HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Saturday, January 28, 2012

Memper-tuhan-kan Berhala

SETIAP aturan pokok, agar jelas penerapannya dan tidak simpang siur penafsirannya, memerlukan "juk-lak". Petunjuk pelaksanaan. Kita dapat mengatakan, bahwa perintah kedua dari Dasa Titah, "JANGAN MEMBUAT BAGIMU PATUNG YANG MENYERUPAI APA PUN . JANGAN SUJUD MENYEMBAH KEPADANYA ATAU BERIBADAH KEPADANYA" (Keluaran 20:4), adalah "juk-lak"nya perintah pertama, "JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN DI HADAPAN-KU". 

Kalimatnya gamblang. Tak sulit dipahami. Tapi, awas, makna serta implikasinya ternyata mudah sekali di"pelintir" dan disalah-pahami! Karena itu, saya harap Anda berhati-hati. 

Misalnya, saya mohon, perintah ini janganlah Anda pahami secara harafiah semata. Sehingga kemudian, seolah-olah -- seperti "narkoba" -- semua patung, arca, bahkan lukisan, Anda "tabu"kan sebagai barang terlarang untuk dibuat dan di"konsumsi" orang. Bahwa, tanpa pandang bulu, semua jenis patung serta merta Anda kutuk sebagai berhala. Dan sebagai konsekuensinya, semua seni-rupawan dan perajin-nya Anda vonis sebagai pelanggar serius "perintah kedua". Jangan! 

Imbauan saya tersebut, sama sekali tidak mengada-ada. Sebab, konon, gara-gara penafsiran seperti itu, di tempat-tempat tertentu seni rupa dan seni lukis (kecuali kaligrafi) diharamkan. Yang berani muncul ditumpas habis, sebab dianggap sebagai penyebab paling berpotensi untuk membuat orang menjadi penyembah-penyembah berhala; melakukan "syirk". 

Bukan cuma itu. Di dalam tubuh kekristenan sendiri, ada pula aliran yang begitu "anti" dan "alergi"-nya, sehingga segala bentuk dan jenis patung menurut mereka mesti dibuang, dibakar, atau dihancurkan. "Benda-benda itu adalah sarang iblis, setan, dan kuasa-kuasa kegelapan!," ujar mereka dengan sengitnya. 

Menurut pendapat saya, kalau mereka mau menghancurkan atau membuang patung-patung milik sendiri sih, silakan saja. Itu sepenuhnya adalah hak asasi mereka. Tapi kalau - seperti yang sering saya dengar - kemudian mereka memaksa, menakut-nakuti, serta mengancam orang lain agar melakukan yang sama, wah, menurut saya, ini jelas-jelas bukan sikap yang lahir oleh pimpinan atau inspirasi Roh Kudus. 

Mengapa saya berani memastikan itu? Sebab menurut Firman Tuhan, pimpinan Roh Kudus akan tercermin antara lain melalui, "kesabaran, kemurahan, kebaikan, kelemah-lembutan, (dan) penguasaan diri" (Galatia 5:22-23). Sedang sikap mereka? Sungguh bertolak-belakang, bukan? 

Salah besarlah bila orang menyangka, bahwa iblis itu bersarang di patung-patung! Salah, sebab iblis itu paling gemar bersarang di mana? Ya! Di hati manusia! Di hati Anda. Di hati saya. Di hati para pembenci patung itu juga. 

Karena itu jangan sampai karena keasyikan memecahi keramik-keramik antik, iblis yang bersarang di hati malah justru dibiarkan meraja-lela dengan leluasa. Terlalu naif-lah orang yang berpikir, bahwa iblis itu bisa diusir dan dikalahkan dengan cara menghancurkan gentong-gentong dan mangkuk-mangkuk kuno. Sebab seandainya saja pemikiran itu benar, wah, Yesus tentu tidak perlu sampai berkorban jiwa di Golgota! 

Bacalah Alkitab 
Demikianlah dengan tidak jemu-jemu saya menganjurkan, bacalah Alkitab Anda dengan lengkap dan dengan cermat. Bila ini Anda lakukan, maka yang akan Anda dapati dari perintah kedua dari Dasa Titah, tidak cuma berbunyi "JANGAN MEMBUAT", tapi masih ada sambungannya. Yaitu, "JANGAN SUJUD MENYEMBAH ATAU BERIBADAH KEPADANYA". 

Jadi jelaslah, perintah ini sama sekali tidak bermaksud mau menghancurkan atau mengharamkan seni rupa dengan segala hasil karyanya. Yang ditentang dengan amat keras adalah, bila orang memberhalakannya. Yang terlarang adalah semua bentuk pemberhalaan (= idolatri) -- baik "dengan" atau pun "tanpa" patung! Yang diharamkan adalah segala jenis perbuatan yang "memper'tuhan'kan berhala" - baik "dengan" atau pun "tanpa" patung! 

Penyembahan berhala atau idolatri itu, bila kita pikir-pikir, sungguh amat paradoksal. Pada satu pihak, ia merupakan tindakan yang paling bodoh dan paling tidak masuk akal, yang bisa dilakukan oleh makhluk yang konon paling cendekia di alam semesta -- manusia! Pada lain pihak, sangat mudah dimaklumi. 

Nabi Yesaya berbicara mengenai ironi tersebut (Yesaya 44:9-20). Dan sarkastisnya serta sadisnya pernyataan Yesaya itu! Sang nabi bercerita mengenai beberapa potong kayu. Di mana sebagian dari kayu tersebut dibakar untuk menghangatkan tubuh. Sedang sebagian lagi dibakar untuk memasak makanan. Dan sebagian yang lain? O, ia dibentuk menjadi sesosok lelaki tampan atau wanita jelita, lalu ditempatkan di tempat terhormat, di dalam kuil pemujaan! Sebagai berhala! 

Begitulah, kata Yesaya, hakikat sesungguhnya berhala itu! Seratus persen buatan manusia. Bahannya tak sedikit pun lebih mulia dari pada bahan kayu bakar. Sepotong benda mati - tidak lebih! 

Yeremia juga menulis yang sama, demikian, "Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang. Berhala itu seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun tidak dapat" (Yeremia 10:3-5) 

Olok-olokan terhadap keberadaan berhala, dan ini berarti ejekan terhadap kebodohan para penyembahnya, secara tanpa tedeng aling-aling dapat pula kita baca pada sebuah naskah apokrifa, "Surat Yeremia". Disebutkan di situ bagaimana seorang perajin membuat mahkota bagi berhala-berhala, dengan bahan dan cara yang sama dengan apabila ia membuat perhiasan bagi gadis-gadis kecil. Bagaimana para imam mencuri emas dan perak yang menghiasi patung-patung itu, dan hasilnya mereka pakai untuk berfoya-foya di rumah bordil. Bagaimana berhala-berhala itu setiap pagi harus dibersihkan dari debu, sebagaimana layaknya perabotan biasa. Dan bagaimana burung gereja dan burung walet, bahkan kucing, menjadikan patung-patung itu sarang mereka. 

Orang harus membuatnya tegak, sebab patung-patung itu tak mampu bergerak. Atau jungkir balikkanlah ia, mereka tidak akan mampu melawan. Apabila terjadi kebakaran, imam-imam bisa lari mengungsi, tapi berhala-berhala itu tidak. Dengan takzim orang menyembahnya, tapi dengan mudah bisa merusak dan menghancurkannya. 

Kasat Mata 
Orang-orang moderen seperti kita tentu sudah jauh lebih "pandai" dibandingkan dengan nenek-moyang kita itu. Walaupun "agama-agama tradisional" dan animisme menggeliat bangun lagi di sana sini, orang yang terang-terangan menyembah berhala semakin langka. 

Tapi apakah ini otomatis berarti bahwa perintah kedua ini tidak relevan lagi? Justru sebaliknya! Sekarang ini, pelanggaran terhadap isi perintah ini malah kian menjadi-jadi. Telah menjadi begitu "lumrah"nya, sehingga orang tidak merasakannya sebagai pelanggaran lagi. 

Benarkah? Ya! Sebab materialisme - dengan manifestasinya, yaitu hedonisme, konsumerisme, dan pragmatisme - yang merupakan rohnya zaman moderen, tidak lain adalah penjelmaan kembali atau "re-inkarnasi" dari roh penyembahan berhala atau idolatri. Inti dan hakikatnya sama persis, yaitu memper"tuhan"kan yang bukan Tuhan. Menukar Tuhan yang hidup dengan benda-benda mati. Dan menjadikan benda-benda mati itu titik tolak kehidupannya, seluruh isi kehidupannya, dan segenap tujuan kehidupannya. 

Apa saja yang kini diberhalakan oleh manusia? O, bisa apa saja! Tapi yang jelas semuanya bersifat bendaniah, kasat mata, dan terukur dengan angka-angka. Sukses, misalnya, dinilai dan diukur secara material. Dan kebahagiaan dibayangkan sebagai kelimpahan atau kenikmatan yang bersifat material dan fisikal. Allah yang hidup ditukar dengan benda-benda yang bernama harta, pangkat, dan nikmat sesaat. 

Yang lebih ironis dan tragis adalah bahwa, disadari atau tanpa disadari, roh materialisme itu juga telah menyusupi alam berfikir anak-anak Tuhan dan gereja-gereja Tuhan. Gereja-gereja berlomba dan bersaing dengan sengit untuk meraih "sukses". Dan "gereja yang sukses", menurut ukuran para "materialis kristiani" itu adalah: gereja dengan sekian puluh ribu anggota, sekian milyar rupiah aset atau omset-nya, sekian kali jumlah kebaktian-nya, dan sekian ribu orang setiap tahun pertambahan keanggotaannya. Ini, saudara, adalah bentuk terselubung dari pemberhalaan. Ia menukar nilai-nilai spiritual dengan benda-benda, dengan angka-angka. 

Dan betapa bodohnya sebenarnya tindakan itu! Benda-benda mungkin membuat hidup manusia nampak "gilang-gemilang". Namun Firman Tuhan mengingatkan, "Dengan segala kegemilangan-nya, manusia tidak dapat bertahan. Ia sama dengan hewan yang dibinasakan" (Mazmur 49:13). Sama dengan hewan potong! 

Soalan: BAPA LEBIH BESAR DARI YESUS, JADI BAGAIMANA?


Yohanes 14:28
Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab BAPA LEBIH BESAR DARI PADA AKU.



Pembukaan 

Suatu kalimat yang diucapkan Yesus Kristus harus diteliti dengan cermat dan dalam.
Karena perkataanNya adalah Firman Allah sendiri yang pengertiannya tersembunyi dan hanya untuk dimengerti oleh murid2Nya.
Mengapa demikian?
Supaya tidak seorangpun yang dapat bermegah/sombong, sebab untuk boleh mengerti perkataan Yesus Kristus, seseorang harus merendah dulu menjadi muridNya, dan hanya mengerti jika dibukakan RohNya, jadi bukan karena kepandaian/hikmat manusia.

Yohenes 3:30-31
Ia (Yesus Kristus) harus makin besar, tetapi aku (Yohanes Pembabtis) harus makin kecil. Siapa yang datang dari atas (Yesus Kristus) adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.

Yohanes 8:43-44
Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku (Yesus Kristus)? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu ....



Pembahasan :

Yesus berkata : Bapa lebih besar daripada Aku.
Orang awam segera menangkap bahwa itu berarti Yesus lebih kecil dari Allah dan berarti Yesus bukanlah Allah.

Padahal Yesus tidak berkata : Allah lebih besar daripada Aku.
Jika Yesus berkata demikian, maka bisa dipastikan Yesus ada di luar dari pribadi Allah.
Tapi ternyata Yesus menyebut Bapa yang lebih besar, karena Dia adalah Anak Allah, dan Anak keluar daripada Bapa.
Artinya Yesus berada di dalam Allah, dan Yesus adalah Allah, tapi Bapa lebih besar dari Anak Allah.

Lalu apa arti sesungguhnya : Bapa lebih besar daripada Aku?

Kita harus mengingat seluruh Firman yang dikatakan Yesus Kristus, karena Firman Allah adalah kesatuan.
Yesus berkata : Dia keluar dari Allah/Bapa dan kembali kepada Allah/Bapa.

1. Tidak ada satu mahluk pun yang keluar/lahir dari Allah Pencipta, jadi semua mahluk ciptaan hanya dicipta/dibuat oleh Allah Pencipta. Maka Yesus bukanlah mahluk ciptaan, karena Dia langsung keluar/lahir dari Bapa/Allah.

2. Allah Pencipta tidak mungkin menduakan diriNya dengan apapun, maka tidak mungkin ada 2 Allah dalam semesta ini.
Maka sekalipun Yesus Kristus keluar/lahir dari Allah, Dia bukanlah Allah yang lain selain Allah Pencipta, melainkan Dia adalah Allah Pencipta Itu sendiri.
Karena sekali lagi, Allah Pencipta tidak mungkin mengeluarkan Allah Lain di luar diriNya sendiri.

Jadi pastilah Yesus yang keluar/lahir dari Allah, adalah Allah Itu Sendiri, Allah Yang Satu atau Allah Yang Sama dengan Bapa yang melahirkan Dia.
Maka sekalipun Yesus berkata Ia keluar (dalam pengertian 'lahir') dari pada Bapa, Dia selalu menekankan bahwa : Yesus ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Yesus, Bapa dan Yesus adalah Satu, karena Yesus tidak pernah berada di luar Allah, tapi Yesus ada di dalam Allah, dan Yesus adalah Allah.

Yohanes 10:30
Yesus : "Aku dan Bapa adalah satu."

Yohanes 14:10
Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.



Seperti yang disebutkan ayat di bawah ini ::


Yohanes 8:42
Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab AKU KELUAR DAN DATANG DARI ALLAH. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.


Dari ayat ini, Yesus sengaja berputar2 supaya orang2 fasik tidak mungkin mengerti maksudNya.
Padahal pahamilah, inilah maksudNya :

Jikalau kamu mengasihi Bapa, maka kamu pastilah mengasihi Aku, karena Aku adalah Bapa yang datang dari sorga. Aku datang bukan sebagai Aku sendiri. tapi Aku datang sebagai Bapa (menghadirkan/mewakili/menggantikan Bapa) untuk datang ke dunia.

Bukankah berkali2 di perjanjian lama, Allah berjanji untuk datang ke tengah2 Israel?
Bagaimana Allah yang tidak terlihat itu bisa datang dan disaksikan manusia, jika Dia tidak datang dalam wujud manusia?
Bukankah manusia sendiri sejak awal diciptakan menurut rupa Allah?
Lalu mengapa manusia harus bingung jika Allah datang dalam rupaNya sendiri sebagai Anak Manusia?


Kesimpulannya :apa arti dari kalimat 'Bapa lebih besar daripada Aku'?

Allah datang sebagai manusia di dalam Yesus Kristus, Dia telah merendahkan diriNya.
Maka saat dikatakan Allah (Yesus Kristus) kembali 'NAIK' ke sorga, berarti Dia akan kembali ditinggikan di posisiNya semula sebagai Allah di Dalam Sorga.
Tidak mungkin dikatakan Yesus bisa kembali ke sorga, jika Yesus bukan berasal dari sorga.
Padahal kita tahu, tidak seorang manusia pun yang berasal dari sorga dan bisa pergi naik ke sorga dengan sendirinya.
Maka artinya: Yesus bukanlah manusia biasa, tapi Yesus pastilah sejak mulanya berada di sorga, maka Dia adalah Allah itu sendiri!


Maka kata Yesus :
kamu (murid2) seharusnya gembira bila Yesus pergi ke sorga, karena artinya Yesus kembali akan ditinggikan di sorga seperti sejak semula, karena di sana Yesus akan menjadi Yang Terbesar sama seperti Bapa Yang Mahabesar, karena Yesus akan berada di dalam Bapa.
Dengan demikian, saat Yesus kembali ke sorga, segala sesuatu yang milik Allah adalah milik Yesus, dan Yesus adalah Allah.

Yohanes 13:3
Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah MENYERAHKAN SEGALA SESUATU KEPADA-NYA dan bahwa IA DATANG DARI ALLAH dan KEMBALI KEPADA ALLAH.



Maka, siapapun yang tidak mempercayai Yesus sebagai Allah, berarti mereka tidak percaya kepada Allah dan perkataan/firmanNya.
Barangsiapa yang mengganggap Yesus lebih kecil dari Allah atau menganggap Yesus bukanlah Allah, maka berarti mereka sedangkan merendahkan Allah Yang Sejati.

Perkataan ini keras, namun benar sepenuhnya!
Perkataan ini keras, supaya manusia cepat2 bertobat dan segera menyembah Yesus Kristus, Tuhan dan Jurusalemat Dunia yang sebenarnya.
Sebab barangsiapa yang menolak/menyangkal Dia, maka mereka akan binasa selama2nya!

KEADILAN dan KASIH ALLAH

Kedua ayat di bawah ini menyatakan sifat khas Allah bahwa Dia itu adil dan Dia itu kasih, karena kasih-Nya maka Dialah yang menjadi Juruselamat kita:

* Yesaya 45:21bLAI TB, Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! KJV, have not I the LORD? and there is no God else beside me; a just God and a Saviour; there is none beside me. Hebrew, 
הֲלֹוא אֲנִי יְהוָה וְאֵין־עֹוד אֱלֹהִים מִבַּלְעָדַי אֵל־צַדִּיק וּמֹושִׁיעַ אַיִן זוּלָתִי׃
Translit, HALO 'ANI YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) VE'EIN-'OD 'ELOHIM MIBALADAy 'EL-TSADIQ UMOSYI'AH 'AYIN ZULATI

* Mazmur 116:5 LAI TB, TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. KJV, Gracious is the LORD, and righteous; yea, our God is merciful. Hebrew, 
חַנּוּן יְהֹוָה וְצַדִּיק וֵאלֹהֵינוּ מְרַחֵם׃
Translit, KHANUN YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) VETSADIQ VELOHEYNU MERAKHEM


Kita juga mengenal sifat Allah yang lain bahwa Dia itu kudus (suci):

* Imamat 19:2b LAI TB, Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. KJV, Ye shall be holy: for I the LORD your God am holy. Hebrew, 
קְדֹשִׁים תִּהְיוּ כִּי קָדֹושׁ אֲנִי יְהוָה אֱלֹהֵיכֶם׃
Translit, QEDSYIM TIHYU KI QADOSY 'ANI YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) 'ELOHEYKHEM


Mari kita camkan ke-3 sifat Allah ini bahwa Dia itu AdilDia itu Kasih dan Dia itu Kudus!


Allah adil dan konsisten terhadap hukum yang ditetapkanNya. Karena Dia Kudus maka Dia tidak bertoleransi terhadap dosa. Kepada dosa Ia telah menetapkan hukum bahwa UPAH DOSA ITU MATI!

* Roma 6:23a 
Sebab upah dosa ialah maut; 

* Kejadian 2:17 
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."


Dosa mempunyai konsekwensi MATI (maut). Bagaimana caranya agar terbebas dari dosa? Maka, harus ada HARGA yang SETARA DENGAN NYAWA, yaitu kematian (nyawa yang diberikan) sebagai ganti dosa. 
Dan apakah yang dimaksud dengan Maut/ Mati disini? Mati dalam artian hakiki akibat dosa adalah KEMATIAN KEKAL. silahkan baca di adam-dan-hawa-vt259.html#p550 


MENGAPA ADA HARGA YANG TERLIBAT?

Ketika Anda rela mengampuninya, itu IDENTIK dengan Anda rela menyedot dan membayar harga kerugian yang tadinya Anda rasakan, yaitu kerugian moril maupun materiil. Anda mengampuninya dengan jalan menebus harga tersebut! Jadi dalam setiap pengampunan ada harga yang harus dibayar, yang menuntut suatu penebusan.

Kini, karena sudah ditetapkan oleh Allah sendiri, bahwa harga atau upah dosa adalah maut bagi setiap pelakunya, maka manusia tidak mungkin bisa membayar harga sebesar itu dengan usaha amal-ibadah atau cara apapun. Itu sama halnya dengan hukuman mati pengadilan yang tidak bisa dilunaskan dengan jasa-apapun yang pernah diperbuat oleh si terhukum!

Dalam pengertian semitik, telah dikenal bahwa dosa itu identik dengan hutang. Dan utang itu setara dengan harga suatu nyawa. Tuhan Yesus mengajarkan suatu doa sbb :

* Matius 6:12 LAI TB, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; bersalah kepada kami; KJV, And forgive us our debts (HUTANG), as we forgive our debtorsNIV, Forgive us our debts, as we also have forgiven our debtors.TR, και αφες ημιν τα οφειληματα ημων ως και ημεις αφιεμεν τοις οφειλεταις ημων Translit interlinear, kai {dan} aphes {ampunilah} hêmin {kami} ta opheilêmata {akan hutang-hutang (kesalahan2) } hêmôn {kami} hôs {seperti} kai {juga} hêmeis {kami} aphiemen {sudah mengampuni} tois {orang-orag} opheiletais {yang berhutang (bersalah)} hêmôn {(kepada) kami} 

Dalam pola pikir Semitik kata "dosa" itu adalah 'hutang'. Maka, "pengampunan dosa" menurut pola pikir orang Yahudi itu ibarat seseorang yang punya hutang tapi dianggap lunas. Karena itu 'setiap orang yang berhutang (bersalah) kepada kami' berarti 'setiap orang yang berdosa kepada kami'. Dalam Matius 6:12 penggunaan kata 'hutang' dalam arti 'dosa', yang persamaannya bisa kita lihat dalam Kitab Lukas dibawah ini

* Lukas 11:4 LAI TB, dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."KJV, And forgive us our sins; for we also forgive every one that is indebted to us. And lead us not into temptation; but deliver us from evil. NIV, Forgive us our sins, for we also forgive everyone who sins against us. And lead us not into temptation."TR, και αφες ημιν τας αμαρτιας ημων και γαρ αυτοι αφιεμεν παντι οφειλοντι ημιν και μη εισενεγκης ημας εις πειρασμον αλλα ρυσαι ημας απο του πονηρουTranslit interlinear, kai {dan} aphes {ampunilah} hêmin {kami} tas hamartias {(akan) dosa-dosa} hêmôn {kami} kai {juga} gar {sebab} autoi {sendiri} aphiemen {kami mengampuni} panti {setiap (orang)} opheilonti {yang berhutang (bersalah)} hêmin {terhadap kami} kai {dan} mê {janganlah} eisenegkês {membawa} hêmas {kami} eis {kedalam} peirasmon {godaan} alla {tetapi} rusai {lepaskan} hêmas {kami} apo tou {dari} ponêrou {yang jahat}


DOSA = HUTANG

Perhatikan dalam Lukas 11:4 ini dimana kata "dosa" (Yunani, "αμαρτια - hamartia") diparalelkan dengan kata "hutang" (Yunani, "οφειλο - opheilo"). 

Disini, Lukas menyajikan makna "hutang" sebagai "dosa" yang lazim dalam faham semitik kepada orang-orang non-Yahudi. 

Lukas adalah seorang petobat Yunani, satu-satunya orang bukan Yahudi yang menulis sebuah kitab di dalam Alkitab. Lukas menulis Injil ini kepada orang-orang bukan Yahudi guna menyediakan suatu catatan yang lengkap dan cermat "tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat". Maka wajar jika secara khusus Lukas menunjukkan apa arti "hutang" yang dirujuk sebagai "dosa" oleh masyarakat semitik.

Matius 6:12 dan Lukas 11:4 adalah doa memohon pengampunan dan sekaligus mengakui untuk senantiasa mengampuni. Penerapan ayat ini dijelaskan dalam perumpamaan Yesus Kristus dalam Matius 18:21-35 (lihat di http://portal.sarapanpagi.org/renungan/mengampuni.html ).

Yesus menggunakan perumpamaan seseorang yang berhutang dengan sejumlah besar uang yang tidak mungkin ia sanggup membayarnya. Hutang yang besar ini adalah gambaran dosa-dosanya yang besar.

-----

LEX TALIONIS

Selain mengenal Dosa = Hutang. Orang-orang Yahudi sejak Perjanjian Lama telah mengenal Hukum Pembalasan setimpal (Lex Talionis)

* Ulangan 19:21 LAI TB, Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki. KJV, And thine eye shall not pity; but life shall go for life, eye for eye, tooth for tooth, hand for hand, foot for foot.Hebrew,
וְלֹא תָחֹוס עֵינֶךָ נֶפֶשׁ בְּנֶפֶשׁ עַיִן בְּעַיִן שֵׁן בְּשֵׁן יָד בְּיָד רֶגֶל בְּרָֽגֶל׃ ס 
Translit, VELO' TAKHOS EINEKHA NEFESY BENEFESY AYIN BE'AYIN SYEN BESYEN YAD BEYAD REGEL BERAGEL

Dosa = Hutang, Dosa upahnya maut, artinya Dosa harus dibayar dengan Nyawa. NYAWA GANTI NYAWA!



Image

Andaikata upah dosa bukan maut, melainkan misalnya saja hukuman : "tidur tidak tentram", atau "badan gatal-gatal", maka boleh jadi kita-kita ini masih bisa membayar harganya lewat uang zakat, sedekah, amal-ibadah baik dll. Namun, ingatlah bahwa, hukum yang ditetapkan Allah adalah: "dosa itu upahnya MAUT". Maka, demi keadilan Allah, upah/ harga tersebut harus dibayarkan. tidak boleh tidak!
Apabila manusia hendak membayar sendiri hutang tersebut, satu-satunya jalan adalah kematian kekalnya sendiri, artinya itu adalah hukuman mati sendiri, dan ini berarti bahwa hutang tersebut tak terbayarkan oleh manusia. 

Disatu pihak, Allah itu Adil, Ia konsekwen dalam penerapan hukum, di lain pihak Allah itu Mahakasih, sehingga Ia mengampuni. Namun, Dia tidak bisa begitu saja mengampuni, karena terkait dengan Maha Adil-Nya itu, Ia harus menghukum si pendosa. Sebagai Allah yang Maha Adil dan Suci, setitik dosa-pun harus dipertanggung-jawabkan dalam "prosedur penghakiman" yang paling konsekwen. "Allah tidak bisa menyangkal diriNya sendiri" (1 Timotius 2:13). Ia yang Maha Adi dan Suci menuntut keadilan dan kesucian absolute. Ia tidak mungkin Maha Adil apabila hanya sekedar "melupakan" atau "membiarkan" kesalahan seseorang tanpa mempertanggung-jawabkannya dengan suatu harga (penebusan).

Dan... Allah memberikan cinta-kasihnya dengan membayar harganya dengan penebusan melalui darah Yesus Kristus. Allah sendiri yang dating sebagai manusia, Ia mengantikan sendiri Hutang Dosa dengan nyawa diri-Nya sendiri

Terhadap Dosa, Allah yang Maha Suci (Kudus) tidak akan bertoleransi dengan najis ini (karena memang tidak kompatibel/ berserasi dengan Maha Adil dan KesucianNya). Namun Allah tidak akan Maha Kasih-Penyayang. Allah yang Maha-Kasih harus rela mengampuni, berapapun harga yang harus dibayar! Dengan harga penebusan dengan NYAWANYA sendiri itulah, Allah bisa MENGAMPUNI dosa kita secara berkeadilan, yang akan menjembatani ketegangan antara KasihNya dan Adilnya Allah.

Salib Kristus melambangkan penebusan. Suatu harga yang telah dibayar tunai oleh Yesus Kristus kepada setiap anak-anakNya yang mau meminta pengampunan kepadaNya.
Disinilah kita menemukan yang tidak ditemukan pada agama lain bahwa "seorang" Tuhan itu berkorban bagi makhluk ciptaanNya yang berdosa demi mendamaikan diri mereka dengan Allah yang Maha Adil dan maha Kudus.

Yohanes Pembabtis menamakan Yesus Kristus sebagai : "Anak Domba Allah (Korban) yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Dan Gabriel menyebutNya sebagai [url= gelar-yesus-kristus-vt85.html#p173]"Juruselamat, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka" (Lukas 2:11, Matius 1:21).

Untuk memberi ilustrasi tentang prosedur "pengampunan hakiki" ini dicontohkan satu kasus sbb :
    Ada cerita tentang seorang wanita muda yang tertangkap di diskotik ketika sedang diadakan razia narkoba oleh aparat negara. Ia dihadapkan ke meja-hijau. Jaksa penuntut membacakan dakwaan dan tuntutan. Maka, sang Hakim-pun bertanya kepada si tertuduh : “Anda bersalah atau tidak bersalah?”
    Gadis tersebut mengaku bersalah, minta ampun dan ingin bertobat. Namun sang Hakim yang adil itu tetap mengetuk palunya mendenda Rp. 10,000,000.-- atau penjara 3 bulan. Tiba-tiba terjadi hal yang mengagetkan semua orang dalam sidang tersebut. Sang Hakim turun dari kursinya sambil membuka jubahnya. Ia segera menuju kursi si terhukum, mengeluarkan uang 10juta dari tas-nya untuk membayar denda si gadis. Mengapa? Ternyata sang hakim tersebut adalah bapak dari si gadis. Walau bagaimanapun cinta yang bapak kepada anak-gadisnya, ia tetaplah Hakim yang adil dan tidak bisa berkata : “Aku mengampuni kamu, karena kamu menyesal dan bertobat”. Atau mengatakan : “Karena cintaku kepadamu, maka Aku mengampuni kesalahanmu”.

    Hukum keadilan tidak memungkinkan sang Hakim mengampuni dosa anaknya dengan sesukanya “tanpa prosedur harga”. Maka ia yang begitu mengasihi anaknya bersedia turun dari kursi dan menanggalkan jubah kehakimannya, lalu menjadi wali untuk membayar harga denda. Inilah jalan satu-satunya bagi seorang hakim yang adil untuk memberi pengampunan bagi seorang terhukum yang dikasihinya

Dan inilah analogi untuk Yesus Kristus yang menanggalkan jubah keilahianNya dan turun ke dunia menjadi manusia demi untuk membayar harga MAUT di kayu salib, yang tidak sanggub dibayar oleh si pendosa sendiri yang sudah terhukum mati. Yesus telah mengatakannya secara lurus, tanpa usah tafsiran, bahwa ‘Anak Manusia (Yesus) datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan (nyawa) bagi banyak orang’ (Markus 10:45).


Maka HAK-QISAS (hukum pembalasan yang setimpal/ Lex Talionis) terhadap hutang nyawa, kini dipenuhi dalam kematian Yesus bagi manusia : "nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan… luka ganti luka, bengkak ganti bengkak" (Keluaran 21:24). Demi menebus kematian Anda dan saya!.

Konsep ini seringkali dipermasalahkan oleh teman-teman Muslim, karena memang Teologi Muslim tidak mengenal konsep penebusan (yang bersifat anugerah ilahi), melainkan hanya mengenal "Timbangan Al-Hayat" (yang bersifat usaha diri dalam mencari ridha Allah lewat ibadah-amal-pahala). Ketika timbangan Al-Hayat seseorang berneraca positif untuk amal pahalanya, maka ia akan diselamatkan oleh Allah. Maka segera terlihat bahwa umat Muslim yang sering mempermasalahkan 'dosa-waris' dan "Hakikat penebusan dosa oleh Yesus Kristus", justru tidak mempunyai cara untuk menerangkanbagaimanakah Allah bisa-bisanya Maha Kasih (yang mengampuni dosa) padahal Ia juga Maha Adil (yang menghukum dosa).

Setiap penerangan tentang pengampunan dosa yang mengabaikan "konsep penebusan" akan berakhir dengan saling berkontradiksi pada diri Allah. Sebab jikalau Allah mengampuni semata-mata karena Maha Kasih-PenyayangNya, maka tentulah Ia tidak Adil. Pengampunan model begini adalah keputusan tanpa dasar apapun kecuali sewenang-wenang. Allah yang Maha Adil, Maha benar dan Suci itu sungguh tidak bisa begitu saja menyebut "putih" atas sesuatu yang sebenarnya "hitam".

Hukum dan Jalan Allah itu lurus, Ia tidak bisa sesukanya mengingkari diriNya sendiri! Dengan cara pengampunan dengan Kurban Yesus di kayu Salib, yaitu Allah sendiri yang datang menyerahkan nyawa-Nya sendiri ganti dosa. Allah membuktikan dirinya bahwa Ia itu Maha Adil sekaligus Ia itu Maha Kasih. Haleluyah!