HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Monday, March 4, 2013

MENGASIHI TUHAN ATAU HARTA?


Baca:  Matius 19:16-26

"Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya."  Matius 19:22

Saat ini pikiran banyak orang tertuju kepada materi, bagaimana cara menumpuk harta dan kekayaan.  Siang dan malam membanting tulang demi mewujudkan keinginannya itu.  Tak jarang pula orang menempuh jalan sesat guna mendapatkan uang atau kekayaan dengan cara instan.  Adalah perkara yang sukar bagi manusia untuk merasa puas dengan apa yang dimiliki.  Berapa banyak uang yang harus dimiliki agar kita terpuaskan dan merasa bahagia?  Sampai kapan pun uang tidak pernah dapat membeli kepuasan atau pun kebahagiaan.  Tentunya tidak ada yang salah dengan mencari uang, selama kegiatan mencari uang itu tidak melanggar hukum negara dan prinsip-prinsip firman Tuhan.  Memang, kekayaan bisa menjadi tanda seseorang diberkati Tuhan, tetapi juga bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk beribadah kepada Tuhan.

     Ada seorang anak muda yang hebat sekaligus kaya.  Ia datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana supaya bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Orang muda ini sekaligus ingin mencari penegasan apakah semua yang sudah dilakukannya selama ini dapat menjamin dia memperoleh hidup kekal.  "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"  (ayat 20).  Ia berpikir bahwa keselamatan kekal dapat diperoleh melalui usaha manusia, yaitu dengan berbuat baik dan sebagainya.  Alkitab jelas menyatakan bahwa  "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita,..."  (2 Timotius 1:9).  Karena harta kekayaan melimpah, anak muda ini pun memilih bergantung pada apa yang ia miliki, bukannya menjadi saluran berkat seperti perintah Tuhan, sehingga ketika Tuhan memerintahkan:  "...pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,..."  (Matius 21:22) pergilah ia dengan sedih.  Ia mencintai hartanya daripada harus mengikut Kristus.

     Manakah yang Saudara pilih:  menumpuk kekayaan yang bersifat sementara di dunia ataukah mempersiapkan kekayaan rohani untuk kehidupan kekal mendatang?  Rasul Paulus berpesan kepada Timotius agar ia memperingatkan orang-orang kaya supaya  "...mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi  (1 Timotius 6:18).

Tuhan memberkati kita supaya kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain, bukannya semakin mencondongkan hati kita menjauh dari Tuhan.

RELAKAH KITA MENUNAIKAN AMANAT TUHAN?


Baca:  2 Timotius 4:1-8

"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  2 Timotius 4:2

Sebagaimana dinyatakan dalam renungan kemarin, Yesus  "...datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."  (Matius 9:13).  Jadi Yesus turun ke dunia dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa manusia.  Inilah amanat yang harus diemban oleh Yesus.

     Dengan kesadaran penuh Dia menyelesaikan tugas dari Bapa ini sampai tuntas tanpa keluh kesah atau persungutan.  "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:8).  Tanpa keraguan sedikit pun Yesus mengorbankan nyawaNya, karena Ia tahu bahwa tidak ada jalan lain bagi manusia untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Hanya melalui kematianNya di atas kayu salib inilah manusia memiliki pengharapan hidup kekal karena kutuk maut telah dipatahkan!  Ketika Yesus naik ke sorga, amanat itu pun diserahterimakan kepada murid-muridNya.  Yesus berkata, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum."  (Markus 16:15-16), dan  "...kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).  Perkataan Yesus ini bukan sekedar kata-kata perpisahanNya kepada para muridNya, melainkan suatu Amanat Agung yang harus dilaksanakan.

     Saat ini tidak semua orang Kristen terpanggil untuk mengerjakan amanat ini.  Mereka pasti berpikir bahwa memberitakan Injil Keselamatan itu penuh resiko:  menantang segala macam kesukaran, penderitaan, penolakan, ejekan, cemoohan dan mungkin juga aniaya.  Berbeda dengan hamba-hamba Tuhan di masa lalu yang dengan gigih berjuang memberitakan Injil Kristus;  mereka rela mempertaruhkan hidup demi Injil.  Dan tak terbilang banyaknya jumlah orang yang bertobat, percaya dan dipulihkan hidupnya melalui pelayanan mereka.  Bagaimana kita?  Ingatlah, memberitakan Injil tidak selalu harus pergi ke tempat yang jauh, terpencil, ke pelosok atau di pedalaman.  Memberitakan Injil bisa dilakukan di lingkungan terdekat kita sendiri.  Maukah kita melakukannya?

Tuhan mengukur keberhasilan pemberitaan Injil kita bukan pada jumlah orang yang diselamatkan, tetapi pada seberapa besar kerelaan hati kita.

IMAN MENGALAHKAN PERSOALAN SEBESAR APA PUN


Baca:  1 Yohanes 5:1-5

"Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?"  1 Yohanes 5:5

Dari 12 orang pengintai yang diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan, 10 orang di antaranya membawa kabar buruk.  Kata mereka,  "Negeri yang telah kamu lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.  Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."  (Bilangan 13:32-33).  Mereka sangat pesimis bisa masuk ke Kanaan!  Adalah mustahil untuk bisa mengalahkan 'raksasa-raksasa', pikirnya.  Tetapi Kaleb berkata,  "Tidak!  Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya."  (Bilangan 13:30).

     Apa yang timbul di pikiran jika mendengar kata 'raksasa'?  Yang kita bayangkan sosok makhluk tinggi besar dan sangat menakutkan!  Ketika harus menghadapi Goliat, pahlawan bangsa Filistin yang tingginya enam jengkal, raja Saul dan rakyatnya mengalami ketakutan yang luar bisa.  Tetapi Daud, orang muda yang disertai Tuhan itu berkata,  "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia;  hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu."  (1 Samuel 17:32).

     Raksasa berbicara tentang masalah dan pergumulan yang sedang kita hadapi.  Seringkali kita pun menjadi takut, tawar hati dan putus asa oleh karena permasalahan yang ada dan masalah itu sepertinya sulit terselesaikan, bak raksasa yang siap menerkam kita.  Bagaimana supaya kita menang terhadap raksasa?  1.  Tahu siapa Tuhan itu bagi kita.  Pengenalan akan Tuhan secara benar akan menjadi kunci penting bagi kemenangan setiap orang percaya.  Daud berkata,  "Adapun Allah, jalan-Nya sempurna;  janji Tuhan adalah murni;  Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya."  (Mazmur 18:31).  2.  Tahu siapa kita di dalam Tuhan.  Tertulis:  "...dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  (Roma 8:37).  Oleh karena itu "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."  (Filipi 4:13).

Tak perlu takut menghadapi persoalan yang ada karena kita memiliki Tuhan yang berkuasa dan di dalam Dia kita lebih dari pemenang, dan bersama Yesus kita dapa melakukan perkara yang besar!

Sunday, March 3, 2013

YANG MENINGGIKAN DIRI AKAN DIRENDAHKAN!

Lukas 14:7-11

"Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."  Lukas 14:11

Segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu menawarkan kemewahan, kenikmatan dan popularitas sehingga banyak orang tergiur dengan tawaran dunia.  Namun semua itu tidak ada yang free, melainkan ada harga yang harus dibayar dan semua dinilai dengan uang.

     Selagi kita memiliki uang banyak atau harta kekayaan kita pun dapat memiliki apa yang kita mau.  Dan tanpa disadari, tidak sedikit orang Kristen yang merasa diri kaya, pandai, punya kedudukan mapan, sukses dalam bisnis dan sebagainya, tidak lagi mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, lebih mengandalkan kekuatan dan kemapuan diri sendiri.  Firman Tuhan dengan keras menyatakan,  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!"  (Yeremia 17:5).  Ingatlah, berapa pun kekayaan yang kita miliki, sepandai apa pun kita dan sehebat apa pun manusia, "...hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;  apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi."  (Mazmur 103:15-16).  Di dunia ini tidak ada yang abadi;  jadi kalau kita mengandalkan apa yang kita miliki, meskipun harta kita tidak habis sampai tujuh turunan, adalah sia-sia belaka.  Dan apabila suatu saat semua itu diambil Tuhan, kita pun tidak dapat berbuat apa-apa.  Kita harus ingat bahwa semua kesuksesan, kekayaan dan kejayaan yang kita raih itu adalah anugerah dari Tuhan dan kita tidak patut membanggakan diri.

     Rasa ingin dihargai dan dipuji adalah awal kesombongan.  Terlebih lagi saat Tuhan mempercayakan kita untuk melayaniNya.  Dengan karunia-karunia yang kita miliki, jika kita tidak mampu menjaga hati, kita bisa mencuri kemuliaan Tuhan.  Lucifer adalah malaikat sorga yang cantik rupawan yang selalu memuji Tuhan, namun ketika merasa dia paling diperhatikan Tuhan timbullah rasa sombong sehingga ia pun berpikir untuk menyamai Tuhan.  Karena kesombongannya Lucifer diusir dan dibuang ke bumi.  Saat ini banyak orang ingin unjuk kebolehan dan gila hormat, bahkan memandang orang lain dengan sebelah mata.  Pujian dan penghargaan manusia yang mereka cari.  Tuhan sangat membenci mansia yang tinggi hati.

"Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan."  Amsal 22:4

KETAATAN ABRAHAM: Kunci Mengalami Terobosan Baru!

Kejadian 12:1-9

"Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur;  dan engkau akan menjadi berkat."  Kejadian 12:2

Pemazmur menegaskan bahwa  "Janji Tuhan adalah janji yang murni bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.  Engkau, Tuhan, yang akan menepatinya,"  (Mazmur 12:7-8a).  Janji Tuhan adalah ya danamin, tidak ada yang tidak ditepatiNya.  Tuhan tidak hanya berjanji akan memberkati Abraham secara melimpah, tapi juga berjanji hendak menjadikannya berkat bagi bangsa-bangsa, dan janji itu pun tergenapi.  Bahkan setiap kita yang beriman kepada Yesus Kristus disebut sebagai keturunan Abraham dan kita pun berhak menerima janji Allah  (baca  Galatia 3:29).

     Kehidupan Abraham sampai pada masa tuanya diberkati Tuhan secara luar biasa.  Sungguh nyata benar apa yang tertulis dalam Yesaya 46:4 bahwa,  "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus;  Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  Mengapa Abraham mengalami dan menikmati berkat-berkat yang luar biasa dari Tuhan?  Apa yang telah diperbuat olehnya?  Ketika diperintahkan Tuhan untuk pergi dari negerinya dan juga dari sanak saudaranya ke suatu negeri yang belum diketahui secara pasti, Abraham taat: "...pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya,"  (Kejadian 12:4).

     Setiap kita yang rindu masuk ke dalam rencana Tuhan, baik dalam hidup di dunia ini maupun untuk yang akan datang, biarlah kita mau belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Abraham.  Mari kita belajar taat karena ketaatan adalah kunci mengalami terobosan baru!  Namun sebelum memberkati, Tuhan meminta milik Abraham yang paling berharga dan yang terbaik, yaitu anak semata wayangnya.  FirmanNya,  "Ambillah anakmu yang tungal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."  (Kejadian 22:2).  Abraham tidak kecewa, mengeluh atau membantah dengan Tuhan, dipersembahkanlah Ishak kepada Tuhan.  Sudahkah kita memberi yang terbaik dari hidup kita  (waktu, tenaga, talenta, materi)  untuk Tuhan.

Saudara ingin mengalami terobosan dalam hidup ini?  Belajarlah untuk taat dan persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan.

Saturday, March 2, 2013

TETAP SETIA MESKI MELEWATI UJIAN

1 Timotius 3:8-13

"Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat."  1 Timotius 3:10

Untuk menjadi orang-orang yang berkualitas kita harus melewati proses atau ujian demi ujian.  Hal inilah yang disadari Ayub:  "Karena Ia tahu jalan hidupku;  seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10).

     Itulah sebabnya rasul Paulus menyampaikan pesan penting kepada Timotius bahwa pemilik jemaat atau pun diaken (pelayan Tuhan) bukanlah sembarangan orang, tetapi haruslah orang yang telah teruji hidupnya dan memiliki kualitas hidup yang lebih dibanding lainnya.  Maka dari itu tak seorang pun dari kita yang akan luput dari ujian dan masing-masing orang akan mengalami ujian yang berbeda, dengan kadar yang berbeda pula.  Kita tidak akan beroleh promosi sebelum kita lulus dari ujian yang ada.  Contohnya adalah syarat-syarat bagi calon diaken:  "...haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci."  (1 Timotius 3:8-9).  Namun, inti dari kesemua persyaratan itu adalah kesetiaan.  Tanpa kesetiaan, apa pun tugas dan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada seseorang tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.  Jadi kita harus tetap setia mengerjakan tugas-tugas yang diberikan bagi kita meski ada ujian, tantangan dan harus melewati padang gersang sebagaimana bangsa Israel yang harus mengalami ujian di padang gurun selama 40 tahun lamanya.  Selama masa-masa ujian tersebut bangsa Israel memberontak, bersungut-sungut dan mengeluh kepada Tuhan.  Akibat dari ketidaksetiaan mereka menjalani proses ujian, sebagian besar dari mereka mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Mereka tidak dapat menikmati janji Tuhan karena tidak tahan saat harus mengalami kesukaran.  Seberat apa pun ujian yang harus kita lalui, yakinlah bahwa itu adalah bagian dari persiapan yang diberikan Tuhan bagi kita.

     Tuhan menghendaki agar kita tidak menyerah ketika berada dalam masa-masa pembentukan itu.  Kondisi inilah yang seringkali dimanfaatkan Iblis untuk melemahkan kita dengan berkata,  "Untuk apa setia?  Percuma.  Tidak ada gunanya kamu melayani Tuhan, toh hidupmu juga tidak diberkati.  Sakitmu belum juga sembuh.  Lebih baik mencari pertolongan lain dan menyerah saja."  Dan akhirnya, ada banyak orang Kristen yang tidak sabar dan menyerah di tengah jalan. 


 Titus 2:1-10

"Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita."  Titus 2:9-10

Di akhir zaman ini kesetiaan mahal harganya.  Sulit sekali menemukan orang yang setia.  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang yang setia, siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6).  Tidak sedikit dari kita yang menyerah dan berhenti dari apa yang sedang dikerjakan Tuhan dalam hidup kita, hanya sesaat sebelum Tuhan menyatakan pertolongan dan kuasaNya.  Sayang sekali, bukan?  Jadi selama masa ujian kita harus tetap setia, sebab kita tidak pernah tahu kapan kita akan menuai hasilnya.

     Orang yang setia adalah orang yang layak dipercaya dan konsisten.  Selalu ada upah bagi orang-orang yang setia.  Karena itu kita harus setia di mana pun Tuhan menempatkan kita.  Terhadap orang-orang yang memiliki otoritas kita harus belajar menghormati dan taat kepadanya, sebagai ujian yang nyata atas kesetiaan dan ketaatan kita.  Kita bisa belajar dari pribadi Daud.  Meski terus diburu dan dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya, Daud tidak menaruh dendam dan sakit hati kepada Saul.  Daud tetap setia dan taat kepada Saul sebagai pemilik otoritas di atasnya.  Bahkan ketika ia memiliki kesempatan membalas semua perbuatan Saul terhadapnya, ia tidak melakukannya.  "'Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.'  Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu;  ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul."  (1 Samuel 24:7-8).  Daud sangat menghargai dan menghormati urapan Tuhan dalam diri Saul.  Ia belajar untuk tetap mengandalkan Tuhan dan menantikanNya dengan setia.  Ia tidak bangkit melawan Saul.

     Mari kita belajar setia meski tidak ada orang yang tahu atau memperhatikan apa yang sedang kita alami.  Walaupun banyak tantangan dan ujian jangan menjadi lemah dan kecewa, tetapi setia mengerjakan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita, karena Tuhan sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang besar di dalam hidup kita.  Ia sedang membentuk karakter di dalam hidup kita dan memperlengkapi kita untuk jangka panjang.

"Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,"  Mazmur 18:26

PERUBAHAN SEBAGAI BUKTI NYATA

Baca:  Amsal 27:1-27

"Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri."  Amsal 27:2

Ada banyak orang Kristen yang seringkali menjadi kasak-kusuk banyak orang:  "Orang itu rajin ke gereja, tapi hidupnya kok tidak berubah ya?  Katanya sudah ikut pelayanan, tapi mengapa sifatnya masih seperti itu, tidak beda jauh dengan orang dunia?"  Hidup Kekristenan sebenarnya adalah suatu proses perubahan hidup, pikiran dan hati.  Tutur kata, sikap, tingakah laku atau perbuatan harus berubah!  Ditegaskan:  "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:  apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."  (Roma 12:2).

     Orang Kristen yang tidak berubah adalah orang Kristen yang mati rohaninya!  Lalu, bagaimana kita tahu bahwa kehidupan kita sudah berubah?  Kita akan tahu jika kita ini sudah berubah ketika orang lain mulai menyadari perubahan yang terjadi dalam diri kita, bukan kita sendiri yang menggembar-gemborkannya.  Ini berarti perubahan selalu akan memperlihatkan bukti yang dapat dilihat dengan jelas.  Seseorang dikatakan berubah, baik itu ke arah positif atau pun negatif, apabila diganti dengan perbuatan yang berbeda.  Contoh:  orang yang biasanya keluyuran malam  ('dugem')  kini sudah tidak lagi berbuat seperti itu, hidupnya benar-benar berubah, sekarang malah aktif di persekutuan-persekutuan doa;  orang yang dulu sukanya berkata jorok atau suka membicarakan orang lain, kini tidak lagi, kini perkataannya selalu membangun dan menguatkan orang lain.  Kita juga banyak mendengar kesaksian dari mantan napi yang hidupnya berubah 180 derajat, dan kini melayani Tuhan dan diurapi Tuhan secara luar biasa,

     Perubahan itu memerlukan bukti nyata, bukan hanya melalui perkataan kita, sebelum orang lain bisa mempercayai dan menerima itu sebagai sebuah kebenaran.  Jadi orang Kristen dikatakan hidupnya sudah berubah apabila ada bukti lahiriah yang dapat dilihat oleh orang lain dengan jelas sehingga menjadi kesaksian yang baik bagi mereka.

Sebagai manusia baru di dalam Kristus,  "...marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!"  Roma 13:12b