HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Saturday, March 16, 2013

TETAP KOKOH BERDIRI MESKI DI TENGAH BADAI

Matius 7:24-27

"Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu."  Matius 7:25

Meski berada di tengah badai persoalan, jika kehidupan rohani kita dibangun di atas pondasi yang kuat, kita akan tetap kokoh berdiri.  Sebaliknya, orang Kristen yag kehidupan rohaninya dibangun di atas pasir akan mudah hancur saat diterpa badai:  stres, frustasi, menyalahkan Tuhan dan lalu meninggalkan Tuhan.

     Membangun di atas batu  (pondasi yang kuat)  artinya mendengarkan firman dan juga melakukan firman itu.  Sedangkan orang yang membangun di atas pasir adalah orang yang mendengarkan firman tetapi tidak melakukannya.  Itulah sebabnya mengapa Tuhan mengijinkan kita berada di  'padang gurun'  atau mengalami badai persoalan, yaitu untuk membuktikan apakah kita sudah tinggal dalam firmanNya atau belum.  Dengan adanya masalah atau badai persoalan kehidupa rohani seseorang akan terlihat kualitasnya.

     Orang Kristen yang hidup dalam firman pasti akan tetap teguh berdiri meski berada di tengah badai, karena ia tahu benar bahwa jika Tuhan mengijinkan hal itu terjadi pasti tidak melebihi kekuatan dan Dia selalu menyediakan jalan ke luar.  Ada tertulis:  "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.  Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.  Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."  (1 Korintus 10:13).  Namun jika kehidupan rohani kita dibangun di atas pasir kita akan mudah terhempas ketika badai persoalan datang, karena kita tidak berakar kuat di dalam firman seperti yang dikatakan Ayub,  "Mereka menjadi seperti jerami di depan angin, seperti sekam yag diterbangkan badai."  (Ayub 21:18).  Kita tak ubahnya seperti sekam.  Apa itu sekam?  Sekam adalah kulit padi.  Sekam akan bertebaran ke mana-mana jika diterpa angin karena tidak memiliki berat  (ringan),  tidak berbobot.  Oleh karena itu mari terus melekat kepada Tuhan dan hidup seturut akan firmanNya.  Badai kehidupan boleh terjadi, tetapi bagi setiap orang percaya ada jaminan pertolongan dari Tuhan.

"Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus;  Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  Yesaya 46:4

TUHAN MENOPANG: Di Segala Perjalanan Hidup Kita!

Ulangan 1:19-33

"dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa Tuhan, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini."  Ulangan 1:31

Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi begitu lama dan sangat melelahkan.  Itulah yang dialami oleh bangsa Israel:  selama 40 tahun mereka harus melintasi padang gurun itu, mulai dari tanah Mesir sampai ke Kanaan, hanya dalam waktu beberapa hari saja.  Sebuah perjalanan yang tidak mudah karena di padang gurun hampir tidak akan kita jumpai tanaman, kecuali di tempat-tempat tertentu.  Belum lagi perbedaan suhu yang ekstrim antara siang dan malam, serta banyaknya binatang buas yang berkeliaran di padang gurun.  Mengapa bangsa Israel begitu lama berada di padang gurun?  Itu akibat dari ketidakpercayaan bangsa Israel sendiri sehingga Tuhan membiarkan mereka berputar-putar mengelilingi padang gurun tersebut selama 40 tahun hingga generasi pertama dari bangsa itu tidak ada lagi, hanya Kaleb dan Yosua saja dari generasi pertama bangsa itu yang memasuki Tanah Perjanjian.

     Dalam perjalanan hidup ini terkadang kita juga harus mengalami seolah-olah sedang berada di padang gurun.  Tetapi ada hal yang hendak Tuhan sampaikan kepada kita:  "Sebab Tuhan, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaan tanganmu.  Ia memperhatikan perjalananmu melalui padang gurun yang besar ini;  keempat puluh tahun ini Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, dan engkau tidak kekuarangan apa pun."  (Ulangan 2:7).  Di tengah badai kehidupan yang seberat apa pun janganlah sampai kita melupakan segala kebaikan Tuhan.  Pengalaman hidup bangsa Israel ini menjadi bukti nyata betapa sempurna penyertaan Tuhan terhadap mereka.  Namun meskipun berada di padang gurun selama bertahun-tahun bangsa Israel tetap berada dalam pemeliharaan Tuhan, sehingga mereka tidak kekurangan suatu apa pun juga.

     Seringkali ketika permasalah datang menerpa hidup ini kita bertanya:  di manakah Tuhan?  Kita merasa Tuhan tidak mempedulikan kita dan membiarkan kita bergumul sendirian.  Akibatnya kita menjadi lemah dan tak berdaya.  Ibarat sebuah bangunan,  'rumah rohani'  kita hancur berkeping-keping dan tinggal puing-puing berserakan.  Mengapa bisa terjadi? 

Sesungguhnya ada banyak orang percaya yang tetap kuat dan mampu bertahan di tengah persoalan.

PENTINGNYA KERENDAHAN HATI DALAM DOA

Baca:  Yakobus 4:1-10

"Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."  Yakobus 4:3

Pernahkah doa Saudara tidak dijawab oleh Tuhan?  Sebagian besar dari kita pasti akan menjawab,  "Wah, sudah tak terhitung banyaknya doa saya tidak dijawab oleh Tuhan."  Dan ujung dari semua itu adalah kita menjadi kecewa dan kemudian menyalahkan Tuhan.  Namun jarang sekali kita mau mengevaluasi diri mengapa doa kita sampai tidak dijawab oleh Tuhan, tidak pernah mengintrospeksi diri kita mengapa doa kita itu tidak dijawabNya.

     Ternyata sikap seseorang dalam berdoa juga sangat menentukan apakah doanya akan dijawab atau tidak oleh Tuhan.  Bila kita memiliki sikap hati yang benar dalam berdoa, apa saja yang kita minta dari Tuhan dalam nama Yesus Kristus, kita pasti akan menerimanya.  Kita harus ingat bahwa berdoa itu bukan hanya mengucapkan perkataan-perkataan yang teratur di hadapan Tuhan, melainkan suatu pernyataan dari tubuh, jiwa dan roh kita kepada Tuhan.  Hal ini berkenaan dengan hati kita.  Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan memandang hati kita,  "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;  manusia melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati."  (1 Samuel 16:7b), sebab suatu doa yang keluar dari dasar hati yang benar, walau diucapkan hanya dengan sederhana atau hanya melalui linangan air mata, akan sampai ke telinga Tuhan dan Dia pasti bertindak.

     Ada tertulis:  "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."  (Matius 5:5).  Kata lemah lembut ini berbicara tentang kerendahan hati.  Kerendahan hati dapat diartikan sebagai kemurnian atau kelemahlembutan.  Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata  'praios'  yang berarti juga lemah lembut, bisa diartikan seseorang yang memiliki penyerahan atau ketergantungan total kepada Tuhan.  Rasul Paulus juga menulis bahwa kerendahan hati atau kelemahlembutan adalah salah satu dari buah Roh.  Mengapa kita harus memiliki kerendahan hati?  Firman Tuhan menegaskan,  "Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan."  (Amsal 18:12).

Kerendahan hati adalah syarat yang mutlak yang Tuhan tetapkan untuk setiap orang yang rindu doa-doanya beroleh jawaban, sebab pintu hati Tuhan terbuka bagi orang-orang yang memiliki kerendahan hati.


Mazmur 34

"Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."  Mazmur 34:19

Petrus menasihati dalam 1 Petrus 5:5b-6,  "Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab:  'Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.'  Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya."  (1 Petrus 5:5b-6).

     Penting bagi setiap orang percaya memiliki kerendahan hati.  Perhatikan sikap dari seorang Farisi saat ia datang kepada Tuhan.  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:  "Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku."  (Lukas 18:11-12).  Orang Farisi tersebut datang kepada Tuhan tanpa kerendahan hati, ia memamerkan kebenaran dan kesucian hidupnya.  Siapakah kita ini di hadapan Tuhan, sehingga kita bersikap tinggi hati?

     Jangan pernah membanggakan diri oleh karena kita kaya, terpandang, sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun atau sudah melayani Tuhan.  Semuanya itu tidak boleh menjadi alasan untuk merasa sombong atau bermegah di hadapan Tuhan.  Ayat nas di atas menyatakan bahwa Tuhan begitu dekat dengan orang-orang yang memiliki hati hancur.  Inilah wujud kerendahan hati yang benar:  hati yang hancur disertai dengan linangan air mata, lalu tersungkur di bawah kaki Tuhan Yesus, memohon belas kasih dan kemurahanNya.  Hati yang hancur adalah suatu korban yang menyenangkan hati Tuhan;  tak ada sesuatu yang lebih berharga di mata Tuhan kecuali hati yang hancur.  Orang-orang yang patah, jiwa yang remuk, hati yang benar-benar merindukan Tuhan adalah modal bagi Tuhan untuk menjadikan mereka alat yang berguna bagi kemuliaanNya, karena hati yang hancur  (kerendahan hati)  adalah syarat yang penting untuk menghampiri Tuhan.  Dan doa yang dinaikkan kepada Tuhan dengan hati yang hancur selalu didengar dan dijawab oleh Tuhan.  Oleh karena itu jangan keraskan hatimu!

Tuhan Yesus sendiri juga banyak mencucurkan air mata dalam doaNya seperti tertulis:  "Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia,..."  (Ibrani 5:7).

Saturday, March 9, 2013

BUKTIKAN KALAU SAUDARA MENGASIHI TUHAN!

Yohanes 14:15-24 

"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia."  Yohanes 14:23

Sebagai orang percaya kita pasti akan tersinggung dan marah jika ada yang mengatakan,  "Kamu tidak mengasihi Tuhan!"  Dengan berbagai alasan kita akan menegaskan bahwa kita ini sangat mengasihi Tuhan, plus menyertakan  'bukti-bukti'  untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar mengasihi Tuhan:  "Aku sudah melayani Tuhan sebagai guru sekolah Minggu, Worship Leader, singer, tim penginjilan, tim musik di gereja, aktif di persekutuan-persekutuan doa, donatur gereja."  dan sebagainya.  Bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kita mengasihi Tuhan?

     Tidak sedikit orang Kristen terlibat dalam pelayanan bukan karena ia mengasihi Tuhan, tapi karena ada motivasi lain di balik itu:  ingin mencari nama  (popularitas)  diri sendiri, uang, rutinitas atau juga karena terpaksa.  Ada tertulis:  "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku."  (Matius 15:8).  Mengasihi Tuhan tidaklah cukup hanya sekedar diucapkan atau sebatas melalui kegiatan kerohanian yang kita lakukan.  Kita harus membuktikan kasih kita kepada Tuhan melalui perbuatan dan tindakan nyata.  FirmanNya menegaskan, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."  (Yohanes 14:15).

     Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa seseorang mengasihi Tuhan:  1.  Ia bersukacita melakukan firman Tuhan.  Kita menaati firman Tuhan bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati, tapi penuh sukacita.  2.  Ia memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan.  Jika kita mengasihi seseorang, kita akan menyediakan waktu terbaik untuk dia walau hanya sekedar untuk ngobrol atau jalan-jalan.  Tertulis:  "...Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia."  3. Ia tetap kuat di tengah pencobaan.  Seberat apa pun masalah yang dialami, sikap hatinya tetap positif karena dia tahu persis bahwa  "...Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,..."  (Roma 8:28).  4.  Ia memiliki kehidupan dalam kasih.  Dikatakan,  "Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya."  (1 Yohanes 4:21).

Kasih yang berkenan kepada Tuhan bukan sekedar diucapkan di mulut saja, tetapi dibuktikan melalui sikap hidup kita yaitu ketaatan.

DUDUK DIAM DI BAWAH KAKI YESUS!

Baca:  Lukas 10:38-42

"Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya."  Lukas 10:39b

Adalah lebih mudah bagi seseorang untuk tampil di muka, berbicara, tampak sibuk dan dikenal oleh banyak orang, karena hampir semua orang ingin pekerjaannya dipuji dan dihargai oleh orang lain.  Tetapi tidak mudah bagi kita untuk duduk di tempat yang 'rendah' dan mau menjadi seorang pendengar yang baik.

     Inilah yang dilakukan Maria, memilih duduk diam di bawah kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataanNya.  Maria menyadari bahwa  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).  Ini menunjukkan bahwa Maria telah terbiasa merendahkan diri mencari Tuhan dengan sepenuh hati dalam doa, sehingga mudah baginya duduk tenang berjam-jam mendengarkan apa yang Yesus ajarkan.  Berbeda dengan saudaranya, Marta, yang lebih memilih menyibukkan diri sampai-sampai Yesus menegurnya,  "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,"  (ayat 41).  Orang yang senang duduk diam di bawah kaki Tuhan dan mencari wajahNya adalah orang yang tekun berdoa, bukan hanya berdoa untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga tipe orang yang terbeban.

     Sesibuk apakah kita sehingga tidak memiliki waktu untuk duduk diam di bawah kaki Tuhan?  Jangankan berdoa syafaat, berdoa untuk diri sendiri saja mungkin kita jarang melakukannya.  Berdoa adalah membangun hubungan dengan Tuhan, sedangkan bersyafaat artinya menghubungkan orang lain dengan Tuhan, atau berdoa untuk kepentingan orang lain.  Mengapa kita harus mendoakan orang lain?  Karena kita ada sebagaimana saat ini juga tidak terlepas dari doa syafaat yang dipanjatkan saudara seiman lainnya.  Yakobus 5:16 mengatakan,  "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.  Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Jadi Tuhan hanya mendengar doa yang dinaikkan oleh orang benar.  Siapa orang benar itu?  Orang yang hidup dalam ketaatan (melakukan firmanNya).  Ada pun kata dengan yakin berarti percaya dengan sungguh dan tidak ragu.  Alkitab menyatakan bahwa Tuhan  "...melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia."  (2 Tawarikh 16:9a).

Ketekunan Maria dalam doa menghasilkan dampak yang luar biasa:  Tuhan mendengar doanya sehingga Lazarus yang sudah mati selama 4 hari dihidupkan kembali.

JANGAN SEDIH HATI, BERGEMBIRALAH!

Baca:  Amsal 17

"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."  Amsal 17:22 

Dalam versi The Amplified Bible ayat nas di atas berbunyi demikian:  "Hati yang gembira adalah obat yang manjur dan pikiran yang ceria memberikan kesembuhan."  Ternyata hati yang gembira dan pikiran yang ceria  (positif)  bisa menjadi obat yang mujarab dan menyembuhkan.  Karena itulah rasul Paulus juga menasihati jemaat di Filipi,  "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!  Sekali lagi kukatakan:  Bersukacitalah!"  (Filipi 4:4).

     Mengapa kita harus bersukacita senantiasa?  Karena dengan bersukacita hati kita akan tetap terjaga dalam kondisi yang baik sehingga pikiran dan perkataan kita pun akan positif,  "karena yang diucapkan mulut meluap dari hati."  (Matius 12:34b).  Kapan Saudara memiliki hati yang gembira?  Ketika hutang-hutangku sudah terbayar lunas, hati jadi gembira;  hatiku bergembira kala melihat anak-anak tumbuh dengan sehat dan pintar;  hatiku bergembira karena aku lulus dengan nilai memuaskan dan diterima di sekolah favorit.  Bergembira saat kita mengalami dan merasakan hal-hal yang menyenangkan, itu wajar.  Bagaimana jika kita sedang menghadapi masalah, terbaring lemah karena sakit, dapatkah hati kita bergembira?

     Banyak cara dilakukan orang untuk menjaga hatinya agar bergembira, salah satunya adalah dengan mendengarkan musik.  Ketika kita mendengarkan musik kita turut bersenandung dan hati pun terhibur.  Jika kita memiliki hati yang gembira tugas yag berat pun terasa ringan untuk dikerjakan, sepertinya ada energi baru yang mengalir.  Sebaliknya jika hati kita suntuk, sedih dan stres, seringan apa pun pekerjaan, terasa berat untuk dikerjakan.  Kita menjadi lemah dan tak berdaya.  Mana yang Saudara pilih:  terus menggerutu dengan muka masam selama menghadapi masalah, atau menghadapi masalah dengan hati tetap gembira?  Jika hati kita semakin gembira kita akan menjadi semakin sehat.  Bahkan di dalam Amsal 15:13 dikatakan:  "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."  Ternyata selain menjadi obat yang manjur, hati yang gembira membuat muka kita menjadi berseri-seri, dan orang lain pun akan senang melihatnya.

     Mari belajar tetap bergembira di segala keadaan sehingga orang di sekeliling kita juga terkena dampak positifnya.  Belajarlah menikmati apa pun yang sedang kita kerjakan dan alami.

Yakinlah bahwa kita tidak sendirian, ada Yesus yang selalu peduli.

MELEKAT PADA TUHAN: Syarat Utama Berbuah

Baca:  Yohanes 15:1-8

"Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur,..."  Yohanes 15:4b

Pohon dan ranting atau carang merupakan simbol dari hubungan yang erat.  Carang tidak akan mungkin hidup, apalagi menghasilkan buah, jika tidak menyatu dengan pokoknya.  Pokok menjadi sumber utama dan tempat hidup bagi carang.  Demikian pula hubungan orang percaya dengan Kristus, dapat bertumbuh dan menghasilkan buah hanya jika melekat kepada Tuhan,  "...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (ayat 5b).  Jadi Tuhan Yesus Kristus adalah sumber hidup bagi kita, dan di luar Kristus kita tidak akan hidup alias mati.

     Tuhan menghendaki kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang berbuah dan itu adalah proses.  Dalam dunia pertanian ada istilah yang disebu dengan pemangkasan.  Ada pun tujuan pemangkasan adalah untuk menyingkirkan daun dan carang kering yang tidak berguna atau berpenyakit yang dapat mengurangi kemampuan pohon untuk berbuah.  Oleh karena itu kita harus mengijinkan Tuhan membentuk kita, karena Dia memanggil kita untuk dijadikan  'orang-orang yang berbeda'  dan untuk melakukan perkara yang besar bersama Dia.  Firman Tuhan adalah alat untuk membentuk kita:  sebagai gunting pemangkas sifat dan kebiasaan buruk kita yang menghalangi kita berbuah.  Tertulis:  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Orang Kristen yang sudah mengalami proses pemangkasan akan meghasilkan buah.  Memang, dipangkas berarti sakit dan terluka, tapi semua itu mendatangkan kebaikan bagi kita,  "Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat;  Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula."  (Ayub 5:18).

     Ada pun buah yang dimaksud pada renungan hari ini adalah karakter Kristiani atau disebut pula dengan sembilan buah-buah Roh  (Galatia 5:22-23).  Buah Roh bersifat utuh  (tunggal)  tetapi memiliki sifat yang berbeda.  Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk mementingkan salah satu atau beberapa sifat tertentu dan menolak sifat lainnya dengan alasan apa pun.  Dalam arti lain, buah yang dihasilkan dapat pula mengacu pada jiwa-jiwa baru yang dibawa keapda Tuhan  (baca  Filipi 1:22).

Jika kita tinggal di dalam Kristus, Ia juga akan tinggal di dalam kita, artinya Ia akan memimpin dan menuntun hidup kita