HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Tuesday, February 21, 2012

Berbuat Adil


Judul ini perlu direnungkan secara mendalam oleh setiap insan Indonesia, terlebih karena estafet kepemimpinan bangsa baru saja berlangsung, baik legislatif maupun ekesekutif. Rakyat berharap melalui pergantian kepemimpinan ini, akan terjadi perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya berkenaan dengan kehidupan ekonomi yang adil dan yang lebih baik sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan dan penderitaan rakyat.Harapan ini bisa terwujud kalau para pemimpin bangsa dan seluruh komponen masyarakat berlaku adil.
Pesan ini juga pernah disampaikan oleh nabi Musa kepada Yosua di tengah-tengah kehidupan sejarah umat pilihan Tuhan, yakni Israel, tatkala tongkat estafet kepemimpinan segera akan beralih dari Musa kepada Yosua, maka Musa berpesan bahwa jika mereka tiba di Tanah Perjanjian, menetap di sana dan membangun kehidupan di segala bidang maka nilai-nilai keadilan harus diberlakukan dan menjadi warna yang melekat kuat serta mencolok di tengah-tengah kehidupan mereka. Pesan itu tepatnya berbunyi demikian :"Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang benar" (Ulangan 16:19).

Nilai-nilai keadilan, tidak hanya berlaku di dunia peradilan tetapi juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan bersama, bermasyarakat dan berbangsa, harus dipraktekkan dari hari ke hari. Nilai-nilai keadilan mengandung makna bahwa dalam suatu kehidupan bersama bukanlah permainan untuk saling meniadakan. Artinya dalam mencapai berbagai keberhasilan hidup di bidang sosial-ekonomi, politik, pendidikan, budaya dan sebagainya tidak dicapai dengan mengorbankan orang lain.
Dalam hubungannya dengan kepemimpinan tersebut untuk menata kehidupan masyarakan lebih lanjut maka mereka harus mengangkat para hakim. Hakim dalam kehidupan bangsa Israel kedudukannya tidak sama seperti yang ada dalam dunia peradilan modern. Namun esensi bahwa kasus yang tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan akan dibawa kepada hakim dan melalui proses mendengar, menimbang maka hakim yang akan menyatakan atau memutuskan siapa yang benar dan sebaliknya. Kemudian menjatuhkan sanksi bila ada kerugian di satu pihak dan mengupayakan perdamaian pada kedua belah pihak. Perbedaannya adalah bahwa para hakim Israel merangkap sebagai kepala suku. Contohnya Simson dari suku Dan menjadi hakim dan pemimpin umat dalam menghadapi segala ancaman. Demikian pula Salomo dari suku Yehuda menjadi hakim sekaligus raja Israel.
Kehidupan masyarakat yang saling meniadakan dimotivasi oleh EGO. Ego dapat dipahami sebagai "Edging God Out" artinya "Meminggirkan Allah". Allah dengan segala hukum dan ketetapan-Nya tidak lagi menjadi nomor satu atau yang utama dan pertama dalam seluruh pertimbangan dan pengambilan keputusan. Tetapi sebaliknya, kepentingan pribadi, dan mau menang sendiri-sendiri (egoisme dan egosentrisme) justru menjadi yang utama. Jika "Edging God Out" yang menjadi nomor satu maka yang akan muncul di dunia pengadilan resmi maupun dalam kehidupan sehari-hari adalah pemutarbalikkan fakta : yang hitam menjadi putih, dan yang putih menjadi hitam, yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar.
Faktor-faktor yang memudahkan "Edging God Out" bisa berkembang adalah nepotisme, kolusi dan korupsi atau suap. Karena ia kerabat, teman dekat atau saudara maka dibela. Suap adalah faktor utama melemahkan iman. Fakta yang tidak dapat disanggah bahwa orang hidup membutuhkan uang, itu boleh dan dibenarkan, karena uanglah yang menjadi faktor penunjang untuk membuat sukses dalam seluruh perjuangan dalam mewujudkan cita-cita dan harapan. Tetapi sayangnya orang tidak merasa cukup dan puas dan itu yang disebut serakah. Orang yang seperti itu adalah orang yang tidak pernah dekat dan membangun komunikasi atau berdoa secara benar kepada Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan akan berdoa seperti Agur bin Yake: "Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kau tolak sebelum aku mati, yakni: jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata:Siapa Tuhan itu? Atau kalau aku miskin, aku mencuri dan mencemarkan nama Allahku" (Amsal 30:7-9).
Makna kita hidup dalam atmosfir keadilan adalah supaya kita mengalami janji-janji Allah, hidup dalam naungan dan berkat-berkat Tuhan. Berlakulah adil, tegakkanlah keadilan di mana saya anda berada.

Monday, February 20, 2012

Kubur Kosong


(1 Korintus 15)


Saya rasa pasal ini merupakan pasal yang paling penting dalam tulisan Paulus, terutama bagi orang-orang yang telah kehilangan seseorang dalam hidup ini. Tidak lama setelah orang-orang yang kita kasihi pergi, maka akan timbul pertanyaan, "Akankah kita bertemu dengan mereka lagi?" Paulus menjawab pertanyaan ini, dan memberikan suatu penghiburan yang dapat kita temukan dengan sangat jelas yang tidak dinyatakan dalam ayat lain. Ketika kita membaringkan orang-orang yang kita kasihi yang telah pergi, adalah suatu penghiburan ketika kita mengetahui bahwa kita akan bertemu dengan mereka lagi dalam waktu yang tidak lama.


Apabila saya pergi ke suatu pemakaman, saya suka memikirkan masa ketika orang yang meninggal akan bangkit dari kubur mereka. Kita membaca bagian dari pasal ini dalam apa yang kita sebut "kebaktian penguburan." Saya rasa itu merupakan suatu ungkapan yang kurang tepat. Paulus tidak pernah berbicara mengenai "penguburan." Ia berkata tubuh ditaburkan dalam kebinasaan, ditaburkan dalam kelemahan, ditaburkan dalam kehinaan, ditaburkan dalam tubuh jasmani. Jika saya mengubur satu keranjang gandum, saya tidak pernah berharap untuk melihatnya lagi, tetapi jika saya menaburkannya, saya mengharapkan hasil. Berterimakasihlah kepada Allah, teman-teman kita tidak dikuburkan, mereka hanya ditaburkan! Saya menyukai nama Saxon untuk pemakaman -- yaitu "tanah Allah".


Injil yang diberitakan oleh para rasul bersandar pada empat penyangga. Yang pertama adalah kematian Kristus yang menebus dosa, yang kedua adalah pemakaman dan kebangkitan-Nya, yang ketiga adalah kenaikan-Nya, dan yang keempat adalah kedatangan-Nya kembali. Keempat doktrin ini diberitakan oleh semua rasul, dan oleh keempat doktrin tersebut, Injil harus bertahan atau gugur.


Dalam ayat pembukaan bab ini, kita memperoleh pernyataan yang jelas dari Paulus, bahwa doktrin kebangkitan adalah bagian dari Injil. Ia menyatakan arti Injil bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, tetapi bukan hanya itu -- Ia dimakamkan dan bangkit lagi pada hari ketiga. Kemudian ia mengumpulkan saksi-saksi untuk membuktikan kebangkitan-Nya: "Ia menampakkan diri kepada Kefas (yaitu, Simon Petrus), dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya."


Itulah kesaksian yang cukup jelas dan cukup kuat untuk memuaskan seorang penyelidik yang tulus. Tetapi orang Yunani tidak memiliki kepercayaan pada kemungkinan kebangkitan, dan para petobat di Korintus telah didewasakan dalam ketidakpercayaan itu. Oleh karena itu, Paulus mengajukan pertanyaan berikut: "Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?" Itu adalah salah satu pengajaran yang salah yang telah menjalar ke dalam jemaat di Korintus, karena tidak ada orang Yahudi ortodoks yang pernah berpikir untuk mempertanyakannya.


Menyangkali kebangkitan sama dengan mengatakan bahwa kita tidak akan pernah melihat lagi orang-orang yang kita kasihi yang tubuhnya telah kembali menjadi tanah. Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka kita sama seperti hewan. Betapa kejamnya memiliki orang yang mengasihi Anda jika ini benar! Betapa menakutkannya, mereka harus membiarkan sulur hati Anda berpilin, jika, ketika mereka dipisahkan oleh kematian, itu adalah akhir segalanya. Saya lebih memilih membenci daripada mengasihi jika saya memikirkan tidak akan ada kebangkitan, karena dengan demikian saya tidak merasakan benturan ketika kehilangan hal yang dibenci. Oh, jahatnya ketidakpercayaan! Ketidakpercayaan merampas semua harapan kita yang paling besar. "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia."


Kekekalan


Umat manusia secara alamiah "merindukan yang tidak terbatas". Di antara orang-orang yang paling primitif, para filsuf telah mengamati apa yang disebut "minat terhadap hal yang tidak terbatas", yang mengelabui pengajaran bahwa kematian mengakhiri segalanya. Kematian merupakan salah satu perbedaan antara manusia dan hewan. Burung di udara, hewan di padang, pada masa sekarang sama seperti ketika mereka di Taman Eden. Mereka makan dan tidur dan melewati hidup mereka hari demi hari dengan rutinitas yang tidak berubah. Keinginan mereka sama, kebutuhan mereka sama. Namun manusia selalu berubah. Keinginannya selalu bertambah. Pikirannya selalu merencanakan ke depan. Tidak lama setelah ia mencapai satu tujuan, ia akan menuju tujuan berikutnya, dan bahkan kematian sendiri tidak dapat menariknya. Seorang kafir yang terkenal pernah berkata, "Musuh terakhir yang harus dihancurkan bukan kematian, melainkan kepercayaan manusia pada kekekalannya."


Antisipasi atas kehidupan masa depan dapat digambarkan seperti perasaan yang tumbuh pada burung menjelang musim dingin, suatu perasaan yang mendorongnya untuk pergi ke daerah selatan -- "suatu dorongan misterius dan tidak diketahui, tetapi tidak dapat ditahan dan tidak salah": atau bagai kerinduan tanaman di daerah selatan, yang diambil ke daerah beriklim utara dan ditanam di tanah daerah utara. Mereka tumbuh di sana, tetapi selalu gagal berbunga. Semak yang malang itu memimpikan bunga yang indah yang tidak pernah dilihatnya, tetapi yang dengan samar-samar disadarinya bahwa bagaimanapun ia harus menghasilkan. Tanaman itu merasakan bunga tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk menghasilkannya dalam iklim yang setengah beku dibanding iklim sebelah selatan. Begitulah pikiran masa depan telah menghantui kita semua.


Para filsuf memiliki banyak fakta untuk membuktikan jangkauan ke depan yang umum ini menuju kehidupan setelah kematian. Diduga bahwa banyak ritual dan acara pemakaman, misalnya, disebabkan karena itu. Jika tubuh sekali lagi akan ditempati oleh rohnya, maka disarankan agar tubuh dilindungi terhadap bahaya. Akibatnya, kita melihat kubur tertutup supaya musuh tidak menggali sisa yang ada dan tidak menghormatinya. Livingstone menceritakan bagaimana seorang pemimpin Bechuana dimakamkan dalam kandang ternak. Kemudian ternak dibawa selama beberapa jam sampai semua jejak kubur lenyap. Tetapi tubuh harus dilindungi bukan hanya dari penggunaan yang merusak, melainkan juga, sedapat mungkin, dari pembusukan; dan proses pembalseman merupakan suatu usaha keras untuk tujuan ini. Kadang-kadang, kebangkitan memang tidak diinginkan, dan karena itu kita menemukan mayat dibuang ke dalam air untuk menenggelamkan rohnya. Dikisahkan bahwa orang Mesir modern membawa tubuh berputar-putar supaya roh menjadi pusing dan karena itu tidak dapat menyusuri kembali langkahnya; sedangkan suku Aborigin tertentu di Australia mengambil kuku dari tangan kalau-kalau mayat yang hidup kembali akan menggaruk jalan keluar dari selnya yang sempit.


Ketika konsep kehidupan yang kedua sebagai kelanjutan dari kehidupan yang sekarang dianut, kita menemukan kebiasaan menguburkan benda-benda mati, seperti senjata dan peralatan. Orang yang mati akan memerlukan segala sesuatu di seberang -- seperti yang ia lakukan ketika masih hidup -- kematian. Bukan saja benda mati, melainkan hewan dibunuh supaya arwahnya mengikuti arwah orang yang sudah meninggal. Orang-orang Bedouin menyembelih untanya di dekat kubur teman seperjuangannya yang sudah meninggal: yang sangat dibutuhkan dalam dunia ini, itu juga akan sama dalam kehidupan berikutnya. Dari sini, satu langkah memimpin pada persembahan korban manusia. Para isteri mengikuti suami mereka; para budak dibunuh supaya mereka tetap melayani tuan mereka. Dalam kata-kata yang diungkapkan Tennyson:


"Dalam penguburan orang barbar mereka membunuh para budak dan membunuh isteri; terasa dalam diri mereka nafsu yang tidak boleh diingkari dalam kehidupan kedua."


Ajaran Kebangkitan Dalam Perjanjian Lama


Kita hanya menangkap sekilas ajaran kebangkitan dalam Perjanjian Lama, tetapi orang-orang kudus pada zaman itu jelas memercayainya. Hampir dua ribu tahun sebelum Kristus, Abraham berlatih pengorbanan-Nya di gunung Muria ketika ia menaati perintah Allah untuk mengorbankan Ishak. Merujuk hal ini, Paulus menulis, "... karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali." Lima ratus tahun kemudian kita mendapatkan Allah berkata kepada hamba-Nya, Musa: "Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan." Yesaya menulis -- "Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapus air mata dari pada segala muka", dan sekali lagi -- "Orang-orang mati akan hidup, bersama dengan tubuhku yang mati mereka akan bangkit. Bangun dan bernyanyilah, engkau yang berdiam dalam debu: karena embunmu sama seperti embun daun-daunan, dan bumi akan membuang orang mati." Uraian Yehezkiel yang jelas mengenai kebangkitan Israel dari tulang-tulang yang kering, yang memberitahukan nubuatan pemulihan Israel, merupakan bukti lain. Ketika Daud kehilangan anaknya, ia berkata ia tidak dapat memanggilnya kembali, tetapi ia akan pergi dan bersama anak itu. Di lain kesempatan ia menuliskan, "Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu."; dan -- "Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku."


Ayub bapa leluhur menghibur dirinya sendiri dengan harapan mulia yang sama ketika ia berada dalam kesedihan yang mendalam. Ia yang telah bertanya -- "Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan? Dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?" -- berkata, "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat Ia memihak kepadaku, mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain." Ayub pasti memiliki keyakinan yang teguh bahwa tubuhnya akan dibangkitkan kembali, nanti tetapi bukan di bumi, karena "bagi pohon masih ada harapan," ia berkata lagi, "apabila ditebang, pohon itu akan bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai. Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya."


Dalam Kitab Hosea Tuhan menyatakan, "Akan Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah mereka dari pada maut? Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasaanmu, hai dunia orang mati?"


Dalam Kitab Daniel pasal yang terakhir kita sekilas melihat lagi kebenaran yang sama, "Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya." Dan kitabnya ditutup dengan kata-kata berikut, "Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman."


Sebagai lambang, kebangkitan ditetapkan sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Melalui buah sulung yang diberikan sehari setelah Perjamuan Paskah sebagai suatu permohonan dari seluruh panen, anak-anak Israel diajarkan ciri-ciri Mesias yang harus menjadi "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." Beberapa orang telah mengatakan bahwa tugas utama bangsa Israel di Kanaan adalah mempersiapkan ciri-ciri kebangkitan Juru Selamat, dan tindakan religius pertama mereka adalah berpegang pada ciri-ciri Juru Selamat yang dibangkitkan itu.


Dalam Perjanjian Baru


Tetapi apa yang dirujuk sebagai interval yang panjang dalam Perjanjian Lama menjadi masalah kenyataan dan pengajaran yang jelas dalam Perjanjian Baru. Kata "kebangkitan" tertulis empat puluh dua kali dalam Perjanjian Baru. Selama pelayanan-Nya, Tuhan kita sering merujuk pada kebangkitan umum dari orang-orang yang meninggal. Orang Saduki pernah menemui-Nya dengan sebuah pertanyaan yang sulit mengenai hubungan pernikahan dalam kehidupan nanti, dan Yesus berkata: "Tetapi tentang kebangkitan orng-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda, Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup." Pada kesempatan lain, Kristus mengatakan, "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan,4 undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak memunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar." Ketika Lazarus meninggal, Yesus mengucapkan kata-kata penghiburan kepada saudara-saudara perempuannya, "Saudaramu akan bangkit." Marta menjawab, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada akhir zaman." Yesus berkata kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup."


Perkataan Yang Sangat Baik


Kita akan melihat bahwa keyakinan pada kehidupan di masa depan tidak didasarkan pada Kristus, dan tidak satu pun yang memercayai bahwa kekekalan merupakan karunia-Nya. Kita mendapatkannya dari Allah Sang Pencipta.


Meskipun gagasan tersebut sudah ada sebelum kekristenan, gagasan itu hanya sebatas "perkiraan yang sangat baik". Manusia secara alamiah tidak dapat melihat melampaui kubur yang paling sempit dan melihat apa yang ada di seberang sana. Sekeras apa pun usahanya untuk menggunakan matanya, ia tidak dapat mengintip tabir kematian. Kematian selamanya berada di hadapannya, menghancurkan harapannya, memeriksa rencananya, menggagalkan tujuannya, suatu penghalang yang tidak dapat dipatahkan oleh apa pun. Sejak dosa memasuki dunia, kematian telah memerintah, membuat bumi menjadi satu kubur yang besar. Kematian tidak pernah beristirahat. Di setiap umur dan setiap negeri, "Engkau berasal dari debu dan kembali kepada debu" merupakan kalimat yang menyingkirkan manusia. Semua generasi manusia ketika mereka melewati dunia harus mengikuti kematian mereka.


Banyak hal yang tidak terduga terjadi pada kita dalam kehidupan ini, tetapi kematian bukan salah satu di antaranya. Kita tidak mengetahui bagaimana atau kapan kematian akan datang, tetapi seandainya Tuhan menundanya, kematian suatu saat pasti datang. Kita telah mendengar dokter yang melakukan penyembuhan yang mengagumkan, tetapi kemampuan dan pengetahuan mereka tidak mampu menghalangi kematian. Sepanjang enam ribu tahun sejak kematian memasuki bumi yang dikutuk dosa ini, peralatan manusia telah gagal memenangkan kembali suatu tanda kemenangan dari kematian. Peradaban yang semakin berkembang, pendidikan yang semakin meningkat, kemajuan dalam perdagangan dan kesenian -- tidak ada satu hal di antaranya yang membuat kita lebih unggul dari orang yang paling primitif dalam hal kematian. Kematian selalu menang pada akhirnya. Aliran selalu dalam satu arah, ke depan, dan tidak pernah ke belakang.


Dibawa Kepada Terang Oleh Kristus


Yang tidak diketahui oleh orang yang paling bijaksana di bumi disingkapkan oleh Kristus. Ia tidak menciptakan kekekalan, tetapi Ia "menghapus kematian, membawa kehidupan dan kekekalan ke dalam terang melalui Injil." "Negeri yang tidak dijelajahi tersebut," yang dibicarakan oleh penulis puisi, "yang dari negeri itu orang-orang yang bepergian dan tidak pernah kembali," bukan negeri yang tidak terjelajahi bagi orang percaya. Tuhan kita menjelajahinya. Ia memasuki daftar menentang kematian dalam wilayah-Nya sendiri dan muncul lebih dari sekadar Penakluk. Tongkat lambang kekuasaan kematian memang masih umum, tetapi sudah dipatahkan, dan suatu hari akan dihancurkan menjadi debu. Orang-orang Kristen tidak lagi berspekulasi mengenai masa depan: kepastian diraih di sisi kubur kosong Kristus. "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." Kita dapat melihat bekas peninggalan kembali-Nya.


Kemenangan


Oleh karena itu, kita dapat ikut dalam tujuan berkemenangan, "Kematian ditenggelamkan oleh kemenangan." Sengat kematian adalah dosa, dan Allah telah memberikan kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka yang telah tertidur di dalam Kristus tidak binasa, tetapi suatu hari kita akan melihat mereka muka dengan muka.


Betapa Injil yang kita miliki adalah Injil mengenai sukacita dan harapan, dibandingkan dengan yang dimiliki orang-orang yang tidak percaya! "Orang kafir merasa sedih tanpa harapan," tulis Dr. Bonar; "Bagi mereka kematian dengan sendirinya berkaitan dengan tidak ada harapan, tidak ada kecemerlangan, tidak ada kemenangan. Kematian bukan matahari terbenam bagi mereka, karena matahari yang terbenam mengundang kita untuk menantikan matahari yang lain, yang sama terangnya dengan yang sudah terbenam. Kematian bukan musim gugur atau musim dingin, karena musim gugur dan musim dingin berbicara tentang kembalinya musim semi dan musim panas. Kematian bukan benih yang dibuang ke dalam tanah yang keras, karena melepaskan benih meramalkan pohon atau bunga di masa depan, yang lebih indah daripada benih itu. Kematian merupakan kegelapan yang sederhana dan murni, semua awan, bayangan, kesunyian. Pilar hancur berserakan, sebuah kapal hancur berkeping-keping, kalah dalam pertandingan, sebuah harpa yang terletak di tanah dengan dawai yang dipatahkan dan kehilangan alunan musiknya, suatu kuncup bunga yang diremukkan -- semua ini adalah ekspresi kesedihan atas dukacita mereka yang tiada harapan. Pikiran bahwa kematian adalah gerbang kehidupan datang bukan untuk menggembirakan orang yang ditinggalkan dan mempercerah kubur. Kebenaran bahwa kubur adalah tanah dan mayat adalah benih yang ditaburkan oleh tangan Allah sendiri untuk memanggil kehidupan yang tersembunyi; bahwa pertandingan tidak dikalahkan, tetapi hanya kemenangan yang sedikit dipercepat; bahwa pilar tidak dihancurkan tetapi diubah menjadi bangunan lain dan kota lain untuk menjadi "sebuah pilar dalam rumah Allah; bahwa kuncup bunga tidak diremukkan, tetapi ditransplantasikan untuk perluasan pada sebidang tanah dan udara yang lebih menyenangkan; bahwa harpa tidak dipatahkan, tetapi diserahkan kepada penyanyi yang lebih andal yang akan menghasilkan semua jangkauan kaya dari musiknya yang tersembunyi: hal-hal ini yang tidak memiliki tempat dalam teologia mereka, apalagi dalam impian mereka."


Suatu Doktrin Yang Penting


Beberapa orang mengaku bahwa persoalan mengenai Juru Selamat yang telah bangkit tidak penting. Dengarlah apa yang Paulus katakan, "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih daripada itu, kami berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus -- padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." Saya memberitahukan kepada Anda doktrin ini sangat penting. Doktrin ini bukan hanya persoalan spekulatif yang kita hadapi: doktrin ini merupakan kepentingan praktis yang paling besar. Kebangkitan adalah unsur pokok dari busur di mana iman kita ditopang.


Jika Kristus tidak dibangkitkan, kita harus mencurigai semua kesaksian tersebut adalah dusta.


Jika Kristus tidak dibangkitkan, kita tidak memunyai bukti bahwa penyaliban Kristus berbeda dari dua orang pencuri yang menderita bersama Dia.


Jika Kristus tidak dibangkitkan, tidak mungkin mengagumi dan menerima bahwa kematian-Nya menebus dosa. Beberapa orang mengatakan bahwa kuasa kematian Kristus untuk menghapus dosa selalu dikaitkan dalam Perjanjian Baru dengan kenyataan atas kebangkitan-Nya.


Jika Kristus tidak dibangkitkan, tidak mungkin mengagumi perkataan dan karakter-Nya. Ia membuat kebangkitan sebagai suatu pengujian kebenaran atas ke-Allahan-Nya. Orang Yahudi pernah meminta suatu tanda, dan Ia menjawab, "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" -- yang dimaksud Bait Allah adalah tubuh-Nya. Pada kesempatan lain, Ia memberi tanda Nabi Yunus, "Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam." Paulus mengatakan, "... oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa ...." "Seandainya Ia bukan Allah," kata seseorang, "dosa-dosa kita masing-masing akan merupakan batu kubur yang terlalu berat bagi Dia untuk dikeluarkan; klaim atas keadilan Allah akan merupakan tali pengikat kematian yang terlalu kuat bagi Dia untuk dipatahkan."


Bagaimana jadinya kekristenan tanpa kebangkitan? Kekristenan akan turun sampai pada tingkat seperti sistem religius lainnya di dunia. Jika Kristus tidak pernah bangkit dari antara orang-orang mati, bagaimana perkataan-Nya berbeda dari perkataan Plato? Orang-orang selain Kristus telah menjalani kehidupan yang indah dan telah meninggalkan di belakang mereka semboyan yang indah untuk memimpin para pengikut mereka. Jika Kristus tidak pernah bangkit, kita harus mengelompokkan Kristus bersama orang-orang ini.

Mengasihi Allah dengan Segenap Hati


Matius 22:37-40 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.. Hukum pertama dan terutama ini bukan saja disampaikan oleh Yesus, tetapi pesan ini sudah dituliskan dalam Perjanjian Lama.
Ulangan 6:4-5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Bahkan dalam kitab Ulangan lebih ditekankan lagi haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:7-9).

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, ibu Luke selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke.
Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon?"
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola.
"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, "Kamu dapat bermain hari ini." Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesenggukan ia berkata, "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Akibat kecelakaan itu ibuku buta. Minggu lalu... Ibuku meninggal." Luke kembali menangis.
"Hari ini... hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka...". Luke kembali menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini.
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya.
Saya pelajari pemilihan atas diri Yosua sebagai abdi Musa dan sebagai pengganti Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir adalah Tuhan sendiri yang memilih. Keluaran 24:13, Bilangan 27:18. Sama dengan pemilihan Tuhan atas diri kita.
Namun kenapa Tuhan menyertai, memberkati, sehingga Yosua berhasil masuk tanah Kanaan? Mari kita pelajari dengan seksama:
Kitab Ulangan mencatat kembali apa yang terjadi di kitab Keluaran, termasuk hukum-hukum Tuhan: perintah mengasihi Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa terus dikumandang sejak kepemimpinan Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.
Perhatikan ayat di bawah ini:
  • Ulangan 4:29 Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.
  • Ulangan 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
  • Ulangan 10:12, "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"
  • Ulangan 11:13, "Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"
  • Ulangan 13:3, "maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."
  • Ulangan 26:16, "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu."
  • Ulangan 30:2, "dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"
  • Ulangan 30:6, "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup."
  • Ulangan 30:10, "apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."
Kalau saudara baca keseluruhan setiap perikop yang berisikan perintah utama ini: di balik semua perintah ini ada janji-janji Allah bagi yang mentaati dan melakukannya. Ciri-ciri Yosua atau orang yang diberkati Tuhan hingga berhasil:
  1. Keluaran 17: 9-14: Yosua taat
  2. Keluaran 24:13: Yosua setia
  3. Keluaran 33:11: Yosua melihat Musa berbicara dengan Tuhan seperti seorang sahabat. Saya percaya Yosua juga ingin menjadi sahabat Allah (maka Yosua betah di kemah Allah/suka di hadirat Allah; lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain).
  4. Bilangan 11:28-29: Yosua memiliki tingkat kerohanian yang tinggi dan mendukung pemimpinnya.
  5. Bilangan 14: 6,30,38: Yosua memiliki iman luar biasa; sehingga Yosua menerima janji
  6. Yosua 10: 12-14: Yosua jujur
Sehingga Tuhan memberkati Yosua berhasil/sukses:
  1. Keluaran 24:16: Tuhan memuliakan Yosua
  2. Bilangan 14:30: Yosua berhak menerima janji Allah
  3. Bilangan 26:65: Tuhan memberkati Yosua panjang umur
  4. Bilangan 27:18: Yosua diurapi Tuhan
  5. Bilangan 32:12: Tuhan menilik hati dan memuji Yosua
  6. Yosua 4;14: Tuhan yang membesarkan namanya/terhormat
  7. Yosua 8:1: Tuhan sendiri yang mendukung Yosua; turun tangan menyertai, menguatkan, mendukung, hingga berhasil.
  8. Yosua 10:14: Tuhan yang berperang untuk bangsa Israel karena Yosua.
Yosua mengajarkan kembali perintah Tuhan ini kepada bangsa Israel Yosua 22:5, 23:14.
Dan dikatakan selama Yosua memimpin: sepanjang zaman pemerintahan Yosua; orang Israel taat beribadah kepada Tuhan. Yosua 24:31 (hebat dan dahsyat).
KESIMPULAN: mari kita taati dan lakukan perintah Tuhan Yesus dengan mengasihi Dia; dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap, akal budi, dan segenap kekuatan.
pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon?"
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola.
"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, "Kamu dapat bermain hari ini." Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesenggukan ia berkata, "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Akibat kecelakaan itu ibuku buta. Minggu lalu... Ibuku meninggal." Luke kembali menangis.
"Hari ini... hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka...". Luke kembali menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini.
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya.
Saya pelajari pemilihan atas diri Yosua sebagai abdi Musa dan sebagai pengganti Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir adalah Tuhan sendiri yang memilih. Keluaran 24:13, Bilangan 27:18. Sama dengan pemilihan Tuhan atas diri kita.
Namun kenapa Tuhan menyertai, memberkati, sehingga Yosua berhasil masuk tanah Kanaan? Mari kita pelajari dengan seksama:
Kitab Ulangan mencatat kembali apa yang terjadi di kitab Keluaran, termasuk hukum-hukum Tuhan: perintah mengasihi Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa terus dikumandang sejak kepemimpinan Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.
Perhatikan ayat di bawah ini:
  • Ulangan 4:29 Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.
  • Ulangan 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
  • Ulangan 10:12, "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"
  • Ulangan 11:13, "Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"
  • Ulangan 13:3, "maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."
  • Ulangan 26:16, "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu."
  • Ulangan 30:2, "dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"
  • Ulangan 30:6, "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup."
  • Ulangan 30:10, "apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."
Kalau saudara baca keseluruhan setiap perikop yang berisikan perintah utama ini: di balik semua perintah ini ada janji-janji Allah bagi yang mentaati dan melakukannya. Ciri-ciri Yosua atau orang yang diberkati Tuhan hingga berhasil:
  1. Keluaran 17: 9-14: Yosua taat
  2. Keluaran 24:13: Yosua setia
  3. Keluaran 33:11: Yosua melihat Musa berbicara dengan Tuhan seperti seorang sahabat. Saya percaya Yosua juga ingin menjadi sahabat Allah ( maka Yosua betah di kemah Allah/suka di hadirat Allah; lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain.
  4. Bilangan 11:28-29: Yosua memiliki tingkat kerohanian yang tinggi dan mendukung pemimpinnya.
  5. Bilangan 14: 6,30,38: Yosua memiliki iman luar biasa; sehingga Yosua menerima janji
  6. Yosua 10: 12-14: Yosua jujur
Sehingga Tuhan memberkati Yosua berhasil/sukses:
  1. Keluaran 24:16: Tuhan memuliakan Yosua
  2. Bilangan 14:30: Yosua berhak menerima janji Allah
  3. Bilangan 26:65: Tuhan memberkati Yosua panjang umur
  4. Bilangan 27:18: Yosua diurapi Tuhan
  5. Bilangan 32:12: Tuhan menilik hati dan memuji Yosua
  6. Yosua 4;14: Tuhan yang membesarkan namanya/terhormat
  7. Yosua 8:1: Tuhan sendiri yang mendukung Yosua; turun tangan menyertai, menguatkan, mendukung, hingga berhasil.
  8. Yosua 10:14: Tuhan yang berperang untuk bangsa Israel karena Yosua.
Yosua mengajarkan kembali perintah Tuhan ini kepada bangsa Israel Yosua 22:5, 23:14.
Dan dikatakan selama Yosua memimpin: sepanjang zaman pemerintahan Yosua; orang Israel taat beribadah kepada Tuhan. Yosua 24:31 (hebat dan dahsyat).
KESIMPULAN: mari kita taati dan lakukan perintah Tuhan Yesus dengan mengasihi Dia; dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap, akal budi, dan segenap kekuatan.

Friday, February 17, 2012

Setelah Pasangan Kristen Bercerai, lalu..




Perceraian adalah kata-kata yang paling sangat sering kita dengar sekarang ini, entah dalam acara gossip-gossip artis atau reality show seperti “masihkah kau mencintaiku ? “ yang ditayangkan RCTI setiap hari Rabu, Kamis dan Jumat. Dalam acara reality show tersebut, yang banyak menguras air mata, terlihat bahwa karena hal sepele pun, seorang suami atau istri ingin menceraikan pasangannya [ saya sering menemani nonton istri saya yang penggemar berat acara ini ], disamping juga tentunya masalah-masalah berat yang menyebabkan pasangan suami istri bercerai.

Sebagai seorang Kristen, saya pribadi sering merasa terusik untuk mengetahui lebih jauh lagi apa yang dikatakan firman Tuhan mengenai masalah perceraian, karena bagi kita selaku orang Kristen pasti mengetahui bahwa, Firman Tuhan hanya mengijinkan pernikahan sekali dalam seumur hidup, kecuali salah satu pasangan meninggal dunia. Lalu bagaimana dengan rumah tangga-rumah tangga Kristen yang telah berpisah karena bercerai, apakah mereka tidak boleh menikah kembali dengan orang lain ?

Pasang surut kehidupan rumah tangga adalah hal yang umum dan pasti terjadi, hampir bisa dikatakan tidak ada [ atau kalaupun ada mungkin 1 dibanding 10 ] suatu rumah tangga yang berjalan mulus terus menerus. Banyak masalah yang kita hadapi dalam kehidupan berumah tangga, entah masalah kesulitan ekonomi, kesehatan atau penyakit yang menyerang salah satu anggota keluarga, merasa dilecehkan oleh pasangan, tidak akur dengan mertua atau keluarga dari pasangan, masalah pendikan anak-anak, dan yang paling sulit dan menyebabkan sakit hati atau terluka adalah masalah perselingkuhan. Pasti kita yang telah berumah tangga atau berkeluarga pernah mengalami salah satu dari hal-hal tersebut, dan kalau ada diantara kita yang belum pernah mengalami hal-hal yang sulit dalam kehidupan berumah tangga sampai saat ini, hendaklah anda bersyukur dan memuji Tuhan atas semua berkat dan pimpinan kepada rumah tangga kalian, atau mungkin nanti anda akan mengalaminya.

Saya pribadi, walaupun baru menikah hampir 9 tahun, telah mengalami dua tahap yang paling sulit dalam kehidupan berumah tangga, yang pertama masalah penyakit dan yang kedua masalah kesulitan ekonomi. Tetapi dalam keadaan yang sangat sulit, puji Tuhan, Dia memberikan saya seorang pendamping yang sangat hebat dan berhati mulia, yang bisa menguatkan saya disaat saya sakit parah dan kemudian bisa menerima saya apa adanya disaat kondisi psikis dan pribadi saya sdg terluka terlebih lagi sebagai seorang pria apabila menyangkut harga diri, istri saya tanpa banyak tanya dan protes mengambil alih semua peran dan tanggung jawab dalam memenuhi ekonomi rumah tangga, dan tidak pernah sekalipun dia melecehkan atau tidak menghargai saya. Mungkin masih banyak rumah tangga-rumah tangga Kristen lainnya yang berhasil melewati masalah-masalah yang lebih berat dari apa yang pernah saya alami, tetapi juga banyak keluarga-keluarga Kristen yang gagal melewati masa-masa sulit dalam berumah tangga dan kemudian memilih untuk berpisah atau bercerai.

Saya pernah bertanya dengan mantan boss saya 'kenapa bapak bercerai dengan istrinya', yang dijawabnya, “ buat apa kita mempertahankan hubungan yang tidak membawa damai sejahtera dalam hati, dan setiap hari energi kita dihabiskan hanya untuk bersitegang dan berselisih, dengan bercerai kita akan bisa lebih baik bagi masing-masing untuk menata hidup ke depan yang lebih baik. “ Ketika saya bertanya kepada dia yang saat itu telah menikah kembali dengan seorang wanita lain, begitu juga istrinya sudah menikah kembali dengan pria lain [ yang kasihan, anak lelakinya yanh hidup di dua rumah, seminggu di rumah bapaknya lalu seminggu lagi di rumah ibunya ], 'bagaimana perasaan bapak ketika bercerai, terutama dalam hubungan dengan Tuhan Yesus ?' kemudian di menjawab, “ Ton, siapa sih yang pada saat menikah dan mengucapkan janji penikahan di hadapan altar Tuhan, mempunyai pikiran bahwa perkawinan ini akan gagal, dan berakhir dengan perceraian ? Kalau sudah berpikiran seperti itu, pasti saya tidak akan pernah menikah dengan mantan istri saya tersebut ! Dalam hati memang saya merasa menyesal dan berdosa dengan keputusan bercerai dan menikah kembali dengan wanita lain, memang Firman Tuhan melarang hal ini, tetapi kalau saya bercerai dan kemudian tidak menikah lagi lalu untuk memenuhi kebutuhan seksual saya melakukan dengan wanita psk, apakah itu tidak akan lebih berdosa lagi ? Jadi buat saya, Tuhan mengetahui isi hati saya, masalah dosa, saya hanya bisa yakin bahwa kuasa Darah Yesus akan mengampuni dosa saya ini, dengan catatan bahwa saya harus berhasil dengan istri saya yang kedua ini. “

Selanjutnya saya juga pernah bertanya dengan mantan pendeta saya dari salah satu gereja kharismatik, yang digugat cerai oleh istri keduanya [ istri pertamanya meninggal karena sakit kanker rahim selama lebih dari 4 tahun ], kemudian menandatangani surat cerai dari pengadilan negeri. ' apakah bapak tidak merasa bersalah dengan keputusan bapak atas keputusan cerai tersebut ? Apalagi bapak adalah seorang pendeta yang pasti akan disorot oleh jemaat [ walaupun jumlah jemaatnya hanya puluhan orang ] '. Mantan pendeta saya hanya berkata, “ yang mengajukan perceraian adalah istri saya, walupun dia juga seorang kristen, secara hukum negara memang saya telah bercerai, tetapi di hadapan Tuhan saya masih merupakan suami dari istri saya tersebut. “ Karena saat itu kami memang dekat, dan juga dimana beliau banyak memberikan pelajaran Firman Tuhan, dan juga sangat membantu saya, saat saya sakit berat tahun 2004 dulu, dimana banyak doa dan perjamuan kudus yang dibawakannya membuat saya cepat pulih dan sembuh dari sakit, kemudian beliau bercerita blak-blakan kepadanya mengenai hubungan dengan sitri keduaya. Memang dia menikah terlalu cepat, 6 bulan setelah istri pertamanya meninggal. Hal yang menyebabkan keputusan tersebut adalah, disamping anak-anak beliau yang telah beranjak remaja dan pemuda terlihat cocok dan menyetujui hubungan dengan wanita yang jadi istri keduanya, kebutuhan seksual yang amat sangat setelah bertahun-tahun tidak berhubungan seks dengan istri pertamanya akibat penyakit kanker rahim yang diderita. Ternyata beberapa waktu setelah menikah, baru mantan pendeta saya menyadari bahwa istri keduanya adalah seorang yang materialistis dan tidak cocok dengan pelayanannya sbg pendeta yang kemudian meninggalkan mantan pendeta saya lebih dari dua tahun dengan membawa anak hasil pernikahan mereka, sebelum kemudian muncul gugatan cerai tersebut.

Perceraian bukan hanya terjadi dikalangan jemaat dalam kekristenan, tetapi juga menyerang banyak rumah tangga kristen, bahkan menurut pendeta David Wilkerson dalam bukunya sangkakala terakhir, mengatakan di tahun 1990-an [ saat buku itu diterbitkan ], tingkat perceraian di rumah tangga pendeta di Amerika mencapai 38 %, artinya 38 dari 100 keluarga pendeta berakhir dengan perceraian [ mungkin jumlahnya di tahun 2000-an ini semakin meningkat, sayangnya saya tidak ada informasi atau data berapa tingkat perceraian di kalangan keluarga pendeta di Indonesia, dan itu pasti ada, karena toh mantan pendeta saya mengalaminya ]. Firman Tuhan dalam Maleakhi 2:14-16, terutama dalam ayat 16 yang berkata, “ Sebab Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel...” demikian juga dalam Kitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri dalam Markus 10: 9 melarang perceraian dengan berkata, “ Karena itu, apa yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. “

Berbeda dengan iman kepercayaan lain yang mengijinkan perceraian dan menikah kembali entah dengan wanita yang sama atau yang lain, iman Kristen melarang perceraian, dan menikah kembali dengan wanita lain, dan seandainya terjadi perceraian, maka pasangan yang bercerai tidak diizinkan untuk menikah kembali dengan orang lain. Matius 5;31-32, 19: 9, terutama dalam Lukas 16: 18, “ Setiap orang yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” Kalau kita mengatakan aturan iman Kekristenan sepertinya “tidak manusiawi”, karena tidak mungkin seorang yang telah bercerai kemudian tidak menikah kembali, sehubungan dengan adanya kebutuhan seksual dari manusia yang harus dipenuhi [ walaupun ada beberapa yang bisa melaksanakannya, tetapi mayoritas pasti tidak akan sanggup ]. Kalau kita melihat dari 'kaca mata' manusia, pernyataan itu mungkin ada benarnya, tetapi kalau kita menelisik lebih dalam dari 'kaca mata' Tuhan sendiri, hal itu adalah salah ! Karena pernikahan seorang pria dan wanita dalam lembaga pernikahan adalah lambang dari hubungan antara Kristus dan gereja-nya [ gereja disini adalah kita sebagai orang-orang kristen ], dimana sering pertemuan kita selaku orang-orang percaya nantinya dengan Tuhan Yesus dilambangkan dengan perjamuan kawin Anak Domba, seperti yang ditulis dalam Wahyu 21:9, dimana kita selaku orang-orang percaya dilambangkan dengan pengantin perempuan, dan Tuhan Yesus sendiri adalah mempelai prianya, demikian juga dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Efesus 5:22-33, dimana hubungan suami istri digambarkan seperti hubungan Kristus dengan jemaat [ orang-orang percaya ], dan masih banyak tulisan Paulus yang menggambarkan hubungan suami-istri sebagai gambaran dari hubungan Tuhan Yesus dengan gerejanya. [ bandingkan juga dengan 2 korintus 11:2 ]. Jadi sama seperti hubungan Tuhan Yesus dan orang-orang percaya selaku jemaat atau gereja adalah kudus dan tidak dapat dipisahkan, demikian juga dengan pernikahan dalam Iman Kristen adalah kudus, sehingga tidak dimungkinkan terjadi suatu perceraian.

Lalu apakah dalam iman kekristenan tidak dimungkinkan terjadinya perceraian ? Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 5:32, 19:9, Markus 10:11-12, Lukas 16:18, jelas melarang perceraian, kecuali karena perzinahan [ Mat 5:32]. Dan ini pun masih menjadi tanda tanya, apakah setelah menceraikan, seorang pria atau wanita tersebut boleh menikah lagi ? Pertanyaan ini dijawab tuntas oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:10-11, “ Kepada orang-orang yang telah kawin, aku-tidak, bukan aku, tetapi Tuhan- perintahkan supaya seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya. “ Jadi kalau boleh diperjelas apa yang dikatakan oleh Paulus adalah, “ entah seorang suami menceraikan istrinya atau seorang istri menceraikan suaminya, maka suami itu harus hidup tanpa istri atau istri hidup tanpa suami, dimana perceraian yang terjadi dikarenakan karena suami atau istri tersebut adalah berzinah ! “

Dengan demikian, seandainya anda sebagai suami menceraikan istri anda karena berselingkuh dengan pria lain, demikian juga anda sebagai istri menceraikan suami karena berselingkuh dengan pria lain, maka anda baik suami atau istri harus hidup terus membujang dan tidak diperkenankan untuk menikah kembali. DR. J. Verkuil dalam bukunya Etika Kristen Seksuil mengatakan bahwa “ Tuhan Yesus sekali-kali tidak bermaksud, mengatakan bahwa perbuatan zinah selalu dapat menjadi alasan untuk bercerai. Jika seorang istri atau suami jatuh ke dalam dosa zinah karena keadaan-keadaan tertentu, dan sangat menyesali perbuatannya itu, maka perbuatan zinah itu tidak boleh menjadi alasan untuk bercerai, tetapi mereka dipanggil untuk saling mengampuni dan mulai lagi dengan permulaan yang baru. “ (Hal 114 ).

Lalu adakah celah lain untuk melakukan perceraian bagi orang Kristen ? Paulus dalam 1 Korintus 7:15-16, menjelaskan bahwa ada kemungkinan bagi orang kristen untuk “bercerai” dengan kondisi yang sangat spesifik, dimana kalau kita renungkan ayat 12-14, dimana perceraian dimungkinkan apabila seorang Kristen menikah dengan seorang non Kristen, tetapi dengan syarat inisiatif perceraian datang dari pasangan yang non Kristen, dan bukan dari pasangan Kristen. Dan selanjutnya, apakah pasangan yang kristen tesebut selanjutnya setelah bercerai boleh menikah kembali dengan orang lain ? Disini kita harus hati-hati dalam mengambil keputusan ! Tetapi apa yang dikatakan Paulus dalam ayat 15, “...; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat...” bisa disimpulkan bahwa pernikahan kembali dimungkinkan...!

Dengan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan bagi kita selaku pasangan suami-itri Kristen, adalah jelas bahwa perceraian sangatlah tidak dimungkinkan, kecuali dalam hal-hal tertentu, seperti seorang suami atau istri yang mungkin telah berkali-kali jatuh dalam dosa perzinahan dan juga telah berkali-kali diampuni oleh pasangannya, tetapi tidak juga kunjung bertobat, dimana dalam hal ini tergantung ketahanan iman dari seorang suami atau sitri untuk terus bisa mengampuni pasangannya sampai yang bersangkutan benar-benar bertobat dan kembali kepada jalan kebenaran berdasarkan Firman Tuhan !

Jadi sekarang, apakah anda seorang istri atau suami yang mengaku Kristen yang memiliki rencana atau sedang melakukan pisah rumah, atau juga tengah melakukan gugatan proses cerai kepada pasangannya, hendak benar-benar bercerai ? Sebab apakah yang menyebabkan anda mengambil keputusan tersebut ? Apakah karena pasangan anda sering melakukan KDRT, Apakah karena tidak bisa memberikan nafkah yang layak bagi keluarga ?, apakah karena sakit yang berkepanjangan dan tidak bisa berfungsi sebagai pasangan yang wajar ? Apakah karena anda merasa status dan penghasilan anda lebih tinggi ? Apakah karena pasangan anda terlalu mengukung dan menguasai anda ? Apakah anda merasa pasangan anda sangat egois ? Apakah karena pasangan anda telah berselingkuh dengan orang lain ?

Ingatlah bahwa perceraian diluar perzinahan tidaklah dimungkinkan, dan walaupun dengan perzinahan itu dimungkinan kita harus selalu mengingat kembali akan pengajaran dan hukum pengampunan yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita untuk selalu mengampuni tujuh kali tujuh kali..yang sifatnya tidak terbatas !

Yang harus kita ingat bahwa, memang perjalanan kehidupan rumah tangga tidaklah mudah untuk dilalui dalam kurun waktu berpuluh-puluh tahun sampai maut memisahkan kita. Oleh karena itu sama dengan hubungan kita sebagai pribadi dengan Tuhan yang harus terus menerus kita perbaharui, demikian juga hubungan kita dengan pasangan kita, harus terus menerus kita perbaharui dengan berlandaskan kepada kasih Tuhan Yesus, sehingga kita akan selalu ingat akan komitmen akan kasih yang mula-mula..!

Yang harus selalu kita waspada adalah, Iblis di masa akhir zaman ini sangat giat, seperti singa yang mengaum-ngaum untuk mencari mangsa dengan berusaha menghancurkan rumah tangga-rumah tangga kristen, karena dia mengetahui, bahwa keluarga disamping gereja adalah landasan kokoh dalam kekristenan yang kalau bisa dihancurkan, maka akan menghancurkan kekristenan itu sendiri ! Makanya tidak heran, kalau tingkat perceraian atau kehancuran rumah tangga atau keluarga pendeta di Amerika mencapai 38 % !

Terakhir, saran saya kepada yang belum menikah :
*Carilah pasangan ( yang seiman tentunya ) yang bakal menjadi suami atau istri anda jangan berdasarkan “cinta buta” dan berharap bahwa hal-hal yang anda tidak sukai dari calon suami atau istri anda nanti akan berubah kalau sudah menikah akan berubah sesuai harapan ! Yang harus anda sadari, adalah bisakan anda “berubah” atau siap untuk menerima kondisi tersebut ?, Ada salah satu perkataan yang benar dalam film yang dibintangi Deddy Mizwar dan Lydia kandou yang berjudul ' kejar daku maka kau kan ku tangkap ' yaitu : “ Buka mata lebar-lebar waktu berpacaran dan tutup mata rapat-rapat setelah menikah..! “

*Jagalah kekudusan anda dan pasangan anda dalam masa berpacaran dalam arti jangan pernah melakukan hubungan seksual sebelum anda benar-benar resmi menikah dan mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan. Karena seks diluar nikah selain menghancurkan kehidupan pribadi, pada kenyataannya adalah dosa yang menjadi celah yang terbuka bagi Iblis untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga kristen nantinya [ untuk hal ini anda bisa membaca buku karangan Rebecca Brown, MD yang berjudul “ Bebas dari Cengkeraman Setan” atau “ Menjadi bejana kemuliaan Allah” ],

*dan kalau anda dan pasangan anda telah melakukakanya sebelum menikah, saat sebelum menikah, kalian berdua bersama-sama minta pengampunan dari Tuhan Yesus akan dosa perzinahan tersebut, sehingga kuasa darah Yesus akan menutup celah yang terbuka tersebut, sehingga tidak dapat dipakai oleh Iblis nantinya untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga kalian nantinya !

Saran saya bagi anda yang tengah pisah ranjang atau rumah, tengah melakukan proses cerai atau gugatan cerai :

*Ingatlah bahwa setelah anda bercerai dengan pasangan anda entah karena masalah apapun, kalau anda tetap ingin hidup dalam kekudusan yang dari Tuhan Yesus, anda harus hidup terus sampai mati tanpa bisa menikah kembali dengan orang lain ! Siapkah anda untuk hidup seorang diri dan menahan hasrat dan nafsu seksual anda ? Karena hasrat seksual adalah alami, dan Tuhan hanya mengijinkan untuk disalurkan dalam kehidupan pernikahan yang kudus !

*Ingatlah, bahwa sebesar apapun permasalahan anda dengan pasangan anda saat ini yang menghimpit dan membebani anda, Tuhan pasti akan memberikan jalan keluarnya, karena pencobaan yang kita hadapi tidak akan pernah melewati kekuatan kita seperti yang Tuhan janjikan ! Mungkin anda sudah banyak berdoa dan merasa telah bosan berdoa, karena Tuhan tidak memberikan jawaban atau penyelesaian atas permasalahan anda, yang harus kita ingat bahwa waktu, jawaban dan penyelesaian Tuhan bukanlah seperti yang kita inginkan, tetapi berdasarkan kehendakNya, karena yang harus kita yakini, bahwa penyelesaian dari Dia itu indah pada waktunya nanti...

*berusahalah untuk mengampuni pasangan anda, walaupun sepertinya tidak adil bagi anda, dengan menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus dengan kerendahan hati dan hati yang hancur, karena percayalah ditengah kesulitan dan sakit hati serta penderitaan, damai sejahtera yang sejati pasti akan turun kepada anda, sehingga hal-hal yang sulit akan terasa ringan. Justru dalam situasi seperti ini sinar kemuliaan Tuhan akan menundungi wajah anda !

*Pikullah salib anda ! Artinya sesulit apapun kehidupan rumah tangga anda atau keluarga anda, kalau anda sekarang sudah menikah dengan pasangan anda, dan banyak masalah yang anda harus hadapi, itulah salib yang harus anda pikul sebagai orang – orang percaya. Hadapilah semua permasalahan yang ada dengan kesabaran, kerendahan hati, kelemah lembutan, karena itulah kunci untuk menjadikan salib yang anda pikul menjadi ringan !


Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya, Tuhan Yesus memberkati..!