HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Saturday, January 28, 2012

Soalan: Bangaimana dengan Kejadian 1:26 yang menuliskan kata 'Kita' dalam penciptaan manusia. Apakah Allah lebih dari satu?

JAWAB :


* Kejadian 1:26
LAI TB, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 
KJV, And God said, Let us make man in our image, after our likeness: and let them have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over the cattle, and over all the earth, and over every creeping thing that creepeth upon the earth.
Hebrew, 
וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים נַעֲשֶׂה אָדָם בְּצַלְמֵנוּ כִּדְמוּתֵנוּ וְיִרְדּוּ בִדְגַת הַיָּם וּבְעֹוף הַשָּׁמַיִם וּבַבְּהֵמָה וּבְכָל־הָאָרֶץ וּבְכָל־הָרֶמֶשׂ הָרֹמֵשׂ עַל־הָאָרֶץ׃
Translit. interlinear, VAYO'MER {dan Dia berfirman} 'ELOHÏM {Allah} NA'ASEH {kita akan menjadikan} 'ÂDÂM {manusia} BETSALMÊNÛ {pada gambar kita} KIDMÛTÊNÛ {seperti rupa kita} VEYIRDÛ {dan mereka akan menguasai} VIDGAT {pada ikan} HAYÂM {laut itu} ÛVE'OF {dan pada unggas} HASYÂMAYIM {langit itu} ÛVABEHÊMÂH {dan pada ternak} ÛVEKHÂL HÂ'ÂRETS {dan pada seluruh bumi itu} ÛVEKHÂL-HÂREMES {dan pada seluruh yang merayap} HÂROMÊS {binatang melata itu} 'AL-HÂ'ÂRETS {di atas bumi itu}


Ada aneka ragam pendapat dan penafsiran. Pendapat dan penafsiran ini belum tentu benar, dan belum tentu pula dapat dipersalahkan.


[1] Yudaisme Rabbinik


Allah sedang berbicara kepada para malaikat yang ada di sekeliling-Nya. Parafrasa Targum Yonatan menulis, "Dan Allah berkata kepada malaikat malaikat yang melayani yang sudah diciptakan-Nya pada hari kedua dari penciptaan alam semesta, 'Mari KITA jadikan manusia'". Saat Musa menulis kitab Taurat dan tiba pada ayat ini "Baiklah KITA menjadikan manusia..." yang dalam bentuk jamak serta menyiratkan adanya kejamakan dalam pribadi Allah, Musa berkata, "Wahai Raja Semesta Alam! Mengapa Engkau memberikan ayat yang menyiratkan adanya kejamakan Allah?" Allah menyahut, "Tulislah! Siapa saja yang ingin sesat, biarlah ia sesat. Sesungguhnya, hendaklah mereka mempelajari dari Pencipta-Nya yang menciptakan segala sesuatu, bahwa tatkala Dia akan menjadikan manusia, Dia pun mengadakan musyawarah dengan para malaikat-Nya."



[2] Yudaisme Messianik


Allah sedang berbicara kepada pribadi-Nya sendiri karena pribadi Allah itu kompleks, di sana ada firman-Nya, Roh-Nya, kehendak-Nya, dan lain-lain.



[3] Kristen yang Trinitarian


Bapa sedang berbicara kepada Anak, dan kepada Roh Kudus.



[4] Kristen yang non-Trinitarian.


Allah sedang berbicara kepada malaikat yang ada di sekitar-Nya.


Saya sendiri cenderung berpendapat seperti angka [1] dan [4] di atas, yaitu bahwa Allah sedang berbicara kepada pasukan malaikat yang ada di sekitar-Nya. Jika seandainya ada kejamakan dalam pribadi Allah, niscaya kata-kata yang digunakan oleh Allah dan ditujukan kepada manusia, tentu menggunakan kata dalam bentuk jamak pula. Ternyata tidak.

Wajar saja jika Allah berkonsultasi dengan malaikat, bukan dengan maksud meminta pendapat malaikat, tetapi sebagai suatu teladan agar umat manusia pun harus senantiasa berkonsultasi, dan tidak mengambil keputusan tergesa-gesa.

Namun, jangan lupa, doktrin Tritunggal tidak pernah menyatakan bahwa Allah itu "jamak".

Kata Ibrani : " אלהים - 'ELOHIM" (Allah) ditulis dalam bentuk jamak dari 'el dan 'eloah, tidak berarti bahwa Allah itu jamak, melainkan karena karakteristik bahasa Ibrani bahwa sesuatu yang luas, yang besar, yang bergengsi, senantiasa diungkapkan dalam bentuk jamak, sedangkan konstruksi bahasa seperti kata kerja senantiasa digunakan dalam bentuk tunggal.


Masih ada dua ayat lain, coba Anda kaji sendiri menurut pendapat Anda.

Kejadian 3:22
LAI TB, Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."
KJV, And the LORD God said, Behold, the man is become as one of us, to know good and evil: and now, lest he put forth his hand, and take also of the tree of life, and eat, and live for ever:
Hebrew, 
וַיֹּאמֶר יְהוָה אֱלֹהִים הֵן הָאָדָם הָיָה כְּאַחַד מִמֶּנּוּ לָדַעַת טֹוב וָרָע וְעַתָּה פֶּן־יִשְׁלַח יָדֹו וְלָקַח גַּם מֵעֵץ הַחַיִּים וְאָכַל וָחַי לְעֹלָם׃
Translit. interlinear, VAYO'MER {dan Dia berfirman} YEHOVÂH {TUHAN} 'ELOHÏM {Allah} HÊN {lihatlah} HÂ'ÂDÂM {manusia itu} HÂYÂH {ia menjadi} KE'AKHAD {seperti satu} MIMENÛ {dari kita} LÂDA'AT {untuk mengetahui} TÕV {baik} VÂRÂ' {dan jahat} VE'ATÂH {dan sekarang} PEN-YISYLAKH {agar tidak ia akan mengirimkan} YÂDÕ {tangannya} VELÂQAKH {dan ia mengambil} GAM {lagi} MÊ'ÊTS {dari pohon} HAKHAYÏM {kehidupan itu} VE'ÂKHAL {dan ia makan} VÂKHAY {dan ia hidup} LE'OLÂM {hingga kekal}


Note: 
Kata "VAYO'MER" di sana ditulis dalam bentuk tunggal. Bandingkan dengan kata-kata yang biasa digunakan dalam Perjanjian Lama untuk "berkata" atau "berfirman" ini:

VAYO'MER, dan Dia berfirman (maskulin)
VATO'MER, dan ia berkata (feminin)
VA'OMAR, dan Aku berfirman
VANO'MER, dan kami/kita berkata
VAYO'MRU, dan mereka berkata


* Kejadian 11:7 
LAI TB, Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing."
KJV, Go to, let us go down, and there confound their language, that they may not understand one another's speech.
Hebrew, 
הָבָה נֵרְדָה וְנָבְלָה שָׁם שְׂפָתָם אֲשֶׁר לֹא יִשְׁמְעוּ אִישׁ שְׂפַת רֵעֵהוּ׃
Translit. interlinear, HÂVÂH {pergilah} NÊREDÂH {Kita akan turun} VENÂVLÂH {dan kita akan mengacaukan} SYÂM {di sana} SEFÂTÂM {lidah/bahasa mereka} 'ASYER {yang} LO' {tidak} YISYME'Û {mereka akan mendengar} 'ÏSY {orang} SEFAT {lidah} RÊ'ÊHÛ {tetangga mereka}


Note: 
Meskipun menggunakan kata ganti "kita" dan kata kerja dalam bentuk jamak, namun ayat sebelumnya yaitu ayat 6 menulis, "dan Ia berfirman: "Mereka ini..." tetap menggunakan kata kerja tunggal "VAYO'MER", dan bukan "VANO'MER", "dan Kami/Kita berfirman..."

Arti TUHAN yang Esa dalam Alkitab

Image



Yesus Kristus menyatakan TUHAN itu Esa :


* Markus 12:29 
LAI TB, Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 
KJV, And Jesus answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; The Lord our God is one Lord: 
TR, ο δε ιησους απεκριθη αυτω οτι πρωτη πασων των εντολων ακουε ισραηλ κυριος ο θεος ημων κυριος εις εστιν
Interlinear, ho de {dan} iêsous {Yesus} apekrithê {Dia menjawab} autô {kepadanya} hoti {bahwa} prôtê {pertama} asôn {dari segala} tôn entolôn {perintah-perintah} akoue {dengarlah engkau} israêl {Israel} kurios {Tuhan} ho theos {Allah} hêmôn {kita} kurios {Tuhan} heis {satu} estin {Dia adalah}



Yesus Kristus merujuk pada Firman yang terulis di :


* Ulangan 6:4
LAI-TB, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
KJV, Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:
Hebrew,
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃
Translit interlinear, SYEMA' {dengarlah} YISRA'EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} 'ELOHEYNU {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} EKHAD {esa}


Kata-kata ini diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel, ketika Musa akan meninggalkan Israel. Ucapan ini sebenarnya mewujudkan suatu pengakuan iman yang ditekankan kepada Israel pada waktu itu, agar supaya Israel jangan melupakannya. Pengakuan iman ini bukanlah rumusan Musa sebagai hasil pemikiran akalnya, yang diperolehnya dengan memandang kepada gejala-gejala alam semesta, atau disimpulkan dari hukum akal, melainkan didasarkan atas pengalaman-pengalaman Musa dan pengalaman-pengalaman umat Israel sendiri, sejak Tuhan Allah memperkenalkan diri Nya kepada Israel dengan melepaskan Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Di sepanjang sejarah dari Mesir hingga di dataran Moab itu, yang kira-kira 40 tahun lamanya, Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dan telah membuktikan kepada mereka dengan firman dan karya-Nya siapa Tuhan Allah itu.

Pertama-tama di sini diakui, bahwa Allah Israel adalah TUHAN atau Y-H-V-H, bahwa dengan nama ini Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel. Sebagai sekutu Israel Tuhan Allah adalah Allah yang setia, yang memenuhi segala janji-Nya. Dengan mengingatkan kepada nama itu Musa bermaksud menekankan, bahwa TUHAN adalah setia, yang benar-benar telah memegang teguh kepada apa yang telah difirmankan dan diperbuat. Bahwa TUHAN adalah Allah yang setia, bukanlah suatu teori bagi Musa dan bagi bangsa Israel di dalam firman dan karya Tuhan Allah di sepanjang sejarah Israel hingga kini dan akan diteruskan di dalam kelanjutan sejarah itu. Nama TUHAN atau Y-H-V-H adalah sama dengan nama yang disebutkan di Yesaya 44:6 dan Wahyu 1:8, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian.


* Yesaya 44:6
LAI TB, [color=green]Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: 'Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.
KJV, Thus saith the LORD the King of Israel, and his redeemer the LORD of hosts; I am the first, and I am the last; and beside me there is no God. 
Hebrew,
כֹּֽה־אָמַר יְהוָה מֶֽלֶךְ־יִשְׂרָאֵל וְגֹאֲלֹו יְהוָה צְבָאֹות אֲנִי רִאשֹׁון וַאֲנִי אַחֲרֹון וּמִבַּלְעָדַי אֵין אֱלֹהִֽים׃
Translit, KOH-'AMAR YEHOVÂH MELEKH-YISRA'EL VEGO'ALO YEHOVÂH TSEVA'OT 'ANI RI'SYON VA'ANI 'AKHARON UMIBAL'ADAI EIN 'ELOHIM


* Wahyu 1:8 
LAI TB, Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa. 
KJV, I am Alpha and Omega, the beginning and the ending, saith the Lord, which is, and which was, and which is to come, the Almighty. 
TR, εγω ειμι το α και το ω αρχη και τελος λεγει ο κυριος ο ων και ο ην και ο ερχομενος ο παντοκρατωρ 
Interlinear, egô {Aku} eimi {Adalah} to a {Alfa} kai {dan} to ô {Omega} arkhê {Yang Awal} kai {dan} telos {Yang Akhir} legei {berfirman} ho kurios {Tuhan} ho {Ia} hôn {yang ada} kai {dan} ho {yang} ên {sudah ada} kai {dan} ho {yang} erkhomenos {akan datang} ho pantokratôr {Yang Mahakuasa} 


TUHAN atau Y-H-V-H selanjutnya disebut "esa". Ungkapan yang diterjemahkan dengan "TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa" dalam bahasa aslinya berbunyi, "YHVH 'elohêynu YHVH 'ekhâd", yang dapat diterjemahkan seperti yang terjadi di dalam terjemahan baru, tetapi juga dapat diterjemahkan dengan "TUHAN adalah Allah kita, TUHAN 'saja'", artinya, bahwa tiada Allah lain, yang menjadi Allah, kecuali Y-H-V-H. Bagaimanapun kata 'ekhâdditerjemahkan (dengan "esa" atau "saja") di dalam hubungan pernyataan ini teranglah bahwa kata 'ekhâd itu menunjukkan kepada YHVH yang khas terhadap allah-allah yang lain, dan bertentangan dengan allah-allah yang lain, yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel.

Pertama-tama ungkapan itu menunjukkan, bahwa bagi Israel, berdasarkan firman dan karya Allah, tidak ada Allah yang lain, kecuali YHVH. Hal yang demikian juga dinyatakan oleh Musa.


* Ulangan 4:39
LAI TB, Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.
KJV, Know therefore this day, and consider it in thine heart, that the LORD he is God in heaven above, and upon the earth beneath: there is none else. 
Hebrew,
וְיָדַעְתָּ הַיֹּום וַהֲשֵׁבֹתָ אֶל־לְבָבֶךָ כִּי יְהוָה הוּא הָֽאֱלֹהִים בַּשָּׁמַיִם מִמַּעַל וְעַל־הָאָרֶץ מִתָּחַת אֵין עֹֽוד׃
Translit, VEYADA'TA HAYOM VAHASYEVOTA 'EL-LEVAVEKHA KI YEHOVAH HÛ' HA'ELOHIM BASYAMAYIM MIMA'AL VE'AL-HA'ARETS MITÂKHAT 'EIN OD


* Ulangan 32:39 
LAI TB, Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. 
KJV, See now that I, even I, am he, and there is no god with me: I kill, and I make alive; I wound, and I heal: neither is there any that can deliver out of my hand. 
Hebrew, 
רְאוּ ׀ עַתָּה כִּי אֲנִי אֲנִי הוּא וְאֵין אֱלֹהִים עִמָּדִי אֲנִי אָמִית וַאֲחַיֶּה מָחַצְתִּי וַאֲנִי אֶרְפָּא וְאֵין מִיָּדִי מַצִּֽיל׃
Translit, RE'U ATA KI ANI ANI HU VE'EIN ELOHIM IMADI ANI AMIT VA'AKHAYE MAKHATSTI VA'ANI ERPA VE'EIN MIYADI MATSIL


Secara 'polemis' (artinya: secara perang pandangan) adanya allah-allah yang lain seolah-olah diakui. Akan tetapi secara 'polemis' juga ditunjukkan, bahwa Tuhan Allah adalah lain dibanding dengan allah-allah tadi. Umpamanya dewa Baal. Sekalipun oleh para penyembahnya diakui, bahwa ada satu Baal, namun dewa ini disembah menurut tempat dan keadaannya: ada Baal-Berit, Baal-Gad, Baal-Hazor, Baal-Peor, dan sebagainya. Akan tetapi YHVH adalah satu, di mana saja; tiada YHVH-Sinai, YHVH-Silo, YHVH Yerusalem, YHVH adalah YHVH, di mana saja Ia disembah.

Selanjutnya, dengan bermacam-macam cara, kemuliaan Tuhan Allah yang jauh melebihi para allah yang lain itu ditunjukkan.




* Yeremia 16:20 
LAI TB, Dapatkah manusia membuat allah bagi dirinya sendiri? Yang demikian bukan allah!
KJV, Shall a man make gods unto himself, and they are no gods?
Hebrew,
הֲיַעֲשֶׂה־לֹּו אָדָם אֱלֹהִים וְהֵמָּה לֹא אֱלֹהִֽים׃
Translit, HAYA'ASEH-LO 'ADAM 'ELOHIM VEHEMÂH LO' 'ELOHIM


* Mazmur 115:4
LAI TB, Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia,
KJV, Their idols are silver and gold, the work of men's hands.
Hebrew,
עֲ‍ֽצַבֵּיהֶם כֶּסֶף וְזָהָב מַעֲשֵׂה יְדֵי אָדָֽם׃
Translit, 'ATSABEIHEM KESEF VEZAHAV MA'ASEH YEDEI 'ADAM


* Yesaya 41:29
LAI TB, Sesungguhnya, sekaliannya mereka seperti tidak ada, perbuatan-perbuatan mereka hampa, patung-patung tuangan mereka angin dan kesia-siaan.
KJV, Behold, they are all vanity; their works are nothing: their molten images are wind and confusion. 
Hebrew, 
הֵן כֻּלָּם אָוֶן אֶפֶס מַעֲשֵׂיהֶם רוּחַ וָתֹהוּ נִסְכֵּיהֶֽם׃ פ
Translit, HEN KULAM 'AVEN 'EFES MA'ASEIHEM RUAKH VATOHU NISKEIHEM


Berdasarkan hal itu semua maka kepada Israel dinyatakan atau diproklamasikan, bahwa hanya TUHAN-lah yang benar-benar Allah, hanya Dia saja.

Dari uraian di atas teranglah kiranya, bahwa kata 'ekhâd atau "esa" di dalam pengakuan iman Israel sekali-kali bukan dimaksud guna menekankan kepada satunya angka secara matematis. Sebab hal yang demikian memang tidak pernah dihadapi oleh Israel. Israel tidak pernah dihadapkan dengan persoalan: ada Allah satu atau lebih dari satu. Dewa-dewa atau berhala-berhala atau allah-allah yang lain tidak pernah dipandang sebagai Allah, hanya secara 'polemis' saja mereka diakui. Bagi Israel persoalannya bukan ada yang ilahi secara umum, lalu YHVH juga disebut yang ilahi. Bagi Israel tidak ada ketuhanan dalam arti yang umum, lalu YHVH adalah termasuk ketuhanan itu. Bagi Israel YHVH adalah satu-satunya yang ilahi, atau lebih tepat YHVH adalah satu-satunya Tuhan. Di luar TUHAN atau YHVH tidak ada yang dapat disebut Tuhan. Sebab bagi Israel hanya YHVH-lah yang telah memperkenalkan diri sebagai Allah.

DOKTRIN TRITUNGGAL, APAKAH MENYERAP AJARAN AGAMA LAIN?

Tuhan Allah adalah Bapa di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang menciptakan, memanggil dan menyelamatkan umat-Nya. Tuhan Allah adalah Anak di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang menyatakan atau yang menjelmakan atau mewujudkan hakekat Bapa sebagai sekutu umat-Nya, hingga benar-benar umat Allah menjadi sekutu-Nya. Dan Tuhan Allah adalah Roh Kudus di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang membenarkan, menyucikan serta menyempurnakan umat-Nya.


Apakah pandangan ini tidak sama dengan pandangan Sabellius?

Sabellius mengajarkan, bahwa di dalam Perjanjian Lama, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya sebagai Bapa dan Pencipta, di dalam diri Yesus, Ia menampakkan diri sebagai Anak dan Penyelamat, dan akhirnya sejak hari Pentakosta, Ia menampakkan diri sebagai Roh Kudus, sehingga Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah penampakan diri Tuhan Allah yang secara berturut-turut. Akan tetapi tidaklah demikian penyataan Tuhan Allah menurut Alkitab. Sejak semula dan untuk selama-lamanya Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai pencipta, penyelamat dan pembebas umat-Nya. Sejak di Perjanjian Lama, Tuhan Allah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal itu semuanya diwujudkan dengan sejelas-jelasnya di dalam diri Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia.

Tuhan Allah adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus di dalam karya-Nya sejak semula hingga kini dan untuk selama-lamanya. Tuhan Allah adalah Tritunggal di dalam segala karya-Nya, baik di dalam penjadian, maupun di dalam penyelamatan dan pembebasan. Ia adalah Tritunggal dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, dahulu, sekarang, dan untuk selama-lamanya.

Mengenai anggapan adanya persamaan ajaran agama lain dengan ajaran Tritunggal ini, di bawah ini pembahasannya:

Pertama-tama di dalam Agama Hindu ada ajaran yang disebut Trimurti, yang di dalam agama Hindu Jawa disebut ajaran tentang Tri Purusa. Ajaran ini mengajarkan ada tiga bentuk (trimurti) dari zat yang mutlak (Brahman), yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di dalam kitab Mahabharata terdapat suatu ucapan yang masyhur, yaitu bahwa Prajapati menciptakan dalam bentuk Brahma, memelihara dalam bentuk manusia (Wisnu) dan merusak dalam bentuk Rudra, yaitu Siwa yang lain (Mahabharata III, 272, 46). Senada dengan ucapan di atas itu dikatakan mengenai Brahman, yaitu bahwa Brahman memiliki tiga penjelmaan, atma (jiwa perorangan), prakrti (alam) dan Isywara (Tuhan).

Di dalam prakteknya masing-masing mashab Hindu memiliki salah satu dewa menjadi dewanya yang tertinggi, sedang kedua dewa lainnya menjadi penjelmaannya, umpamanya mashab Siwa menganggap Siwa sebagai dewa yang tertinggi, yang identik dengan Brahman, dan yang kemudian demi kepentingan penciptaan, pemeliharaan dan pengrusakan, menjelma sebagai Brahma, Wisnu, dan Rudra.

Menurut keyakinan Hindu, dewa yang tertinggi, baik ia disebut Brahman, maupun Siwa, atau Wisnu, atau sebutan yang lain, dipandang sebagai Zat yang Mutlak, yang bebas dari segala hubungan dan sifat, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia. Jadi semacam tabiat ilahi dari Plato. Tokoh ini adalah zat yang transenden, yang tidak berbuat dan tidak berkehendak. Sebab seandainya zat ini berkehendak untuk berbuat, ia akan terikat kepada karma dan samsara. Oleh karena itu tokoh yang tertinggi ini memerlukan penjelmaan yang lebih kasar, yang lebih rendah untuk dapat berfungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur segala sesuatu. Itulah sebabnya ia menjelma dalam Brahma, Wisnu, dan Rudra. Ketiga penjelmaan ini dipandang sebagai bersamaan dengan perkembangan proses kosmos dengan hukumnya: lahir, berkembang, dan mati. Akan tetapi di dalam sistem yang mengerjakan, bahwa Brahman tidak terikat kepada pekerjaan, maka penjelmaan ini sebenarnya adalah khayalan belaka. Sebab dilihat dari pihak Brahman, penjelmaan ini tidak ada, penjelmaan ini hanya tampak sebagai penjelmaan jikalau dilihat dari pihak manusia.

Menurut anggapan orang India yang modern (Dr. S. Radhakrishnan), ajaran Trimurti mengajarkan tiga segi atau tiga aspek dari suatu kepribadian ilahi yang kompleks.

Jelas, bahwa pandangan agama Hindu tentang Trimurti atau Tri Purusa ini tiada sangkut-pautnya dengan pandangan Alkitab yang mengungkapkan hakekat Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan khayalan manusia, juga bukan khayalan Allah. Ketiga penyataan Allah itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya di dalam sejarah umat-Nya dan dialami oleh umat Allah sebagai kenyataan yang hidup.

Di dalam tasawwuf (umpamanya ajaran Abd. al-Karim al-Jili), Tuhan Allah dipandang sebagai zat yang mutlak atau zat yang akali secara murni, yang esa dalam arti filsafat, yaitu tanpa bagian dan tidak dibagi-bagi, tanpa sifat dan hubungan. Jadi hampir sama dengan ajaran Hindu mengenai Brahman. Dalam keadaan-Nya yang mutlak itu Tuhan disebut: kabut yang gelap (al-'ama). Dalam keadaan yang mutlak ini Tuhan dapat disebut juga inti sari zat, yang memiliki aspek atau segi keluar, yaitu ahadiyya, di mana yang mutlak tadi sadar akan dirinya sebagai kesatuan. Ahadiyya ini memiliki dua aspek, yaitu huwiyya (ke-ia-an) yang menandai kesatuan batin, di mana yang mutlak sadar akan diri-Nya sebagai yang tidak jamak, dan aniyya (ke-aku-an), yang mewujudkan ungkapan ke luar dari huwiyya, yaitu kesatuan yang menyatakan diri dalam eksistensi di mana yang mutlak sadar akan diri-Nya sebagai kebenaran dari yang jamak.

Dapat dikatakan, bahwa di sini ada tiga macam kesadaran di dalam Tuhan Allah sebagai Yang Mutlak. Pertama-tama Tuhan sadar akan diri-Nya sebagai kesatuan yang murni dan esa (ahadiyya); kemudian Tuhan sadar akan diri-Nya sendiri sebagai yang mengandung di dalam-Nya yang jamak (huwiyya), dan akhirnya Tuhan sadar akan diri-Nya sebagai yang menyatakan yang jamak (aniyya).

Juga pandangan ini tidak dapat disamakan dengan ajaran Alkitab tentang Allah Tritunggal.

Di dalam Kebatinan Jaya ada satu aliran yang mengajarkan tentang ketritunggalan, yaitu Pangestu. Menurut Pangestu, Tuhan Allah yang Maha Esa itu disebut Tri Purusa, yang artinya: keadaan satu yang bersifat tiga, yaitu: Suksma Kawekas (Tuhan yang Sejati), yang di dalam bahasa Arab disebut Allah ta'ala, Suksma Sejati (Penuntun Sejati atau Guru Sejati), yaitu utusan Tuhan, dan akhirnya Roh Suci yaitu manusia sejati atau jiwa manusia sejati. Demikian disebutkan di dalam Kitab Sasangka Jati. Menurut Dr. Sumantri almarhum, ketiga sifat itu harus diterangkan sebagai tiga faset, dan harus diartikan demikian, bahwa Suksma Kawekas adalah Hidup Pertama dalam keadaannya yang masih tenang, tanpa gerak, tanpa kesadaran, seperti halnya dengan lautan sepi yang tanpa gelombang, atau seperti kata Hamzah Pansuri: seperti laut yang dalam. Suksma Sejati adalah Hidup Pertama dalam keadaannya yang aktif bekerja seperti lautan yang bergelombang. Adapun Roh Suci adalah Hidup Pertama yang melepaskan diri dari Tuhan, seperti halnya dengan titik air yang menguap melepaskan diri dari lautan yang bergelombang tadi, serta yang kemudian dipenjarakan di dalam tubuh.

Menurut Pangesti, Suksma Kawekas sama dengan Allah Bapa di dalam agama Kristen, Suksma Sejati sama dengan Allah Anak dan Roh Suci sama dengan Roh Suci di dalam ketritunggalan agama Kristen. Akan tetapi jelas, bahwa pendapat yang demikian bukan didasarkan atas penyelidikan yang seksama, sekalipun hal itu disebutkan di dalam Kitab Sasangka Jati.

Pertama harus dikemukakan, bahwa Pangestu tidak mengajarkan, bahwa hakekat Tuhan Allah adalah menjadi sekutu umat-Nya.

Kedua, sekalipun Pangestu mengatakan, bahwa Tuhan Allah memiliki tiga faset atau wajah, namun ternyata, menurut keterangan Dr. Sumantri, ketiga faset tadi adalah tiga pangkat dari tabiat ilahi atau ketuhanan yang makin lama makin rendah (lautan sepi yang tanpa gelombang, lautan gelombang, dan titik air yang menguap atau melepaskan diri dari lautan yang bergelombang). Oleh karena itu ajaran Pangesti ini sebenarnya adalah suatu ajaran emanasi, pengaliran ke luar dari zat ilahi, yang pada hakekatnya sama dengan ajaran Hindu tentang Brahman dan ajaran Tasawwuf tentang martabat.

Ketiga, Roh Suci di dalam ajaran Pangestu bukanlah daya ilahi yang dinamis, dengannya Allah hadir berbuat, melainkan bagian zat Allah yang dipenjarakan di dalam tubuh manusia.



ALLAH ITU ESA


Bagi agama Islam, dosa yang tidak dapat diampuni ialah syirk, yaitu mempersekutukan Tuhan Allah. Dalam Sura 4:48 (terjemahan Departemen Agama) disebutkan, bahwa Tuhan Allah tidak akan mengampuni dosa syirk, sekalipun Tuhan Allah berkenan mengampuni segala dosa yang lain. Menurut para ulama Islam, orang Kristen berkesalahan terhadap syirk ini, karena mengajarkan tentang Allah yang Tritunggal. Menurut para ulama Islam, dosa orang Kristen ialah: menganggap bahwa di samping Allah ada yang berilmu, ada yang berkuasa, ada yang dapat disembah, dan bahwa orang dipandang sebagai dapat menyandarkan diri dan mempercayakan diri kepada yang lain daripada Allah.

Baik agama Islam maupun agama Kristen sebenarnya mengemukakan bahwa hanya ada Allah satu, dapat dibandingkan dengan keterangan tentang hakekat Allah yang diungkapkan dalam keesaan-Nya dalam tulisan sebelumnya. Hanya saja, memang ada perbedaan pendapat mengenai keesaan Allah ini. Ditinjau dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh para ulama Islam, diperoleh kesan bahwa yang ditekankan oleh mereka adalah keesaan dalam arti matematis. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, di dalam Alkitab yang ditekankan adalah keesaan dalam firman dan karya Tuhan Allah, keesaan yang bersifat etis, sehingga orang beriman diperingatkan supaya jangan hanya puas dengan percaya adanya Allah yang satu.


* Yakobus 2:19
LAI TB, Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar."
KJV, Thou believest that there is one God; thou doest well: the devils also believe, and tremble.
TR, συ πιστευεις οτι ο θεος εις εστιν καλως ποιεις και τα δαιμονια πιστευουσιν και φρισσουσιν
Translit, su pisteueis hoti ho theos heis estin kalôs poieis kai ta daimonia pisteuousin kai phrissousin


Orang beriman diperingatkan supaya imannya disertai perbuatan.


Ada banyak ayat di dalam Al~Qur'an yang menentang dipersekutukannya Tuhan Allah. akan tetapi sebenarnya Alkitab tidak mengajarkan apa yang dituduhkan oleh Al~Qur'an. Di dalam Alkitab tiada soal tentang mempersekutukan Allah.



Apakah arti kepercayaan kepada Allah Tritunggal di dalam hidup kekristenan?


Setelah dibicarakan isi pandangan Alkitab tentang Allah Tritunggal, baiklah dibicarakan hal arti kepercayaan kepada Allah Tritunggal itu di dalam hidup kekristenan. Adakah arti itu? Atau, apakah ajaran tentang Allah Tritunggal itu sebenarnya hanya suatu sport otak saja? Adakah perbedaan antara hidup keagamaan orang yang percaya benar-benar, bahwa Allah adalah Tritunggal dengan hidup keagamaan orang yang tidak percaya bahwa Allah adalah Tritunggal? Pembicaraan soal ini cukup penting sebab jika seandainya tiada perbedaan dalam praktek hidup keagamaan di antara dua golongan itu, tiada gunanya untuk bersusah-payak membicarakan persoalan Allah Tritunggal itu.

Menurut Alkitab, manusia dijadikan segambar dan serupa dengan Allah, yang berarti, bahwa hidup manusia dihubungkan dengan Allahnya. Maka bagi kehidupan manusia itu ada suatu soal yang penting sekali, yaitu: dengan Allah yang bagaimanakah ia menghubungkan diri?

Pertama-tama perlu dikemukakan, bahwa ajaran Alkitab tentang Allah yang Tritunggal itu memperkenalkan Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya, artinya: sebagai Allah yang memihak, membali serta mencari keselamatan manusia.


Ajaran Deisme mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah Yang Mahatinggi, Yang Mahakuasa, dan Yang Mahaadil, dalam arti, bahwa Allah adalah yang transenden, yang menjadikan dunia dengan segala isinya serta yang akan mengadilinya. Sebagai Yang Mahatinggi, Allah adalah jauh dari manusia. Hubungan antara Tuhan Allah dan manusia lebih sebagai Raja diraja dengan hamba-hamba-Nya yang hina-dina. Memang, di dalam sistem ini Tuhan Allah juga memberi petunjuk tentang bagaimana manusia dapat menghambakan diri kepada Allahnya, akan tetapi pada akhirnya manusia sendirilah yang harus memeras segala tenaga untuk dapat memperkenankan hati Allahnya, guna menghindarkan diri dari Hakim yang tertinggi yang Mahaadil itu.

Di sini Tuhan Allah bagi manusia menjadi sedemikian jauh dan abstrak sehingga akhirnya tidak akan memuaskan akal manusia.

Sebaliknya, ajaran Pantheisme, yang termasuk di dalamnya ajaran kebatinan, mengajarkan, bahwa Allah berada di mana-mana seperti api berada di dalam kayu yang dibakarnya. Di sini Tuhan Allah bukan jauh di atas manusia, melainkan dekat sekali dengan manusia, bahkan sedemikian dekat hingga tiada lagi perbedaan antara Allah dan manusia. Manusia pada hakekatnya adalah Allah sendiri, sehingga sebenarnya tiada lagi hidup keagamaan. Di dalam persekutuan antara Allah dan manusia pada akhirnya tiada perbedaan antara Yang Disembah dan yang menyembah. Juga di sini ada jalan kelepasan, yaitu dengan melalui pengekangan hawa nafsu dan sebagainya, akan tetapi pada akhirnya juga manusia sendirilah yang harus mengerahkan segala tenaganya demi keselamatannya.

Kedua ajaran tersebut berbeda sekali dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan tentang Allah di dalam penyataan-Nya. Sebab ajaran Alkitab itu mengajarkan, bahwa Allah yang esa di dalam firman dan karya-Nya itu di satu pihak memang berbeda sekali dengan manusia, akan tetapi di lain pihak Allah juga dekat sekali dengan manusia. Tuhan Allah bukan hanya memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Mahakuasa, Pencipta dan Pemelihara serta Hakim seluruh umat manusia, akan tetapi Tuhan Allah juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Penyelamat dan pembebas umat-Nya. Ia adalah sekutu umat-Nya, bukan sembarang sekutu, melainkan sekutu yang demikian setia, sehingga sekalipun umat-Nya karena dosa-dosanya tidak setia dan tidak layak, namun sebagai Bapa Tuhan Allah tetap memihak kepada umat manusia sebagai anak-anak-Nya, serta menyelamatkannya di dalam Kristus, serta menyempurnakannya di dalam Roh Kudus.

Kedua, perlu dikemukakan, bahwa ajaran Alkitab tentang penyataan Allah sebagai yang Bapa, Anak dan Roh Kudus itu penting bagi pengenalan akan pekerjaan Tuhan Allah.

Apakah umpamanya arti penciptaan bagi ajaran Deisme? Apa sebab Tuhan Allah yang Mahatinggi, yang jauh dari manusia itu menciptakan dunia ini? Untuk apa Tuhan Allah menciptakan dunia? Sebenarnya di dalam ajaran Deisme tiada jawaban yang tepat mengenai persoalan ini. Penciptaan seolah-olah hanya mewujudkan hal yang kebetulan saja.

Juga Pantheisme tidak dapat menjawab persoalan ini dengan tepat. Penciptaan bagi Pantheisme justru menjadi sebabnya Tuhan Allah atau Yang Ilahi dipenjara di dalam benda.

Akan tetapi ajaran Alkitab tentang Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus itu memberi arti kepada penciptaan dunia ini secara mendalam sekali. Di sini tidak mungkin penciptaan dunia ini hanya mewujudkan suatu kejadian yang kebetulan saja, atau suatu nasib buruk. Dunia ada karena dikehendaki Tuhan Allah. Ia menjadikan dunia dengan segala isinya untuk memuliakan nama-Nya. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Dunia sebagai hasil karya Allah adalah baik. Manusia diperkenankan, bahkan dipanggil untuk mempergunakan dunia ini dengan segala isinya guna memuliakan Tuhan Allah. "Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan atas burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. " Dunia ini bukan sumber kejahatan. Alam dan anugerah tidaklah bertentangan, demikian juga hal penciptaan dan pembaharuan penciptaan.

Oleh karena Bapa dan llah Anak adalah satu di dalam karya-Nya, maka keduanya tidak saling bertentangan. Barangsiapa yang telah dipilih oleh Bapa, tentu diselamatkan oleh Anak, oleh karena pemilihan Bapa itu dilakukan di dalam Anak-Nya. Pemeliharaan Bapa atas umat-Nya membantu keselamatan umat-Nya itu. Maka orang yang beriman dapat yakin, bahwa Tuhan Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan baginya.

Oleh karena Anak dan Roh adalah satu di dalam karya-Nya, maka tiada pertentangan antara karya penyelamatan Kristus dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab sebagai kesaksian akan karya penyelamatan Kristus tidak bertentangan dengan pimpinan Roh yang diberikan di dalam hidup orang beriman. Sebab Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada orang beriman semua yang telah dikatakan Tuhan kepadanya.

Ketiga, ajaran Alkitab tentang Allah yang menyatakan dirinya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah penting bagi pengalaman orang beriman tentang Allah itu.

Orang memeluk ajaran Deisme mengalami Tuhan Allah sebagai Allah yang jauh tinggi daripada manusia, sedang orang Pantheis mengalami Allah sebagai Allah yang ada di dalamnya semata-mata.

Menurut Alkitab, oleh karena Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, maka orang beriman mengalami-Nya pertama-tama sebagai Yang Kudus, yang terpisah dari segala dosa, yang oleh karenanya jauh lebih tinggi daripada manusia dosa dan harus ditakutinya. Selain itu, Tuhan Allah juga dialami sebagai Yang Mahatinggi dan Mahamulia, kepada-Nya semua orang beriman merasa tergantung. Demikian juga Tuhan Allah dialami sebagai Raja diraja yang wajib ditaati dan disembah secara sempurna. Akan tetapi di samping itu semua orang beriman mengalami Tuhan Allah sebagai teman, sebagai penolong, yang melepaskan mereka dari segala kesengsaraan, yang sanggup memikul segala hukuman mereka. Tuhan Allah bukan hanya Yang Mengadili orang beriman, akan tetapi Ia juga Yang mengulurkan tangan-Nya untuk keselamatan mereka. Bahkan Tuhan Allah juga adalah Yang Mahadekat dengan mereka di dalam diri mereka. Karena Roh Kudus maka Allah juga yang menjadi Yang berdiam di dalam orang beriman. Yang menjadi penasehat mereka. Ia adalah hidup orang beriman. Di sinilah dapat dimengerti akan kata-kata rasul Paulus ini:


* Roma 8:31
LAI TB, Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
KJV, What shall we then say to these things? If God be for us, who can be against us?
TR, τι ουν ερουμεν προς ταυτα ει ο θεος υπερ ημων τις καθ ημων
Translit, ti oun eroumen pros tauta ei ho theos huper hêmôn tis kath hêmôn


* Roma 8:32
LAI TB, Ia, yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
KJV, He that spared not his own Son, but delivered him up for us all, how shall he not with him also freely give us all things?
TR, ος γε του ιδιου υιου ουκ εφεισατο αλλ υπερ ημων παντων παρεδωκεν αυτον πως ουχι και συν αυτω τα παντα ημιν χαρισεται
Translit, hos ge tou idiou huiou ouk epheisato all huper hêmôn pantôn paredôken auton pôs oukhi kai sun autô ta panta hêmin kharisetai


Agama Kristen berdiri dan jatuh bersama-sama dengan pengakuan kepada Allah yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ajaran ini adalah inti iman Kristen, dasar segala ajaran Kristen. Maka orang Kristen akan senantiasa memuji, "Hormat bagi Allah Bapa, hormat bagi Anak-Nya, hormat bagi Roh Penghibur, ketiganya yang Esa. Haleluya, haleluya, ketiganya yang Esa."