dengan sebuah keberuntugan, berkat materi, kesehatan dll, singkatnya kalau dikatakan mendapat kasih karunia berarti tidak adanya pergumulan, masalah atau himpitan hidup. Namun apakah Maria dikatakan mendapat kasih karunia berarti ia mendapat keberuntungan atau dengan kata lain ia tidak mendapatkan pergumulan? Apabila kita menyelidiki Firman Tuhan ini secara mendalam maka dapatlah kita menemukan bahwa kasih karunia yang dikaruniakan bagi Maria tercantum dalam Lukas 1:31 “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus”. Jadi kasih karunia yang dimaksud adalah Maria akan mengandung seorang bayi. Seandainya Maria sudah mempunyai suami yang sudah disyahkan (seperti gereja saat ini yaitu melalui pernikahan), maka ini betul merupakan sebuah kasih karunia, sebab suatu keluarga pasti merindukan  buah hati. Namun posisi Maria dan Yusuf pada saat itu masih dalam taraf pertunangan (bnd  Lukas 1:43 “Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami” dan Matius 1: 18 “…Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri”). Dengan demikian problem yang dihadapi oleh Maria adalah memiliki anak sebelum memiliki suami. Jikalau dipikir apakah ini kasih karunia atau pergumulan? mungkin orang akan berpikir bahwa tetapi Maria sudah tahu bahwa yang dikandung adalah  Yesus Kristus yang akan menghapus dosa dunia. Betul bahwa Maria tahu hal itu karena disampaikan oleh Malaikat Tuhan (bdg Lukas 1:31-32). Namun pertanyaannya adalah apakah orang-orang disekitar Maria mengetahui tentang maksud yang Mulia itu atau tidak ? jawabannya tentu tidak, maka disinilah problemnya. Sehingga ketika Maria bersedia menerima kehendak Tuhan agar kandungan dipakai oleh Tuhan untuk mengandung dan melahirkan Kristus maka pada saat itu Maria harus siap menerima beberapa konsekwensi
1. Ia harus siap dituduh berzinah dan diceraikan oleh Yusuf tunangannya. (dalam konteks pertunangan pada zaman Yusuf dan Maria  harus berpisah dengan cara bercerai) dan tindakan ini sempat dipikirkan dan diambil oleh Yusuf secara diam-diam (Matius 1:19).
2. Ia harus siap menghadapi tantangan dari pihak keluarga, oleh karena konsekwensi kandungannya tidak hanya dipikul oleh Maria, namun juga  berakibat untuk semua kamu keluarga Maria.
3. Ia harus siap menghadapi cemooh dari lingkungan yang ada disekitarnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa linkungan mengetahui bahwa hubungan Yusuf dan Maria hanya sebatas pertunangan, maka kandungan Maria menjadi buah bibir disekitar lingkungannya.
4. Ia harus siap menghadapi tuntutan hukum Taurat yaitu ” barangsiapa berzinah maka ia harus dibawa keluar dari daerah tersebut dan dirajam dengan batu sampai mati,  sebab perzinahan adalah aib.
Dengan demikian maka dari satu sisi Maria patut bersukacita sebab ia dipercayakan oleh Allah untuk mengandung bayi Yesus yang adalah Juruselamat dunia, namun dalam sisi yang lain ia harus menghadapi pergumulan dan tantangan  hidup. Situasi inilah yang dihadapi oleh Maria pada saat Natal.  Namun dalam kondisi ini kita dapat belajar dari respon Maria ketika berita Natal itu disampaikan kepadanya terdapat dalam  Lukas 1:38  “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Dari ayat ini kita dapat menemukan respon Maria terhdapat berita Natal tersebut:
1. Ia mengenal dirinya sebagai seorang hamba Tuhan. Dimana seorang hamba tidak berhak untuk hidupnya sendiri, namun sebaliknya Tuannya yang berhak untuk hidupnya, sehingga ketika Maria menemukan bahwa  dirinya adalah milik Tuhan maka yang berkuasa penuh atas hidupnya bukan dia melainkan Tuhan. Oleh sebab itu Berita Natal membawa kita untuk mengenal dan mengevaluasi hidup kita apakah betul kita sudah menjadi milik Tuhan dan apabila selama ini kita sudah mengklaim diri kita sebagai milik Tuhan apakah hidup kita juga sudah menunjukan bahwa kita milik Tuhan.
2. Maria tetap taat kepada Tuhan apapun konsekwensinya ia berkata “Jadilah padaku seperti perkataanmu itu”. Ia siap masuk dalam kehendak Tuhan walaupun kasih karunia tersebut harus melewati kesulitan , pergumulan hidup dan tantangan hidup. Sebab sebagai hamba Tuhan ia harus siap taat kepada Tuhan, ia tidak boleh menolak kehendak Tuhan.
3. Pertanyaannya adalah mengapa Maria berani mengambil keputusan ini jawabanya ada pada ayat sebelumnya bahwa Tuhan berfirman kepada Maria melalui Malaikat Tuhan dalam Lukas  1:37. Bagi Allah tidak ada yang mustahil terjemahan yang lain mengatakan bahwa Bersama dengan Allah tidak ada yang musthil. Inilah yang menjadi kekuatan bagi Maria untuk menerima kehendak Tuhan. Sehingga pada akhirnya semua pergumulan dan konsekwensi di atas di dalam kedaulatan Tuhan tidak dialami oleh Maria, sampai pada Yesus kristus lahir.
Aplikasi hidup:
Dalam hidup ini banyak orang yang mengklaim diri mereka sebagai orang percaya namun tidak taat kepada pimpinan dan kehendak Tuhan sebab mereka lebih melihat tantangan atau pergumulan yang akan dihadapi ketika menjalankan kehendak Tuhan, ketimbang melihat Tuhan dan rencana-Nya yang besar, sehingga membuat mereka melarikan diri dari kehendak Tuhan kadang dengan alasan-alasan rohani. Namun seharusnya siapapun kita yang telah memproklamirkan dirinya sebagai orang percaya harus percaya dan taat bahwa apapun konsekwensi dalam menjalankan kehendak Tuhan ia tetap setia kepada Tuhan. Sebab  kita tetap percaya bahwa bersama dengan Tuhan kita dapat menanggung  semua kesulitan tersebut sebab Tuhan lebih besar dari pergumulan hidup. 

Natal Tanpa Yesus




Ketika kita diundang menghadiri pesta ulang tahun, tentu fokus sosok orang yang mendapat perhatian khusus adalah yang berulang tahun itu. Beliau akan disalami, diberi hadiah, dipeluk, dicium, diajak ngobrol, difoto, dikerjai, pokoknya semuanya ditujukan terhadap orang tersebut. Alangkah lucu dan janggalnya bila yang berulang tahun itu absen pada hari itu, selain para pengunjungnya kecewa dan penuh tanda tanya dan tentu suasananya tidak menyenangkan.
Belakangan ini di Indonesia sering terjadi demikian, bagi mereka yang keuangannya berlebih kalau tidak mau disebut orang kaya,  sering mengadakan perayaan ulang tahun besar-besaran baik bagi anaknya yang masih bayi atau bagi orang tuanya yang sudah lanjut usia. Biasanya dirayakan di restoran atau hotel yang cukup terkenal dan menghabiskan cukup banyak biaya. Yang menjadi lucu bin aneh adalah kadang kala terjadi, tatakala pesta tersebut diadakan, sang anak itu sudah tidur atau sang orang tuanya karana sakit maka tidak hadir. Jadi tinggallah acara makan-makan tanpa hadir yang berulang tahun. Lalu kalau sudah begini, kira-kira apa makna ulang tahun tersebut? Yang berulang tahun tidak menikmatinya.
Perayaan Natal juga demikian, sering kita melihat bahwa karena kesibukan di dalam mempersiapkan acara maka Tuhan Yesus yang lahir  telah dikesampingkan. Pernah saya mendengar lagi adalah kelompok Panitia Natal mengatakan kalau di dalam acara Natal itu tidak perlu menyampaikan firman Tuhan, yang penting acaranya meriah, ada tari-tarian dan makan-makan. Nah kalau sudah demikian apa makna Natalnya lagi, apakah kita mengerti sungguh pengertian dari Natal itu? Coba lihat sedikit penjelasanm di bawah ini.
Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Sering kalia kita perhatikan di dalam kartu natal kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen kuno, yakni di dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Tidak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Nah, kalau di dalam memperingati hari kelahiran Kristus, tanpa Kristusnya kan aneh, namun kenyataannya banyak terjadi di mana-mana. Ketika Natal dirayakan yang ada hanya hura-hura, makan-makan, bahkan mabuk-mabuk, padahal sesungguhnya di dalam Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kelahiran Yesus merupakan kelahiran seorang raja yang membawa Damai Sejahtera di bumi.
Kelahiran Yesus merupakan kelahiran yang ajaib dan sudah dinubuat sejak dahulu kala oleh para nabi, jadi Yesus yang lahir itu adalah Mesias yang diurapi dan juga disebut sebagai Imanuel atau Allah menyertai kita. Di dalam Mikha 5:1 juga sudah disebutkan bahwa Mesias itu akan lahir di kota Betlehem. Para ahli Taurat dan imam-imam segera saja memberitahukan peristiwa ini kepada raja yang berkuasa pada waktu itu yakni Herodes perihal kelahiran Mesias ini.  Selain itu di dalam Kejadian 49:10 juga disebutkan bahwa Mesia itu dilahirkan sebelum pemerintahan Yahudi dihancurkan. Sedangkan nabi Daniel, terutama di dalam Daniel 9:25 mencatat bahwa enam puluh sembilan kali tujuh masa akan berlalu sebelum Mesias disingkirkan  dan pada waktu itu telah ditunjukkan sampai tuntas pada kematian Kristus. Walaupun pendapat ini masih merupakan perdebatan, namun sangat disetujui oleh kebanyakan orang sarjana. Jadi dari sini kita melihat bahwa sejak dari Perjanjian Lama sudah dinubautkan tentang kelahiran Mesias itu, baik tempatnya, waktu, garis keturuna mdarta cara Yesus dilahirkan.  Dengan demikian seandai ada perayaan kelahiran Natal yang  tanpa Yesus tentu menjadi suatu peryaan yang hampa dan sekuler sekali.
Apa bedanya perayaan Natal yang dilakukan oleh orang-orang di luar gereja dengan perayaan Natal orang-orang percaya? Satu-satunya perbedaan yang paling mencolok adalah Tuhan Yesus itu sendiri. Bagi orang di luar sana peryaan kelahiran Yeus boleh diartikan sebagai bisnis, politik atau hura-hura, namun bagi orang percaya semestinya perayaan Natal adalah suatu perayaan yang memprollamirkan ke dunia bahwa Yeus sudah lahir ke duania ini,dan Dia diutus untuk meyelamatkan umat manusia dari dosa.
Semenjak Adam dan Hawa tidak taat kepada Tuhan, dengan alasan ular yang menggoda mereka makan buah pengetahuan baik dan jahat, maka Allah sudah memutuskan hubungan antara manusia dengan-Nya. Tidak tanggung-tanggung memang, manusia yang berdosa itu divonis bakal mati. Namun ternyata Allah tidak dapat melawan dengan natur-Nya yang penuh Kasih itu, sehingga IA tidak langsung menghukum manusia itu dengan kematian itu. Diam-diam IA merancang suatu rancangan yang besar, yakni menyelamatkan manusaia yang berdosa itu.
Allah itu seperti Bapa kita saja yang tidak rela mencelakakan anak-anaknya, bagaiamanpun bejatnya manusia masih ada kesempatan yang terbuka bagi mereka untuk menyelamtkan diri. Itulah sebabnya maka kita tidak akan heran apabila di dalam kitab Injil Yohanes 3 : 16 menuliskan Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Itulah sebabnya apabila perayaan Natal yang kita rayakan selama ini tanpa Yesus, terntu akan menjadi suatu perayaan yang tidak ubahnya dengan ulang tahun atau pesta perkawinan atau makan-makan, bahakan ada yang teler karena minumannya bercampur minuman keras. Natal semac am, ini tentu tidak berguna.
Natal yang dirayakan orang-orang percaya adalah berita suka-cita, kabar kelahiran Tuhan Yesus ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan dosa ini membutuhkan Yesus untuk menyelamatkan kita. Hidup manusia begitu terbatas di dunia ini, ia butuh suatu oknum yang mempunyai kuasa tidak terbatas untuk menyelamatkan mereka. Dunia merupakan tempat tumpangan sementara dari umat manusia, sehingga suatu hari  mesti meninggalkan dunia ini. Masalahnya adalah, pada saat manusia itu ditentukan harus meninggalkan dunia ini, lalu ia harus melangkah ke mana? Hanya ada dua pilihan, Neraka atau Surga?
Awal Juli 2004 yang lalu kami sekeluarga mengambil cuti pulang ke Indonesia. Memang dari Amerika kami sudah mendapatkan berita bahwa ada seorang bapak yakni suami dari salah seorang majelis dari gereja yang pernah saya layani itu sakit keras dan sudah koma dua bulan lebih. Begitu tiba di Indonesia, waktu itu 7 juli 2004, saya sempat merencanakan kalau besok pagi ada waktu saya hendak membesuknya. Namun apa yang terjadi? Pagi-pagi sekali kami mendengar berita bahwa bapak itu sudah meninggal dunia, waktunya begitu cepat berlalu dan saya tidak sempat membesuknya. Bersyukurlah kalau selama masa hidupnya almarhum pernah menyatakan diri percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Itu berarti keluarga yang ditinggalkan tidak perlu terlalu begitu tenggelam di dalam kesedihan, sebab perpisahan ini sifatnya sementara, karena pada suatu saat kita boleh bertemu dengan beliau kembali di surga.
Yang menjadi titik persoalan adalah, ketika kehidupan kita itu tanpa Yesus, maka kita akan menghadapi jalan buntu, sebab jalan satu-satunya ke Surga adalah melalui perantara Tuhan Yesus. Yesus berkata di dalam Yohanes 14 :6  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.  Jelas sekali Yesus memegang peranan penting di dalam hidup kita ini, tanpa Dia maka kita akan binasa.   Itu sebabnya mengapa begitu pentingnya kehadiran Tuhan Yesus di dalam Natal yang kita rayakan itu.
Berita Natal adalah berita suka-cita, sebab malaikat-malaikat pada waktu  memproklamirkan kabar kesukaan, sehingga mereka bernyanyi memuji-muji dan memuliakan Tuhan.  Sebagai orang-orang percaya juga demikian, bayi Yesus saat ini sudah tidak ada di kandang domba lagi, karena waktu dan keadaan serta proses yang berlalu, bayi Yeus telah bertumbuh menjadi dewasa dan mati di atas kayu salib serta bangkit kembali pada hari ke tiga. Yang paling penting adalah tatkala peristiwa Natal kita rayakan, biarlah Yesus itu juga lahir di dalam hati kita masing-masing, sehingga memperbaharui hidup kita.
Sekali lagi, apalah artinya perayaan Natal itu bagi kita kalau kita sendiri tidak pernah mengalami kasih dari Kristus itu?  Memang sering kali ada orang-orang tertentu yang mencoba untuk mendiskreditkan orang-orang percaya, hal ini disebabkan karena tanggal kelahiran Yesus tidak pernah kita dapatkan di dalam Alkitab.  Namun dari beberapa hasil penyelidikan diperoleh keterangan bahwa kelahiran Yesus itu bersamaan dengan peristiwa sensus penduduk yang diadakan oleh Kaisar Agustus (bandingkan dengan Lukas 2 :1-7), pada saat itu raja Herodes sedang berkuasa.  Secara tradisi, orang-orang percaya jarang merayakan ulang tahun, dan perayaan ulang tahun itu biasanya dirakan oleh mereka yang kafir. Gereja purba lebih sering merayakan peristiwa kemenangan Yesus yakni paskah, sebab sejak jaman nenek moyang perayaan paskah sudah sangat populer. Barulah sekitar abad ke 3 orang-orang Kristen di Mesir merayakan Natal, itupun tanggalnya bukan 25 Desember.  Pada abad ke 4 gereja di Roma baru mulai merayakan Natal pada akhir abad ke 4, yaitu memakai tanggal 25 Desember, dan itu berlangsung sampai hari ini.
Terlepas dari segala perdebatan yang ada, maka sebagai orang-orang percaya yang sejati, kita tidak begitu mementingkan tanggal 25 Desember sebagai tanggal patokan keharusan kelahiran Yesus, yang paling penting bagi kita adalah tatkala memperingati Natal kita diingatkan  bahwa Tuhan Yesus pernah suatu hari lahir di dunia ini. Dan yang tidak kala pentingnya adalah Yesus itu juga lahir di dalam hati serta hidup kita setiap hari, sehingga ada damai sejahtera yang abadi. Apalah artinya kita memperingati Natal, namun kita sendiri tidak pernah diperbaharui oleh Tuhan.  Kehidupan kita masih seperti orang-orang yang tanpa pengharapan.
Yesus yang lahir ke dunia ini bukan sembarang manusia, IA adalah allah yang menjadi Manusia. Tugas kedatangan-Nya ke dunia ini adalah menyelamatkan manusia, IA harus menempuh kematian di atas kayu salib atas dosa-dosa kita, naik ke surga dan menawrkan hidup kekal kepada kita, yakni hidup bersama-sama Tuhan Yesus di surga untuk selama-lamanya. Suatu tawaran yang sangat berharga sekali.
Kalau Allah begitu mengasihi hidup kita, dan rela mengirim Anak-Nya untuk menebus kesalahan kita. Hidup kita sangat berharga sekali, saya yakin sekalai sebagai orang normal kalau kita kumpulkan uang yang ada di seluruh dunia diberikan kepada anda untuk menggantikan nyawa anda pasti anda tetap tidak mau, itu berarti harga nyawa anda itu mahal sekali. Masihkah beranikah kita mempermainkan hidup ini?. Namun kenyataannya, terlalu banyak berita yang kita dengar atau kita saksikan sendiri tentang orang-orang yang tidak mengahargai hidupnya. Ada yang kehidupan sehari-harinya dipengaruhi oleh alkohol atau minuman keras, sex bebas,  mabuk-mabukan, judi, obat bius, dan itu terjadi bukan hanya di komunitas orang-orang muda, tetapi mereka yang sudah berkeluargapun ada yang terikat dengan semua ini. Hidupnya hancur, masa depannya punah, pekerjaan dan karirnya berantakan, keluarganya kacau-balau, bahkan ada yang nyawanyapun hilang. Mungkin orang-orang ini juga merayakan Natal, tetapi Natal yang hura-hura tanpa Yesus.
Natal tanpa Yesus yang lahir di dalam hidup kita hasilnya adalah sia-sia belaka, itu sama dengan merayakan ulang tahun kita; secara tidak langsung ingin mengingatkan kita bahwa umur kita di dunia ini berkurang satu tahun. Namun Natal yang menghadirkan Tuhan Yesus, walaupun satu tahun berlalu dan umur kita berkurang satu di dunia ini, namun kita memperolah hidup kekal bersama Tuhan Yesus di surga. Biarlah kita semua disadarkan bahwa ketika kita memperingati Natal, sungguh-sungguh kita memperingati Yesus yang lahir ke dunia ini yang menyelamatkan umat manusia dari dosa dan sampai saat ini Yesus tetap masih hidup. Dengan demikian  kita rela diubahkan oleh-Nya supaya menjadi lebih sempurna.

Natal Membuat Hidup Kita Bermakna


Sebuah sukacita  ketika kita masih dilayakkan oleh Tuhan untuk merayakan Natal saat ini, sebab  Natal  mengingatkan kita betapa Allah membuat hidup kita bermakna melalui peristiwa kelahiran Putra Allah di dalam sejarah manusia.  Pemaknaan tersebut  adalah:
1. Melalui  Natal Allah memaknai Kekristenan sehingga berbeda dengan agama lain.
Pengertian agama secara umum adalah usaha manusia mencari Allah sedangkan didalam Kekristenan , Alkitab menjelaskan bahwa tidak ada seorang manusiapun yang dapat mencari Allah, namun sebaliknya Natal membuktikan bahwa Allahlah yang berinisiatif untuk mencari manusia.  Sebab didalam keberdosaan manusia tidak ada seorangpun yang dapat kembali  kepada Allah.  Oleh karena itu Natal  adalah sebuah momentum yang sangat berarti bagi manusia untuk kembali kepada  Allah  serta  mengenal Allah secara benar dan  jelas.
2. Natal  merupakan titik awal manusia  dibebaskan dari perhambaan dosa dan maut.
Peristiwa Natal  harus mendahului peristiwa Kalvari  dan kebangkitan Kristus, karena tanpa  peristiwa Natal, maka peristiwa Kalvari dan kebangkitan Kristus tidak mungkin terwujud. Ketiga peristiwa ini adalah suatu rentetan kejadian yang merupakan sebuah bukti  kemenangan Kristus atas dosa dan maut, maka selanjutnya kemenangan Kristus atas dosa dan maut, menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa mereka tidak lagi diperhamba oleh dosa dan maut tetapi menjadi  hamba kebenaran atau hamba Allah (Roma 6:17-19,22).
3.  Natal membuktikan bahwa  Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan Keselamatan.
Allah yang turun kedalam dunia didalam pribadi Yesus Kristus dalam peristiwa Natal, membuktikan bahwa , tidak ada jalan lain yang menjadi mediator  bagi manusia  untuk  manusia  kembali kepada Allah dan diselamatkan.  Kecuali didalam Yesus Kristus. Sebab semuanya sudah tercantum dalam Yohanes 14:16.  Yesus berkata:” Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidaka ada seorangpun yang datang kepada Bapa tanpa melalui Aku”. Serta Rasul Petrus  secara tegas menekankan dalam Kisah Para Rasul 4:12 “ Dan keselamatan tidak ada didalam siapapun juga selain didalam Dia (Yesus Kristus), sebab didalam kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.
Biarlah  melalui  ibadah dan perayaan Natal  tahun ini, hidup kita semakin  bermakna untuk hormat dan kepujian bagi nama Tuhan.

Tuesday, December 13, 2011

MENJAWAB KEBERATAN KAUM “ANTI NATAL” -PART 3


MENJAWAB KEBERATAN KAUM “ANTI NATAL” (Part 3)

Merayakan Natal = Kafir?

Bagian Terakhir Dari Tiga Tulisan

Keberatan lainnya dari kaum anti Natal adalah bahwa Natal dikatakan berasal dari kekafiran. Herbert W. Armstrong dalam ‘The Plain Truth About Christmas’(www.geocities.com/pakguruonline/kebohongan_natal.html) dengan merujuk pada beberapa Encyclopedia sampai pada sebuah kesimpulan bahwa : "Natal bukanlah upacara-upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala." Ia melanjutkan : "Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut.." ("Perjamuan Suci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.)". Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari." Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."(ibid). Simak juga tulisan Brian Schwertley berikut ini : “Catatan-catatan sejarah di dalam Ensiklopedia, yang bisa kita dapatkan di perpustakaan-perpustakaan, dan yang dapat dipercaya, memberikan fakta-fakta ini: bahwa Natal berasal dari bangsa kafir. Jika ditelusuri, Natal merupakan kepanjangan dari penyembah-penyembah matahari di antara bangsa-bangsa kafir. Banyak hari kelahiran dari para pemimpin kafir dirayakan oleh bangsa Babilonia. Semua perayaan penyembahan berhala ini berasal dari bangsa kafir. Kata Christmas (Natal) berarti Misa Kristus. Kata ini kemudian disingkat menjadi Christ-Mass; dan akhirnya menjadi Christmas. Kita kenal misa ini sebagai Misa Roma Katolik. Tetapi dari mana mereka mendapatkannya? Oleh karena kita mengenalnya lewat Gereja Roma Katolik, dan tidak ada wewenang selain Gereja Roma Katolik, marilah kita selidiki Ensiklopedia Katolik, yang diterbitkan oleh denominasi ini. Di bawah judul Christmas (Natal) engkau akan menemukan kata-kata ini: Natal tidak terdapat pada perayaan-perayaan Gereja jaman dahulu … Bukti awal dari perayaan ini adalah dari Mesir. Adat kebiasaan dari para penyembah berhala yang berlangsung sekitar bulan Januari ini kemudian dijadikan Natal. ... ENSIKLOPEDIA AMERICANA, edisi 1969, berkata: Natal, nama ini berasal dari bahasa Inggris kuno Chrites Maesse dan ejaan sekarang ini nampaknya mulai digunakan pada sekitar abad ke 16. Semua gereja Kristen kecuali gereja Armenia merayakan hari kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember. Tanggal ini tidak dikenal di negeri Barat sampai kira-kira pertengahan abad ke 4 dan di Timur sampai kira-kira seabad kemudian”. (http://www.prcedm.netfirms.com/). Masih dari sumber yang sama : “Tradisi ini mungkin berasal dari perayaan Saturnalia, di mana para budak menjadi sejajar dengan tuannya. Membakar kayu Natal dimasukkan menjadi adat orang Inggris yang asalnya dari adat orang Skandinavia tatkala mereka menghormati titik balik matahari pada musim dingin”. Schwertley melanjutkan : “Asal mula Natal. Alasan mengapa menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Natal adalah tidak jelas, tetapi seperti yang dipercayai tanggal ini dipilih untuk menyesuaikan dengan perayaan penyembahan berhala yang berlangsung pada musim dingin waktu terjadi titik balik matahari, yaitu ketika siang hari mulai panjang, untuk merayakan lahirnya kembali sang matahari. Suku-suku bangsa Eropa Utara merayakan Natal mereka pada musim dingin waktu titik balik matahari untuk merayakan kelahiran kembali sang matahari (dewa) sebagai yang memberikan terang dan kehangatan. Saturnalia Romawi (perayaan yang dipersembahkan kepada Saturnus, dewa pertanian) juga berlangsung pada waktu tersebut, dan beberapa adat Natal diperkirakan berakar pada perayaan penyembahan berhala ini. Perayaan ini diadakan oleh beberapa orang terpelajar bahwa kelahiran Kristus sebagai Terang Dunia dianalogikan dengan kelahiran kembali sang matahari agar supaya kekristenan menjadi lebih berarti bagi para petobat baru yang dulunya menyembah matahari”.

Asal-usul yang tidak jelas

Pertama-tama yang ingin saya katakan adalah bahwa Schwertley tidaklah konsisten dalam kata-katanya. Dalam kutipan pertama dia mengatakan bahwa hal itu (bahwa Natal berasal dari kekafiran) ‘dapat dipercaya’. Tetapi dalam kutipan kedua ia mengatakan ‘mungkin’, dan dalam kutipan ketiga ia mengatakan ‘Alasan mengapa menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Natal adalah tidak jelas’ dan pada bagian akhir ia menggunakan kata ‘diperkirakan’. Dengan demikian jelas bahwa asal usul dari kekafiran bukanlah merupakan sesuatu yang pasti. Itu baru perkiraan saja. Perhatikan penjelasan Encyclopedia Britannica 2000 tentang sejarah Natal, kata ‘Christmas’, dan asal usul tanggal 25 Desember dan perayaannya : “Alasan mengapa Natal sampai dirayakan pada tanggal 25 Desember tetap tidak pasti, tetapi paling mungkin alasannya adalah bahwa orang-orang Kristen mula-mula ingin tanggal itu bertepatan dengan hari raya kafir Romawi yang menandai ‘hari lahir dari matahari yang tak terkalahkan’ ...; hari raya ini merayakan titik balik matahari pada musim dingin, di mana siang hari kembali memanjang dan matahari mulai naik lebih tinggi di langit. Jadi, kebiasaan yang bersifat tradisionil yang berhubungan dengan Natal telah berkembang dari beberapa sumber sebagai suatu akibat dari bertepatannya perayaan kelahiran Kristus dengan perayaan kafir yang berhubungan dengan pertanian dan matahari pada pertengahan musim dingin. ... Tanggal 25 Desember juga dianggap sebagai hari kelahiran dari dewa misterius bangsa Iran, yang bernama Mithra, sang Surya Kebenaran”. Selanjutnya : “Tidak ada tradisi tertentu yang pasti tentang tanggal kelahiran Kristus. Para penghitung waktu Kristen dari abad ketiga percaya bahwa penciptaan dunia / alam semesta terjadi pada musim semi di saat siang dan malam sama lamanya, yang pada saat itu dianggap sebagai tanggal 25 Maret; karena itu penciptaan baru dalam inkarnasi (yaitu ‘pembuahan’ / mulai adanya janin Kristus) dan kematian Kristus harus terjadi pada hari yang sama, dengan kelahiranNya 9 bulan berikutnya pada titik balik matahari pada musim dingin, 25 Desember. ... Banyak orang memberikan teori bahwa hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari Surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari. ... Keadaan yang tepat tentang permulaan / asal usul hari Natal tetap kabur”. (Perhatikan kata-kat yang dicetak tebal). Alfred Edersheim memberikan informasi lain tentang tanggal 25 Desember : tanggal dari hari raya Penthabisan Bait Allah - bulan Kislew tanggal 25 - kelihatannya telah diadopsi oleh Gereja kuno sebagai tanggal kelahiran dari Tuhan kita yang terpuji - Natal - Penthabisan dari Bait Allah yang sejati, yang adalah tubuh dari Yesus (bdk. Yoh 2:19-22) – (The Temple, hal 334). Dengan demikian dari semua data, sekurang-kurangnya ada 4 pendapat di sekitar asal usul tanggal 25 Desember ini yakni : (1) hari raya Romawi yang memperingati titik balik matahari (2) hari lahir dari dewa bangsa Iran(3) ditentukan oleh para penghitung waktu Kristen (sekalipun dengan cara yang sangat tidak masuk akal). (4) hari raya pentahbisan Bait Allah. Dari sini nampak bahwa ada 2 pendapat yang menyatakan bahwa Natal (mungkin) berasal dari tradisi kafir (pandangan 1 & 2) dan ada 2 pendapat yang tidak menunjuk pada asal usul kafir (pandangan 3 & 4). Semua ini jelas menunjukkan bahwa asal usul tanggal 25 Desember sebagai hari Natal masih simpang siur dan tidak ada kepastiannya. Tetapi orang-orang anti Natal itu dengan berani/cerobohnya menuduh tanpa fakta yang pasti bahwa Natal berasal dari kekafiran. Saya kira mereka perlu belajar lebih banyak lagi.

Seandainya dari kafir

Sekarang, SEANDAINYA tanggal 25 Desember itu memang diadopsi dari hari raya kafir, kita masih harus memperhitungkan apa motivasi orang-orang Kristen pada saat itu untuk melakukan hal tersebut. Encyclopedia Britannica 2000 mengatakan bahwa ada teori yang mengatakan bahwa orang-orang Kristen mengadopsi tanggal itu supaya perayaan Natal menyaingi perayaan kafir tersebut. Untuk jelasnya saya mengutip ulang bagian itu : “Banyak orang memberikan teori bahwa hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari Surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari”. Baiklah saya juga kutipkan kembali dari tulisan saya tahun lalu : “Harus diingat bahwa perayaan Natal yang bertepatan dengan perayaan kafir itu bukan berarti bahwa umat Kristen waktu itu menyembah dewa-dewa kafir. Sebaliknya justru mereka ingin menjauhkan diri dari kekafiran. Perhatikan kata-kata Herlianto : “Pada tahun 274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember) karena diakhir musim salju matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Menghadapi perayaan kafir itu, umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara itu, namun dengan adanya kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen Roma masih merayakannya sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’ dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan ‘Natal.’ Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain”. (http://www.yabina.org/). Herlianto melanjutkan : “Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa matahari, namun usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa matahari kepada Tuhan Yesus Kristus dengan cara menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember, dengan maksud agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran Romawi. Masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa matahari, dan tanggal 25 Desember pun tidak lagi mengikat, sebab setidaknya umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman. Karenanya Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘from church year Christmas’ menulis : “...hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari. ...” Demikianlah asal usul perayaan Natal pada tanggal 25 Desember. (Esra Alfred Soru; Kapan Sesungguhnya Yesus Dilahirkan?; Timex, 23 Desember 2004). Jadi seandainya tanggal 25 Desember itu diadopsi dari asal-usul kafir, itu tidak berarti bahwa orang Kristen saat itu menyembah berhal kekafiran. Justru sebaliknya mereka membuat sebuah saingan bagi berhala kekafiran saat itu dengan memberikan makna baru bagi perayaan/tanggal tersebut. Hal yang mirip dengan itu adalah baik Nebukadnezar dan Artahsasta disebut dengan istilah ‘raja di atas segala raja’ (Dan 2:37 Ezra 7:12). Tetapi gelar dari raja kafir itu lalu diberikan kepada Yesus / Allah (1 Tim 6:15 Wah 17:14 Wah 19:16). Mengapa bisa demikian? The International Standard Bible Encyclopedia, vol II menyatakan : Gelar ‘Raja segala raja’ lebih menunjukkan otoritas mutlak dari pada keilahian sendiri, digunakan terhadap Allah dan Kristus dalam PB (selalu dengan ‘Tuhan segala Tuhan’: 1 Tim 6:15; Wah 17:14; 19:16). Penggunaannya merupakan suatu tanggapan baik oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen terhadap praktek pendewaan penguasa-penguasa politik duniawi (hal 508). Jadi rupanya pada jaman itu banyak raja duniawi disebut dengan istilah ‘raja di atas segala raja’. Orang-orang Kristen merasakan itu sebagai tidak tepat, dan mereka menganggap hanya Yesus / Allah yang pantas memakai gelar itu, dan mereka lalu memberikan gelar itu kepada Allah / Yesus, dan bahkan setiap kali gelar itu mereka berikan kepada Allah / Yesus, maka mereka menambahi dengan kata-kata ‘Tuhan atas segala Tuhan’. Jadi mereka menampilkan Yesus / Allah sebagai saingan terhadap raja-raja kafir yang didewakan oleh rakyat kafir mereka. Apakah ini juga mau kita anggap berasal dari kafir? Kalau mau dikatakan berasal dari kafir, memang jelas berasal dari kafir. Tetapi apakah kita mau menyalahkan motivasi mereka, yang sebetulnya bisa dikatakan sebagai ‘mulia’? Demikian juga, andaikata Natal memang diambil dari kafir, tetapi motivasinya adalah untuk menyaingi hari-hari raya kafir, itu adalah sesuatu yang ‘mulia’, dan bertujuan untuk memuliakan Tuhan.

Hal lain yang dapat saya tambahkan adalah bahwa dalam Kristen maupun dalam kehidupan kita sehari-hari ada banyak hal yang berasal dari kekafiran, tetapi tetap dipertahankan, setelah dibuang kekafirannya. Misalnya kata ‘Behold’ / ‘Lihatlah’ (dalam terjemahan Indonesia “sesungguhnya”) dalam Yes 7:14 diambil dari kekafiran dan diterapkan pada kelahiran Kristus. E. J. Young menulis : “‘Lihatlah!’ ... Kata itu juga muncul dalam teks-teks dari Ugarit. ... Di Ugarit kata itu telah digunakan untuk mengumumkan kelahiran allah-allah/dewa-dewa, makhluk-makhluk yang tidak mempunyai keberadaan yang merupakan sebagian dari jaringan takhyul yang meliputi dunia kafir kuno. Tetapi di bibir Yesaya, formula ini diangkat dari konteks kafir kunonya dan digunakan untuk mengajukan pengumuman tentang kelahiran dari satu-satunya ‘Makhluk’ yang sungguh-sungguh adalah Allah dan Raja”.- (The Book of Isaiah, vol I, hal 284-285). Kalau Yesaya boleh menggunakan kata yang berasal dari orang kafir dalam urusan berhala mereka, dan menggunakannya untuk menubuatkan kelahiran Kristus, mengapa orang Kristen jaman sekarang menolak Natal dengan alasan itu berasal dari orang kafir / penyembah berhala? Demikian juga dengan Yunani THEOS (Allah) mungkin juga berhubungan dengan kekafiran, seperti yang dikatakan oleh Bavinck : Dahulu dipercaya bahwa kata Yunani THEOS diturunkan dari TITHENAI, THEEIN, THEASTHAI. Pada saat ini beberapa ahli bahasa menghubungkannya dengan Zeus, Dios, Jupiter, Deus, Diana, Juno, Dio, Dieu. Ditafsirkan demikian, maka kata itu menjadi identik dengan kata Sansekerta ‘deva’, ‘langit / surga yang berkilau / bersinar’, dan berasal dari kata ‘div’ yang berarti ‘berkilau / bersinar’. Tetapi para ahli bahasa yang lain menyangkal semua hubungan asal usul kata antara kata Yunani THEOS dan kata Latin DEUS dan menghubungkan kata THEOS itu dengan akar kata THES dalam THESSASTHAI, yang berarti ‘menginginkan’, ‘meminta / memohon’ (The Doctrine of God, hal 98-99). Orang Kristen berbakti pada hari yang dalam bahasa Inggris disebut ‘Sunday’, yang berasal dari nama dewa. Apakah kita tidak boleh berbakti pada hari itu, karena hari itu menggunakan nama dewa, atau apakah kita sebagai orang-orang Kristen harus mengubah nama hari itu? Semua nama hari dalam bahasa Inggris dan juga nama-nama bulan seperti Januari, dan sebagainya, juga berasal dari nama-nama dewa atau dari nama-nama kaisar Romawi yang didewakan. Apakah kita sebagai orang-orang Kristen tidak boleh memakai nama-nama bulan itu? Bukankah seluruh Kanaan dulunya adalah negeri kafir yang dipenuhi dengan penyembahan berhala. Tetapi Tuhan mengambilnya dan memberikannya kepada bangsa pilihan-Nya, dan Kanaan lalu menjadi Holy Land, dan Bait Allah dibangun di sana? Bukankah bahasa Yunani juga merupakan bahasa bangsa kafir, tetapi lalu diambil dan digunakan sebagai bahasa asli dari Kitab Suci. Semua ini seharusnya membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa karena dunia ini dulunya seluruhnya kafir, adalah mustahil bagi kita untuk menghindari hal-hal yang berasal dari kekafiran. Jadi selama kekafiran itu bisa disaring / dibersihkan, tidak jadi soal dengan hal-hal yang asal usulnya kafir itu. Dengan demikian SEANDAINYA berlatar belakang kafirpun tidak ada salahnya kita merayakan Natal. Pada kenyataannya asal usul Natal tidaklah jelas dalam arti BELUM TENTU berasal dari kafir. Dengan demikian tuduhan kaum anti Natal sama sekali tidak berdasar.

Penutup / kesimpulan

Dari semua pembahasan ini jelas bahwa keberatan kaum anti Natal sama sekali tidak mempunyai dasar yang cukup kuat dan karenanya usul mereka agar perayaan Natal dihapuskan dari kekristenan juga tidak dapat diterima. Saya menganggap bahwa perayaan Natal itu sangat berguna karena Natal mengingatkan kita akan kasih Allah, mengingatkan kita akan karya Allah yang penting dalam sejarah umat manusia. Jadi perayaan Natal tetap penting dan perlu. Tetapi supaya perayaan Natal itu tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang tertentu, mari kita memurnikan perayaan Natal tersebut. Selalulah berhati-hati supaya tidak memasukkan unsur-unsur yang salah ke dalam perayaan Natal. Juga selalulah membuatnya berguna dan membangun, baik dengan memberitakan Injil, mengadakan acara untuk mengakrabkan, dan juga mengambil waktu secara pribadi untuk merenungkan kasih Tuhan pada Natal, supaya anda sendiri bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan melalui perayaan Natal tersebut. Selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012. 

MENJAWAB KEBERATAN KAUM “ANTI NATAL” - PART 2


MENJAWAB KEBERATAN KAUM “ANTI NATAL” (Part 2)
Yesus Tidak Dilahirkan Pada 25 Desember ?

Bagian Kedua Dari Tiga Tulisan

Kaum anti Natal juga menolak nerayakan Natal dengan alasan bahwa sesungguhnya Yesus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, tanggal kelahiran-Nya tidak diketahui. Lihatlah kutipan dari artikel ‘5 Alasan Mengapa Anak-Anak TUHAN Seharusnya Tidak Merayakan Natal’ berikut ini : Ensiklopedia manapun akan memberitahu saudara bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Ensiklopedia Katolik pun menyatakan fakta ini dengan jelas. Tanggal lahir Yesus TIDAK DIKETAHUI dengan pasti. Hampir tidak ada orang yang benar-benar percaya bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Semua itu merupakan dugaan orang-orang pada abad ke-4 dan ke-5 dan hampir setiap orang tidak sependapat dengan yang lainnya. Lihatlah dalam "Smith's Dictionary of Christianity Antiquities", vol. 1, halaman 358. Tetapi orang-orang tetap merayakannya. Tidak ada orang yang mengetahui apa-apa mengenai hari kelahiran-Nya. (www.st-andreas.org). Bandingkan ini dengan pendapat Herbert W. Armstrong dalam tulisannya “The Plain Truth About Christmas” : Di ensiklopedi mana pun atau juga di Kitab Suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini. Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan Kitab Suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur yang diperkirakan jatuh pada bulan September atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.www.geocities.com/pakguruonline/kebohongan_natal). Bagi kaum anti Natal, karena Allah tidak memberitahu kita tanggal kelahiran Kristus, atau karena Allah menyembunyikan tanggal kelahiran Kristus, itu merupakan bukti bahwa Ia tidak menghendaki kita untuk merayakannya. Perhatikan kata-kata Amstrong selanjutnya : Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya (ibid) dan bandingkan dengan kalimat berikut : ‘Jika TUHAN menginginkan orang-orang Kristen merayakan kelahiran-Nya, Dia pasti memberitahu KAPAN IA LAHIR! Jika TUHAN merencanakan supaya kita memperhatikan dan merayakan hari lahir Yesus, Ia tidak akan MENYEMBUNYIKAN tanggal yang sebenarnya! (5 Alasan Mengapa Anak-Anak TUHAN Seharusnya Tidak Merayakan Natal ; www.st-andreas.org). Karenanya menurut kaum anti Natal, kita berdusta kalau kita merayakan hari kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember. Brian Schwertley berikut ini : “Jika Allah memang menghendaki supaya orang-orang Kristen merayakan hari kelahiran-Nya, Dia tentu sudah memberitahu umat-Nya KAPAN KRISTUS DILAHIRKAN! Inilah suatu bukti bahwa jika ALLAH TELAH MERENCANAKAN agar supaya kita merayakan hari kelahiran Kristus, maka Ia tidak akan menyembunyikan tanggal kelahiran-Nya secara sempurna!”. (www.prcedm.netfirms.com). Ia melanjutkan: “Tahun demi tahun, para orang tua menghukum anak-anaknya jika mereka berbohong. Kemudian, pada saat Natal, mereka sendiri bercerita kepada anak-anaknya tentang kebohongan Sinterklas ini. Apakah mengherankan jika banyak dari mereka, setelah mereka tumbuh dewasa, mulai mempercayai Allah hanya sebagai sebuah dongeng? Apakah KEKRISTENAN mengajarkan kebohongan dan dongeng-dongeng kepada anak-anak kecil? Jika engkau sudah tidak mengajarkan kebohongan Sinterklas kepada anak-anakmu, lalu ingatlah, bahwa adalah SAMA BOHONGNYA jika engkau mengatakan kepada anak-anakmu bahwa Yesus dilahirkan pada hari Natal!”. (ibid). Demikianlah pandangan kaum anti Natal.

Kapan sesungguhnya Yesus dilahirkan?

Harus diakui bahwa sukar mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember bahkan sukar menetapkan dengan pasti tanggal kelahiran Yesus. Dari kutipan-kutipan di atas terlihat bahwa Herbert W. Armstrong memperkirakan tanggal kelahiran Kristus jatuh pada bulan September atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah. (www.geocities.com/pakguruonline/kebohongan_natal) sedangkan grup Saksi Yehovah memberikan tanggal 1 Oktober (www.watchtower.org) sebagai tanggal kelahiran Yesus. Baiklah saya kutip kembali tulisan saya dari harian Timor Express edisi Natal tahun lalu : “Tidak ada satu sumber pun yang mengacu pada tanggal tersebut. Kalau kita membaca Alkitab dengan seksama maka kita mempunyai satu acuan yang baik yakni dalam Luk 2:8 : “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”. Jadi waktu Yesus dilahirkan bertepatan dengan saatnya para gembala tinggal di padang untuk menjaga kawanan ternak. Dari fakta ini rasanya sulit untuk mengatakan bahwa kelahiran Kristus terjadi pada bulan Desember. Mengapa? Karena bulan Desember adalah musim dingin di Israel. (Catatan : Israel terletak pada garis lintang yang sejajar dengan Jepang dan Korea Selatan). Herlianto dalam website Yayasan Bina Awam (www.yabina.org) berkata : “Kelihatannya bulan dan tanggal itu (25 Desember) tidak tepat, soalnya pada bulan Desember – Januari, di Palestina, iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju, sehingga agaknya tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala bisa berada di padang Efrata dalam keadaan musim demikian (Luk.2:8), demikian juga tentunya kaisar Agustus tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh dalam suasana dingin yang mencekam sehingga Maria yang hamil mesti melakukannya”. Dengan demikian Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember. Klemens dari Alexandria juga pernah mengatakan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon (20 Mei) namun ini juga bukan suatu kepastian. Lalu bulan apa? Kita memiliki data lain dari Alkitab yakni waktu ketika Zakharia masuk ke Bait Allah dan bertugas di sana. Waktu itu berkisar bulan Siwan (Mei – Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun yakni di bulan Tishri (September – Oktober). Bulan ini sepertinya lebih dapat diterima daripada bulan Desember meskipun ini bukanlah suatu kepastian. (Esra Alfred Soru: “Kapan Sesungguhnya Yesus Dilahirkan?”; Timex, 23 Desember 2004). Jadi Yesus memang tidak mungkin dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Tanggal kelahiran Yesus tetap tidak pasti. (Catatan : Lalu mengapa Natal sekarang menjadi 25 Desember? Baca kembali tulisan saya “Kapan Sesungguhnya Yesus Dilahirkan?”; Timex, 23 Desember 2004).

Bukti Allah tidak menghendak iperayaan Natal?

Tanggal kelahrian Yesus memang tidak pasti. Sejauh ini kaum anti Natal benar. Namun hal yang perlu dipikirkan adalah benarkah kalau Allah tidak memberi tahu kita kapan Kristus dilahirkan merupakan suatu bukti bahwa Allah tidak menghendaki kita untuk merayakan/memperingatinya? Menurut saya: tidak! Kita memang tidak tahu kapan persisnya Yesus dilahirkan. Tidak ada orang yang tahu dengan pasti tanggal dan bulan kelahiran Kristus, dan mungkin bahkan tahun kelahiran-Nya. Tetapi itu belum bisa dijadikan suatu bukti bahwa Ia tidak menghendaki kita merayakan/memperingati kelahiran Kristus tersebut. Memang kadang-kadang Allah mengatur sesuatu supaya tidak diketahui oleh manusia, dan Ia melakukan ini karena Ia tidak menghendaki manusia untuk berurusan dengan hal itu. Misalnya dalam persoalan kubur dari Musa. Ini sengaja disembunyikan, karena mungkin Allah tahu bahwa seandainya bangsa Israel tahu tempat itu, mereka mungkin akan melakukan penyembahan terhadapnya. Tetapi tidak selalu seperti itu. Dalam PL Allah memperkenalkan nama-Nya kepada Musa (Kel 3:14-15), dan ini jelas menunjukkan bahwa pada saat itu Allah menghendaki orang-orang Israel untuk menggunakan nama itu asal tidak dengan sembarangan. Tetapi Allah mengatur sehingga jaman sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana mengucapkan nama Allah tersebut. Akibatnya, jaman sekarang orang Kristen menyebut-Nya sebagai TUHAN, LORD, YEHOVAH, YAHWEH, dsb, yang merupakan sebutan-sebutan yang belum tentu benar.

Sebetulnya, tanpa dijelaskanpun, ‘fakta sudah berbicara sendiri’ bahwa Natal memang tidak terjadi pada tanggal 25 Desember. Fakta jaman sekarang di mana banyak orang sudah merayakan Natal pada awal Desember, dan ada orang-orang yang masih merayakan Natal pada bulan Januari dan bahkan Februari, sudah menunjukkan kepada siapapun yang tidak membutakan dirinya, bahwa Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dan bahwa kita tidak mengetahui tanggal kelahiran-Nya. Tetapi kalau itu dirasa kurang cukup, maka dalam merayakannya, kita bisa menjelaskan hal itu kepada jemaat dan khususnya anak-anak Sekolah Minggu, bahwa itu sebetulnya bukan tanggal kelahiran yang sebenarnya, dan dengan demikian kita bukan mendustai orang sebagaimana tuduhan Brian Schwertley. Kita mungkin sering mendengar tentang orang kuno yang tidak mengetahui tanggal kelahirannya sendiri, dan karena itu keluarganya menciptakan tanggal kelahiran baginya, dan merayakannya setiap tahun pada tanggal tersebut. Apakah ini merupakan dusta? Mengapa keluarga tersebut tetap merayakan hari ulang tahun dari orang itu padahal mereka tidak mengetahui tanggal sebenarnya? Saya kira, karena kecintaan mereka terhadap orang itu, sehingga mereka ingin menunjukkan kasih yang khusus terhadap orang itu sedikitnya satu kali setahun. Hal ini tidak terlalu berbeda dengan Natal! Yang penting bukan saat kelahiran Kristus, tetapi fakta bahwa Ia sudah lahir untuk kita. Kita ingin membalas kasih-Nya sedikitnya sekali setahun, dengan merayakan hari kelahiran-Nya, pada hari yang kita sendiri tentukan.

Kebohongan kaum anti Natal

Menarik untuk menyimak kata-kata Brian Schwertley yang dikutip di atas. Ia menuduh perayaan Natal sebagai sebuah dusta atau kebohongan padahal kata-katanya sendiri mengandung dusta/fitnahan. (1) Ia mengatakan bahwa Natal merupakan suatu kebohongan yang sama dengan Sinterklaas. Pertanyaannya adalah apakah semua orang Kristen/gereja menggabungkan Natal dengan Sinterklaas? Belum tentu! Ada banyak orang yang merayakan Natal tanpa embel-embel Sinterklaas. Menganggap bahwa semua yang merayakan Natal pasti setuju dengan Sinterklass jelas merupakan fitnahan dan kebohongan. Memang saat ini ada orang yang merayakan/menyambut Natal dengan embel-embel Sinterklass (terutama took-toko, supermarket-supermarket dan stasiun-stasiun TV) tetapi itu jelas keliru. Saya juga tidak setuju hal itu! Mengapa? Karena meskipun Sinterklass (Santa Klaus) dianggap sebagai lambang semangat memberi hadiah khususnya untuk anak-anak, namun karena sifat pencampurannya dengan cerita-cerita magis kafir, misalnya kehadiran Santa Klaus yang penuh mujizat & naik kereta ditarik rusa terbang, dan peri bertongkat sihir dalam perayaan ‘Magic Christmas’, jelas tidak sesuai dengan semangat Natal. Perhatikan kata-kata Herlianto berikut ini : Mengenang maraknya perayaan Natal ... yang lebih menonjolkan figur Santa Klaus daripada figur Tuhan Yesus, sudah tiba saatnya umat Kristen sadar dan menempatkan dirinya lebih berpusat Injil dan berhati Tuhan Yesus, dan tidak makin jauh terpengaruh komersialisasi yang sudah begitu jauh sudah dimanfaatkan oleh toko-toko mainan, makanan & minuman, dan bisnis hiburan itu. (Santa Claus; www.yabina.org). Dari sini terlihat bahwa ada banyak orang yang merayakan Natal tetapi tidak setuju dengan tradisi Sinterklass. Karenanya menyamakan Natal dengan Sinterklass atau memakai kekeliruan/kesalahan tradisi Sinterklass dalam Natal untuk mengatakan bahwa Natal adalah kebohongan adalah sebuah kebohongan yang lain. (2) Ia mengatakan ‘Apakah mengherankan jika banyak dari mereka, setelah mereka tumbuh dewasa, mulai mempercayai Allah hanya sebagai sebuah dongeng?’. Ini juga jelas adalah tuduhan tak berdasar. Tuduhan itu jelas merupakan suatu exaggeration (tindakan melebih-lebihkan), dan sama sekali bukan merupakan suatu fakta/kebenaran. Siapa, yang karena dari kecil merayakan Natal, akhirnya tumbuh sebagai orang yang mempercayai bahwa Allah itu hanya sekedar dongeng? Dan kalau ada orang-orang seperti itu bagaimana mereka bisa membuktikan bahwa orang-orang itu mempercayai Allah sebagai dongeng karena mereka pada waktu kecilnya diajar merayakan Natal? Orang-orang yang anti Natal ini menuduh kita yang merayakan Natal telah berdusta, sementara mereka sendiri melakukan dusta seperti ini. Mungkin mereka sebaiknya memperhatikan kata-kata Yesus dalam Mat 7:1-5.

MENJAWAB KEBERATAN KAUM “ANTI NATAL” -PART 1


MENJAWAB KEBERATAN KAUM “ANTI NATAL” (Part 1)
Alkitab Menentang Perayaan Ulang Tahun ?

Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan

Sebentar lagi kita akan merayakan Natal. Ya, Natal memang selalu menarik perhatian kita, membahagiakan kita dan yang paling penting adalah bahwa Natal mengingatkan kepada kita salah satu peristiwa yang paling agung dalam sejarah umat manusia. Allah menjelma menjadi manusia, Allah menyamar menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Karenanya Natal perlu disambut dan dirayakan dan memang setiap tahun Natal disambut dan dirayakan oleh hampir seluruh umat Kristen di seluruh dunia dengan penuh sukacita. Namun demikian sepanjang sejarah ada juga orang-orang atau kelompok tertentu yang menolak merayakan Natal. Di antaranya adalah grup sesat Saksi Yehovah yang bukan saja beranggapan bahwa Natal itu kafir (The Watchtower, 15 Dec 1999, p.8) tetapi juga berasal dari setan. Natal adalah cara Iblis menyesatkan manusia (The Watchtower, December 15, 1983, p. 7). Heran memang bahwa kelompok Saksi Yehovah melarang perayaan Natal dan berpandangan seperti di atas padahal dulunya mereka merayakan Natal juga (The Watchtower Reprints, December 15, 1903, p. 3290 band. Edisi December 1, 1904, p. 3468) bahkan mereka menawarkan publikasi mereka sebagai hadiah Natal (The Watchtower Reprints, November 15, 1907, p. 4094). Kalau memang Natal itu dari setan, permisi tanya, apakah anggota Saksi Yehovah yang dahulu merayakan Natal semuanya masuk neraka? Ah, memang grup sesat yang satu ini ada-ada saja.

Namun demikian, beberapa tahun terakhir ini mulai muncul banyak golongan, aliran, gereja, pendeta dan kelompok Kristen yang mulai meniru grup Saksi Yehuwa ini dengan menolak merayakan Natal bahkan alasan-alasan yang mereka kemukakan persis sama dengan alasan-alasan dari Saksi Yehovah. Apa saja alasan mereka? Ada banyak, tapi saya hanya akan membahas beberapa di antaranya dalam rangkaian tulisan saya beberapa hari ini dan pada bagian pertama tulisan ini kita akan menyimak alasan pertama mereka yakni bahwa Alkitab menentang perayaan ulang tahun. Kita akan lihat nanti apakah alasan-alasan mereka itu masuk akal dan Alkitabiah? Kita juga akan lihat apakah semua kita yang merayakan Natal setiap tahunnya telah tersesat dan menjadi calon penghuni neraka?

Perayaan ulang tahun adalah tradisi kafir

Bagi kaum anti Natal, orang Kristen sebenarnya dilarang merayakan hari ulang tahun. Mengapa? Karena menurut mereka perayaan hari ulang tahun sebenarnya berasal dari kegiatan/tradisi kafir. Perhatikan apa yang dikatakan para Saksi Yehovah : “Tidak ada indikasi sama sekali dalam Alkitab bahwa para penyembah Yehovah yang beriman pernah terlibat dalam praktek kafir dengan merayakan hari ulang tahun (Aid to Bible Understanding, 1969 ed., p 237). Mereka juga menulis : “Menurut The World Book Encyclopedia, 'orang Kristen mula-mula tidak merayakan kelahiran [Yesus] karena mereka percaya bahwa merayakan ulang tahun seseorang adalah tanda kekafiran" (The Watchtower, April 15, 1995, p. 30). Dalam website mereka (www.watchtower.org) dikatakan bahwa : “Orang Kristen masa awal tidak merayakan hari ulang tahun. Kebiasaan merayakan hari ulang tahun berasal dari agama-agama palsu zaman purba. Orang Kristen sejati memberi hadiah dan bersukaria bersama pada waktu-waktu lain sepanjang tahun”. Lalu apa hubungannya ini dengan merayakan Natal? Karena Natal sama dengan ulang tahun/hari kelahiran Yesus. Merayakan Natal adalah merayakan ulang tahun/hari kelahiran Yesus. Karenanya merayakan Natal sama dengan melaksanakan praktek atau tradisi kafir. Di sini kita dapat melihat hubungan saling menyebabkan di mana karena perayaan ulang tahun dianggap kafir dan tidak perlu maka perayaan Natal juga demikian. Sebaliknya kalau perayaan Natal saja (kelahiran Yesus Kristus) tidak dirayakan maka kelahiran yang lain tidak perlu dirayakan. Simak apa yang dikatakan para Saksi Yehovah : “Jika kelahiran yang paling penting saja tidak dirayakan (pen. kelahiran Yesus), maka semua kelahiran tidak perlu dirayakan (The Watchtower, May 15, 1995, p. 19). Inilah alasan mengapa orang Kristen tidak boleh merayakan ulang tahun termasuk di dalamnya Natal.
Alasan lain yang dikemukakan untuk menentang praktek perayaan ulang tahun termasuk di dalamnya adalah Natal selain bahwa perayaan ulang tahun itu berasal dari praktek kafir, adalah bahwa dalam Alkitab perayaan ulang tahun hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya pada Allah seperti Firaun dan Herodes dan perayaan ulang tahun itu selalu berakhir dengan pembunuhan. Misalnya pada Ulang tahun Firaun, justru kepala juru roti di gantung. Kej 40:20-22 : ‘Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya : kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. Demikian juga dengan ulang tahun Herodes di mana Yohanes Pembaptis di penggal. Mat 14:6-11 : Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. (Lihat juga Mark 6 :21-28).

Salah satu tulisan kaum anti Natal di internet dengan judul ‘The Regulative Principle of Worship and Christmas”(www.prcedm.netfirms.com) yang ditulis oleh Brian Schwertley berbunyi demikian “Dan, lebih jauh, kita menemukan kebenaran ini diakui: … di dalam firman Allah, hanya orang-orang berdosa saja, bukan orang-orang percaya, yang merayakan hari kelahiran mereka”. Bandingkan ini dengan pendapat para Saksi Yehovah : “Kedua perayaan hari ulang tahun yang disebutkan dalam Alkitab diadakan oleh orang-orang yang tidak beribadat kepada Yehuwa. (Kejadian 40:20-22; Markus 6:21, 22, 24-27)” (www.watchtower.org). Schwertley melanjutkan : “perayaan ulang tahun yang dicatat dalam seluruh Alkitab hanyalah perayaan ulang tahun dari Firaun (Kej 40:20) dan raja Herodes (Mat 14:6; Mark 6:21). Kedua pesta ulang tahun itu berakhir dengan pembunuhan, pesta ulang tahun Herodes berakhir dengan pembunuhan Yohanes Pembaptis. Hal ini senada juga dengan pendapat Pdt. Jusuf .B.S. dari gereja Bukit Zaitun Surabaya (pengasuh majalah “TULANG ELISA”). Dalam bukunya yang berjudul ‘Tradisi & Kebiasaan’, hal 24-25, ia mengatakan : “Dalam Perjanjian Lama hanya Firaun yang merayakan HUT (Kej 40:20), sedangkan dalam Perjanjian Baru hanya Herodes (Mat 14:6). Ayub dan Yeremia justru mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:3 Yer 20:14). Demikianlah alasan dan argumentasi kaum anti Natal. Alkitab melarang perayaan ulang tahun. Karenanya merayakan Natal (ulang tahun Yesus) jelas sesat. Perayaan ulang tahun yang tercatat dalam Alkitab hanyalah perayaan orang-orang kafir dan berakhir dengan pembunuhan/kejahatan.

Tanggapan

Hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah bahwa ayat-ayat yang dikemukakan oleh kaum anti Natal tersebut (Kej 40:20-22; Mat 14:6-11 dan Mark 6 :21-28) sama sekali tidak berisi larangan apapun terhadap perayaan ulang tahun maupun Natal. Bahkan di seluruh Alkitab tidak ditemukan satu ayat pun yang melarang perayaan ulang tahun. Selain dari itu, pandangan kaum anti Natal (Saksi Yehovah, Pdt. Jusuf B.S, dkk) merupakan pandangan bodoh dan ekstrim. Keekstriman mereka ini terlihat dengan jelas pada waktu mereka secara implisit melarang seseorang merayakan hari ulang tahun (bukan hari ulang tahun Yesus saja, tetapi semua hari ulang tahun), dengan alasan bahwa dalam Alkitab hanya orang jahat yang merayakan hari ulang tahun. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya hermeneutika mereka begitu parah. Ya, sebuah metode penafsiran (hermeneutika) yang fatal. Dengan hermeneutika semacam ini maka seharusnya bukan hanya perayaan ulang tahun/Natal yang dilarang tetapi bisa diterapkan secara lebih luas pada berbagai hal dalam kehidupan kita. Misalnya orang Kristen dilarang untuk mencalak mata/alis, sebab dalam Alkitab hanya dilakukan oleh Izebel yang adalah orang jahat. (2 Raja 9:30 bdk Yeh 23:40). Orang Kristen dilarang untuk menjadi bendahara gereja karena dalam Alkitab hanya dilakukan oleh Yudas Iskariot (Yoh 12:6). Dalam Alkitab memang banyak orang menjadi ‘bendahara negara’ tetapi tidak ada bendahara ‘gereja’, kecuali Yudas Iskariot. (Maka kacaulah keuangan gereja). Orang Kristen dilarang untuk disunat pada usia 13 tahun, karena dalam Alkitab hanya Ismael yang mengalami hal itu (Kej 17:25). Seorang laki-laki dilarang memasakkan makanan untuk ayahnya, karena dalam Alkitab hanya Esau yang melakukan hal itu (Kej 27). Orang Kristen tidak boleh mencucuk daging dengan garpu bergigi 3, karena dalam Alkitab hanya bujang dari Hofni dan Pinehas yang melakukannya (1 Sam 2:13). Seorang raja / presiden tidak boleh berpidato di hadapan pendukung / rakyatnya, karena dalam Alkitab hanya Herodes yang melakukan hal itu (Kis 12:20-23). (Pemilhan umum bisa kacau). Orang Kristen tidak boleh mandi di sungai karena dalam Alkitab hanya puteri Firaun yang melakukannya (Kel 2:5). Naaman bukan mandi, tetapi hanya membenamkan diri di sungai untuk mentahirkan kustanya sesuai dengan perintah Elisa. (maka celakalah yang tinggal di kampung). Begitukah? Di sini nampak bahwa hermeneutika kaum anti Natal sangat lemah dan fatal. Bukankah dengan cara menafsir semacam itu maka ada lebih banyak hal yang tidak boleh dilakukan? Lalu mengapa mereka hanya melarang perayaan ulang tahun dan Natal? Mengapa mereka tidak melarang orang mandi di sungai? Mengapa mereka tidak melarang para pemimpin berpidato? Mengapa mereka tidak melarang pemilihan bendahara gereja? Kok hanya ulang tahun dan Natal yang dilarang? Sungguh sebuah inkonsistensi!

Satu hal yang perlu dipikirkan dengan serius adalah apakah orang Kristen sama sekali tidak boleh melakukan sesuatu hal hanya karena hal itu telah dilakukan oleh orang kafir? Camkanlah, bahwa orang kafir melakukan sesuatu, tidak berarti bahwa orang Kristen tidak boleh melakukan hal itu. Hanya kalau orang kafir melakukan sesuatu yang dilarang oleh Tuhan, barulah orang Kristen dilarang untuk meniru mereka. Tetapi menyalahkan untuk meniru orang kafir pada saat ia melakukan hal-hal, yang dalam dirinya sendiri tidak bisa dikatakan sebagai dosa, seperti mandi, makan, belajar, dan juga merayakan hari ulang tahun / pernikahan dsb, merupakan suatu fanatisme picik dan ekstrim! Andika Gunawan menulis : “Hanya karena Firaun dan Herodes melakukan kejahatan di hari ulang tahun mereka, tidak berarti semua ulang tahun adalah salah. Banyak orang bersukacita pada hari kelahiran Yohanes Pembaptis. Luk 1:13 Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu” (Saksi-Saksi Yehuwa; Bab. VII, hal. 5).

Lalu bagaimana dengan argumentasi Pdt. Jusuf B.S tentang Ayub dan Yeremia yang justru mengutuki hari kelahirannya? Di sini nampak bahwa hermeneutika Pdt. Jusuf B.S. kacau balau. Ayub dan Yeremia mengutuki hari kelahirannya karena penderitaan yang mereka alami. Jadi, saking menderitanya, mereka berharap mereka tidak pernah dilahirkan, dan itu mereka nyatakan dengan mengutuki hari kelahiran mereka. Jadi kalau ayat-ayat seperti ini dipakai sebagai dasar untuk menentang perayaan hari ulang tahun dan Natal benar-benar adalah suatu pengutipan ayat yang ‘out of context’, (keluar dari konteks) dan lagi-lagi merupakan suatu metode penafsiran yang sangat kacau. Dengan demikian keberatan pertama dari kaum anti Natal ini sama sekali tidak Alkitabiah sekaligus tidak konsisten.

Monday, December 12, 2011

KASIH Vs KEMUNAFIKAN

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.”
(Rm. 12:9)


Surat Roma adalah salah satu kitab di dalam Alkitab yang paling berpengaruh di dalam sejarah gereja. Bapa Gereja Augustinus bertobat setelah membaca surat ini. Begitu juga reformator, Dr. Martin Luther kembali menemukan kebenaran bahwa manusia dibenarkan melalui iman pun ketika dia menyelidiki Surat Roma. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus kira-kira pada tahun 55 atau 56 Masehi. (The Wycliffe Bible Commentary Vol. 3, 2008, hlm. 509) Surat ini ditujukan kepada orang Yahudi dan Yunani yang tinggal di Roma dan berisikan dasar-dasar iman Kristen tentang Allah, kesucian-Nya, dosa manusia, keselamatan di dalam Kristus, pengudusan, dan kehidupan Kristen sebagai aplikasi doktrin yang telah mereka pelajari. Biasanya surat ini dibagi menjadi 2 bagian pembahasan, yaitu: pembahasan doktrin (Rm. 1 s/d 11) dan pembahasan aplikasi dari doktrin (Rm. 12 s/d 16). Pada bagian pertama yaitu di Roma 1 s/d 11, Rasul Paulus membahas doktrin dosa dan keselamatan dengan menelusuri Perjanjian Lama dan diakhiri dengan suatu kesimpulan final bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah, bagi Dia kemuliaan selama-lamanya (Rm. 11:36). Kesimpulan tersebut merupakan kesimpulan tentang sangat agungnya keselamatan yang telah Allah berikan bagi umat-Nya dan tentu saja kesimpulan ini juga berlaku bagi seluruh kehidupan Kristen yang seharusnya memusatkan hidup mereka pada anugerah dan kemuliaan-Nya. Oleh karena itulah, konsep bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah diimplikasikan oleh Paulus di dalam seluruh aspek kehidupan Kristen sehari-hari. Implikasi ini dimulai dari konsep ibadah sejati yang menyeluruh yang berpusat pada Allah di Roma 12:1-2. Di dalam ibadah tersebut, kita sebenarnya sedang melayani Allah. Oleh karena itu, kemudian, ia mengimplikasikan konsep kemuliaan Allah di dalam pelayanan yang saling melengkapi di dalam Kerajaan Allah di Roma 12:3-8. Di dalam pelayanan pun, salah satu unsur yang perlu diperhatikan adalah kasih. Tanpa kasih, tidak mungkin ada orang yang mau melayani. Tanpa kasih pula, pelayanan kita tidak akan benar-benar memuliakan-Nya, karena pelayanan kita akan dikuasai oleh semangat kompetisi dan keegoisan. Karena alasan itulah, Paulus menjelaskan ulang konsep kasih yang berpusat kepada Allah mulai ayat 9 s/d 20. Pada kali ini, kita tidak akan membahas keduabelas ayat tersebut, namun hanya mengkhususkannya di ayat 9 sebagai bahan renungan kita tentang kemunafikan, lalu bagaimana kita bisa keluar dari kemunafikan kita dengan kembali kepada kasih yang berpusat pada Allah.




Bukan suatu kebetulan, Rasul Paulus mendefinisikan tentang kasih dengan mengaitkannya pertama-tama dengan kepura-puraan atau kemunafikan. Di ayat 9, ia mengajar, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Di dalam terjemahan Yunani, kata “hendaklah” tidak ditemukan, namun di dalam beberapa terjemahan Inggris, kata ini diterjemahkan let (=biarlah) dan ada juga terjemahan Inggris lain yang tidak menerjemahkannya. Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa ayat ini adalah berupa nasihat/dorongan (exhortation). Tentunya karena ini merupakan nasihat/dorongan, maka ini bukan paksaan. Lalu, setelah “hendaklah”, Paulus menyambung dengan kata “kasih.” Kasih apakah yang Paulus maksudkan? Bahasa Indonesia tidak jelas mendefinisikannya, begitu juga bahasa Inggris. Ketika kita menyelidiki bahasa Yunaninya, kata yang dipergunakan adalah agapē yang berarti unconditional love (kasih yang tidak bersyarat) dan jenis kasih ini adalah kasih yang tertinggi yang hanya pantas diperuntukkan untuk kasih Allah bagi umat-Nya.




Dari penjelasan di atas, kita belajar bahwa kasih agapē ini BUKAN suatu keharusan yang memaksa, tetapi suatu nasihat yang membebaskan. Mengapa demikian? Karena kasih dan mengasihi (konteks: agapē) merupakan suatu hal yang keluar dari hati yang terdalam. Allah mengasihi manusia dengan kasih agapē dan kasih ini telah ditunjukkan-Nya dengan sempurna melalui karya penebusan Kristus di kayu salib. Kasih agapē tersebut keluar dari hati Allah yang terdalam dan termurni. Seorang Kristen yang telah dikasihi dan ditebus-Nya seharusnya merespons kasih-Nya tersebut dengan mengasihi Allah dan sesama dengan kasih yang tak bersyarat atau kasih yang murni. Jangan pernah memaksa seseorang untuk mengasihi orang lain apalagi memaksa seseorang mengasihi Allah, karena itu tidak akan berguna apa-apa, bahkan mungkin sekali orang yang kita paksa untuk mengasihi itu memiliki kasih yang pura-pura. Oleh karena itu, maka Paulus melanjutkan, “kasih itu jangan pura-pura!” Pernyataan “jangan pura-pura” memiliki beragam arti di dalam terjemahan Inggris maupun bahasa Yunaninya. English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “Let love be genuine.” (=biarlah kasih itu sungguh-sungguh) International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “Your love must be without hypocrisy.” (=Kasihmu harus tanpa kemunafikan.) King James Version (KJV) menerjemahkannya, “Let love be without dissimulation.” (=Biarlah kasih itu tanpa topeng/berpura-pura.) New International Version (NIV) menerjemahkannya, “Love must be sincere.” (=Kasih harus tulus.) Terjemahan Indonesia dari teks Yunaninya adalah “Kasih itu bukan yang berpura-pura.” (Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, 2006, hlm. 864) Dari beragam terjemahan ini, kita mendapatkan penjelasan bahwa kasih itu tidak boleh berpura-pura atau kasih itu tidak boleh munafik. Apa itu munafik? Mengapa dikontraskan dengan kasih? Mari kita menyelidikinya.




Menurut NIV Spirit of the Reformation Study Bible, kata “munafik” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai hyprocrisy berasal dari kata hypocrites (aktor) di dalam drama Yunani kuno yang menggunakan topeng. Dengan kata lain, si hipokrites/aktor yang bermain dalam drama ini menggunakan topeng. Nah, melalui ayat ini, Paulus hendak mengajar jemaat Roma dan kita bahwa kasih agapē bukanlah kasih yang bertopeng seperti demikian. Ketika kita berbicara mengenai topeng, kita sebenarnya berbicara mengenai kepalsuan. Di dalam dunia yang kita hidupi ini, sudah terlalu banyak kepalsuan yang kita tonton dan perhatikan. Mulai dari film, drama, dll, kita menjumpai beraneka ragam kepalsuan. Tidak jarang di dalam dunia realitas, kita menjumpai kepalsuan ini bahkan di dalam diri banyak orang Kristen. Mereka aktif ke gereja, suka menghadiri seminar dan acara-acara rohani, namun mereka hidup di dalam kepalsuan. Atau dengan kata lain, mereka bermuka dua. Di hadapan semua orang, orang seperti ini bisa kelihatan baik, alim, dll, tetapi ketika tidak ada orang yang memperhatikan, ia bisa berlaku sebaliknya. Di hadapan orang tertentu, ia bisa menyanjung orang tersebut, namun sayangnya, ketika orang tertentu itu telah pergi, ia bisa mengata-ngatai orang tertentu kepada orang lain. Ya, hidup di dalam topeng berarti hidup di dalam kepalsuan dan hidup di dalam kepalsuan ditandai dengan bermuka dua. Tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa bisa demikian?




Ada beberapa alasan mengapa orang (bahkan banyak orang “Kristen”) munafik:
1. Tidak Rendah Hati
Seorang Kristen yang munafik pertama-tama harus diragukan status Kekristenannya. Dengan kata lain, apakah benar seorang Kristen yang munafik benar-benar seorang pengikut Kristus sejati ataukah sebenarnya orang “Kristen” palsu (meminjam istilah Pdt. Dr. Stephen Tong, anak setan yang masih indekos di dalam gereja)? Dengan mengatakan hal ini, saya TIDAK bermaksud langsung menghakimi bahwa orang “Kristen” munafik pasti bukan anak Tuhan sejati. Mungkin sekali ada orang Kristen sungguh-sungguh yang munafik, tetapi jikalau itu pun ada, kemunafikan itu tidak akan berlangsung lama, karena Roh Kudus akan terus-menerus memurnikan hidupnya. Kembali, mengapa saya bisa berkata bahwa orang “Kristen” munafik adalah orang “Kristen” palsu? Mari kita lihat perbedaannya. Orang Kristen yang sungguh-sungguh adalah orang Kristen yang rendah hati. Orang disebut Kristen BUKAN dilihat dari seberapa dia aktif ke gereja atau mengikuti acara rohani, tetapi dilihat dari sampai seberapa rendah hatinya ia di hadapan Allah dan kebenaran firman-Nya. Kerendahan hati itu ditunjukkan dengan keterbukaan hatinya untuk mau dikoreksi oleh firman dan otomatis berkomitmen menjalankan firman Tuhan tersebut di dalam setiap aspek kehidupannya. Saya menyebutnya sebagai: TAAT DI DALAM PROSES PENGUDUSAN ROH KUDUS. Artinya, kerendahan hati membuahkan sikap taat dan itu bisa dimungkinkan melalui pencerahan dan pengudusan yang Roh Kudus kerjakan di dalam hati umat pilihan-Nya. Sedangkan orang “Kristen” palsu adalah orang yang tidak rendah hati, namun sombong. Kesombongannya itu mengakibatkan ia dengan mudahnya mengkritik bahkan menghakimi beberapa khotbah dan pengajaran firman yang bertanggungjawab hanya karena itu tidak cocok dengan dirinya (bukan karena tidak sesuai dengan Alkitab). Atau mungkin sekali ia meng“amin”i semua khotbah dan pengajaran yang didengarnya, namun sayang ia TIDAK mau rendah hati mengoreksi kesalahan dan mengaplikasi khotbah tersebut. Jangan heran, khususnya, seorang muda Kristen (bahkan mungkin anak majelis/tua-tua/hamba Tuhan) bisa dengan mudahnya meng“amin”i khotbah yang mengajar bahwa carilah pasangan hidup yang seiman, namun secara praktik hidup, ia dengan mudahnya menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis yang berbeda iman (dengan alasan: “cocok” dengan lawan jenis tersebut). Bagaimana dengan kita? Jangan menuduh orang lain munafik, tetapi introspeksi diri kita masing-masing terlebih dahulu, masihkah kita munafik? Jika ya, berhati-hati dan bertobatlah.


2. Tidak Suka Kebenaran
Orang “Kristen” bisa munafik mungkin sekali karena ia tidak suka Kebenaran. Kalau di poin pertama, orang “Kristen” munafik saya sebut sebagai “Kristen” palsu yang tidak rendah hati, maka di poin kedua, sikap tidak rendah hati ini menghasilkan suatu sikap yang tidak suka Kebenaran. Mengapa ia tidak suka Kebenaran? Karena baginya, pertama, Kebenaran itu idealisme yang terlalu tinggi dan di awang-awang serta tidak mungkin diwujudnyatakan dalam kehidupan dunia ini. Tidak heran, karena pikiran ini, maka orang “Kristen” munafik bisa hidup mendua hati. Jika di gereja, ia akan meng“amin”i khotbah yang mengajarkan tentang pentingnya hidup kudus, jujur, taat, setia, dll, tetapi setelah keluar gereja, ia kembali ke hidup aslinya yang tidak karuan, gemar berdusta, dll. Benarkah kebenaran itu hanya idealisme kosong dan tidak bisa diwujudnyatakan? TIDAK! Yang kita perlukan bukan bagaimana menghidupi Kebenaran itu dalam waktu singkat, namun yang kita perlukan adalah bersediakah kita dengan rendah hati taat menghidupi Kebenaran itu? Dan ketaatan itu BUKAN suatu proyek singkat, namun proyek yang membutuhkan waktu yang sangat lama, karena ketaatan itu adalah sebuah PROSES. 

Kedua, Kebenaran itu tidak enak dan perlu bayar harga untuk itu. Tuhan Yesus sudah mengajar hal demikian, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 16:24; bdk. 10:38) Rasul Paulus juga mengajar hal serupa kepada anak rohaninya, Timotius di dalam 2 Timotius 3:12, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,” Tidak ada bagian Alkitab yang mengajarkan bahwa ikut Kristus pasti kaya, sukses, berkelimpahan, makmur, selalu sehat, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Itu jelas bukan ajaran Alkitab! Namun, sayangnya, begitu banyak orang “Kristen” dengan mudahnya ditipu oleh ajaran-ajaran yang tidak bertanggungjawab demikian. Sehingga jangan heran orang “Kristen” demikian hidup mendua hati. Jika di gereja, ia bisa dengan bangganya mengaku diri “Kristen”, namun ketika bahaya mengancam nyawanya, mungkin sekali ia menyangkal imannya dan mengatakan bahwa dirinya bukan Kristen. Itu yang sering saya dengar pada beberapa atau bahkan banyak orang Kristen ketika berhadapan dengan bahaya nyawa pada kerusuhan Mei 1998. Sungguh mengerikan kemunafikan demikian. Terhadap orang “Kristen” demikian, Tuhan Yesus berfirman, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."” (Mat. 10:32-33)


3. Melihat Kemunafikan Orang “Kristen” Lainnya
Alasan ketiga orang “Kristen” bisa munafik adalah karena ia sendiri melihat orang “Kristen” lainnya munafik. Jika ada orang “Kristen” lain atau bahkan beberapa pemimpin gereja munafik, orang “Kristen” ini akan langsung mengambil sikap serupa. Lalu, kalau orang ini ditanya oleh orang lain mengapa dia munafik, dia akan berargumentasi bahwa dia bersikap munafik karena orang lain bahkan pemimpin gereja munafik. Berarti, kemunafikan dirinya lebih disebabkan oleh pihak luar/eksternal, ketimbang internal. Jika hal demikian yang terjadi, maka orang yang munafik ini sudah berdosa dobel. Pertama, dia munafik. Kedua, dia munafik dan menyalahkan orang lain munafik yang mempengaruhi sikapnya yang munafik. Jadi, istilahnya, dia tidak mau disalahkan (karena sikapnya yang munafik) dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, padahal orang Kristen bertugas menjadi saksi Kristus yang mempengaruhi dunia luar, bukan dipengaruhi oleh dunia luar.

Di sisi lain, ini juga menjadi teguran bagi orang Kristen yang sungguh-sungguh namun masih hidup di dalam kemunafikan. Kalau kita sungguh-sungguh mengaku telah beriman kepada Kristus, seharusnya kita tidak lagi hidup munafik dan kita terus-menerus berkomitmen untuk menjadi garam dan terang bagi dunia sekitar, sehingga melalui sikap kita, orang lain bahkan orang Kristen lain diberkati dan memuliakan Tuhan. Ini juga menjadi teguran bagi saya pribadi.




Jika kita telah mengerti alasan kemunafikan, lalu bagaimana orang Kristen bisa keluar dari sikap hidup munafik? Kembali ke ayat 9a, Paulus mengatakan bahwa KASIH itu TIDAK MUNAFIK. Berarti jalan keluar dari sikap hidup kemunafikan adalah kembali kepada KASIH AGAPE! Di dalam kasih, tidak ada kemunafikan. Artinya, di dalam kasih, selain harus ada Kebenaran, juga ada kemurnian, ketulusan, kejujuran, dan kesetiaan. Rasul Paulus juga mengajar hal serupa kepada Timotius di dalam 1 Timotius 1:5 tentang pentingnya nasihat di ayat 3-4, “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Kata “kasih” di ayat 5 ini di dalam KJV diterjemahkan charity (=amal/kebajikan) dan bahasa Yunaninya JUGA menggunakan kata agapē. “Hati yang suci” di ayat 5 ini diterjemahkan oleh KJV sebagai, “pure heart” (=hati yang bersih/murni) dan kata Yunani untuk pure ini adalah katharos yang berarti bersih, jernih/jelas (clean, clear). Lalu, bagaimana kita memiliki kasih agapē yang murni tersebut?




Di ayat 9b, Paulus menjelaskan bahwa di dalam kasih agapē yang murni tersebut terkandung dua sikap:
1. Membenci yang Jahat
Di ayat 9b, bagian pertama, Paulus mengajar, “Jauhilah yang jahat” Kalau kita memperhatikan terjemahan Indonesia ini, seolah-olah kita mendapatkan gambaran bahwa kasih yang murni itu hanya MENJAUHI yang jahat. Terjemahan Indonesia ini kurang tepat artinya dan cenderung masih terlalu lembut bahasanya. Jika kita membandingkan terjemahan Indonesia ini dengan terjemahan Inggris dan teks asli Yunaninya, kita mendapatkan pengertian yang lebih tegas dan jelas. Analytical-Literal Translation (ALT), 1889 Darby Bible, English Majority Text Version (EMTV), ESV, ISV, KJV, Revised Version (RV), 1833 Webster Bible, 1898 Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkan “jauhilah” ini dengan kata abhor (=sangat membenci). Terjemahan lain untuk kata “jauhilah” ini adalah hate (=membenci) dan terjemahan ini dipakai oleh James Murdock New Testament, 1965 Bible in Basic English (BBE), Bishops’ Bible 1568, God’s Word, Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), dan NIV. Kata Yunani yang dipakai di sini adalah apostugeō dan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia diterjemahkan, “Bencilah.” Dan di dalam struktur bahasa Yunani, kata ini menggunakan bentuk aktif dan present. Dari studi kata ini, kita mendapatkan penjelasan bahwa kasih yang murni adalah kasih yang MEMBENCI kejahatan secara aktif dan sekarang. Artinya:
Pertama, kasih bukan hanya MENJAUHI kejahatan (bukan hanya mengenai jauh atau dekat), tetapi kasih yang murni adalah kasih yang benar-benar MEMBENCI kejahatan. Kasih yang membenci kejahatan artinya kasih yang TIDAK mau melihat kejahatan sedikitpun. Hal ini sangat berbeda total dari konsep dunia tentang kasih. Dunia kita (tidak jarang termasuk banyak orang Kristen di dalamnya) mendefinisikan kasih sebagai tindakan yang mengasihi kejahatan bahkan bersuka di dalam kejahatan tersebut. Tidak heran, free-sex, dianggap sah, normal, bahkan para pelakunya bersuka di dalam tindakan-tindakan tersebut. Namun, Alkitab memiliki definisi yang teragung mengenai kasih yang murni, yaitu kasih yang membenci kejahatan. Atau saya berani menafsirkan: KASIH yang MURNI adalah KASIH yang JIJIK terhadap kenajisan. Mengapa kita bisa membenci alias jijik terhadap kejahatan/kenajisan? Karena kita adalah anak-anak Allah yang mengasihi kesucian hidup sebagaimana yang Allah sendiri perintahkan melalui Rasul Petrus, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1Ptr. 1:14-16) 

Kedua, kasih yang MEMBENCI kejahatan dilakukan secara AKTIF. Kasih yang membenci kejahatan bukan dilakukan secara pasif, yaitu menunggu sampai kejahatan itu benar-benar mencobai kita. TIDAK! Justru, kita secara AKTIF membenci kejahatan baik kejahatan itu PASIF maupun AKTIF mencobai kita. Berarti, ada suatu langkah MAJU dan BERANI di dalam sikap kita dalam MEMBENCI kejahatan. Hal ini sama seperti yang dipaparkan oleh Rasul Petrus ketika berbicara mengenai si setan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1Ptr. 5:8-9) Kata “sadarlah”, “berjaga-jagalah”, dan “lawanlah” di dalam kedua ayat ini (8-9) di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk AKTIF. Berarti, kita bukan diperintahkan PASIF terhadap kejahatan/setan, tetapi AKTIF. Dengan kata lain, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, kita sebagai orang Kristen yang beres TIDAK dipanggil hanya untuk menjawab tantangan/serangan zaman/setan, tetapi untuk MENANTANG zaman agar kembali kepada Kebenaran!
Lalu, bagaimana kita mewujudnyatakan kasih yang membenci kejahatan secara aktif ini? Caranya adalah dengan TIDAK terikat pada kejahatan atau apa pun yang jahat yang memisahkan kita dari Allah dan juga kita menegur sesama saudara seiman atau orang lain agar tidak terikat juga. Berarti: Pertama, kita memberlakukan “membenci kejahatan” itu pada diri kita sendiri terlebih dahulu. Kita membenci kejahatan dengan TIDAK terikat pada kejahatan apa pun yang memisahkan kita dari Allah. Caranya adalah, seperti yang dipaparkan Paulus di ayat-ayat sebelumnya (Rm. 12:1-2), kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah yang ditandai dengan pembaharuan akal budi kita. Ketika kita mempersembahkan tubuh kita untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya (melalui pembaharuan akal budi kita), maka pada saat yang sama, melalui proses pengudusan yang Roh Kudus kerjakan, kita tidak akan lagi terikat pada kejahatan yang mendukakan hati-Nya. Berarti fokus kepada Allah mengakibatkan kita tidak lagi berfokus kepada hal-hal yang jahat. Kedua, kita pun dipanggil untuk menyadarkan sesama saudara seiman/orang lain agar mereka juga tidak terikat. Berarti kita bukan hidup egois yang hanya memperhatikan kepentingan kita, tetapi kita juga mengingat orang lain akan bahaya kejahatan itu. Bagaimana kita dapat menyadarkan mereka? Caranya adalah dengan menegur mereka agar mereka juga tidak terikat pada kejahatan. Di dalam Alkitab, Paulus menegur Petrus yang munafik (Gal. 2:11-14). Jelas tujuan teguran itu BUKAN untuk mempermalukan Petrus atau membuktikan Paulus lebih hebat dan rohani ketimbang Petrus, tetapi motivasi dan tujuannya agar Petrus bertobat dari kemunafikan itu dan kembali kepada jalan yang benar. Berarti di dalam suatu teguran, yang diperhatikan adalah isi teguran beserta motivasi, cara, dan tujuan yang beres. Kepada Timotius yang ditugasi Paulus untuk melayani jemaat bersama, Paulus menasihatkan Timotius, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim. 4:2) Selain memberitakan firman, di dalam pelayanan, Paulus juga mengingatkan Timotius untuk tidak lupa menegur jemaat. Berarti, teguran tetap diperlukan bagi orang Kristen/jemaat agar mereka juga bertobat. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menegur diri kita sendiri dan orang lain demi pertumbuhan masing-masing anggota tubuh Kristus ke arah Kristus? Ingatlah, jangan sungkan-sungkan menegur dan biarkan Roh Kudus sendiri yang bekerja di dalam teguran itu untuk menyadarkan kita maupun orang lain.


2. Melekat Pada yang Baik
Bukan hanya membenci kejahatan, kasih yang murni juga melekat pada yang baik. Terjemahan Indonesia, “lakukanlah yang baik.” Kata “lakukanlah” di dalam KJV diterjemahkan cleave (=berpegang erat/setia pada). Di dalam NIV dan ISV diterjemahkan cling (=mendekat/menempel) dan terjemahan Indonesia dari teks Yunaninya adalah bergabunglah dengan (yang baik). Kedua bagian ini, yaitu membenci yang jahat dan melekat pada yang baik saling berkaitan. Kasih yang murni adalah kasih yang MEMBENCI yang jahat dan sekaligus setelah itu langsung MELEKAT pada yang baik. Apa arti “baik” di dalam bagian ini? Kata “baik” dalam ayat 9b ini dalam bahasa Yunaninya agathos berarti good, well (baik, bagus). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Konkordansi Perjanjian Barunya menerjemahkan agathos sebagai baik, baik hati, jujur, berguna. Jika kita membaca kembali ayat-ayat sebelumnya, yaitu di ayat 2, maka kita mendapatkan penjelasan utuh tentang konsep baik di dalam ayat 9b ini. Di Roma 12:2, Paulus mengajarkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata “baik” di ayat 2 ini dalam bahasa Yunani sama dengan kata “baik” di ayat 9b. Berarti, BAIK bukan hanya BAIK secara standar moral saja, tetapi BAIK dikaitkan dengan: kehendak Allah, berkenan kepada Allah (menyenangkan Allah), dan sempurna. Dengan kata lain, melekat pada/bergabung dengan yang baik berarti bergabung dengan yang baik, berguna, berkenan kepada Allah, menyenangkan-Nya, dan sempurna. Setelah bergabung, tentu orang Kristen dituntut untuk menjalankannya. Berarti, makna bergabung, bukan hanya sekadar bergabung seperti bergabung di dalam sebuah anggota kelompok, tetapi juga berpartisipasi di dalamnya.

Bergabung dengan/melekat pada yang baik ini di dalam struktur bahasa Yunaninya menggunakan bentuk PASIF. Mengapa PASIF? Karena posisi kita yang bergabung dengan kebaikan itu BUKAN posisi aktif yang berasal dari diri kita, tetapi PASIF, karena Allah yang menarik kita kepada kebaikan itu. Inilah bedanya theologi yang menekankan kedaulatan dan anugerah Allah vs theologi yang terlalu menekankan tanggung jawab manusia. Theologi yang berpusat pada Allah adalah theologi yang melihat segala sesuatu dari perspektif anugerah dan kedaulatan Allah yang membawa manusia mengenal kebenaran dan kebaikan, sedangkan theologi yang berpusat pada manusia selalu melihat kehebatan manusia yang secara aktif mencari Allah dan melekat pada kebenaran dan kebaikan secara sendiri. Kembali, ketika kita bisa melekat pada yang baik itu terjadi karena anugerah Allah yang begitu agung, karena tanpa anugerah-Nya, kita tidak mungkin menyukai apa yang benar dan baik.




Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda memiliki kasih yang murni yang: MEMBENCI kejahatan dan MELEKAT pada yang baik demi hormat dan kemuliaan nama-Nya? Jika belum, sudah saatnya Anda bertobat dan kembali kepada-Nya. Jika sudah, teruslah perbaharuilah komitmen Anda di hadapan-Nya dan jangan lupa untuk mengingatkan orang lain/saudara seiman lain supaya mereka juga memiliki kasih yang murni. Kiranya Tuhan memberkati komitmen hati kita dan pelayanan kita di hadapan-Nya. Amin.