HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Wednesday, November 21, 2012

SETIA DARI PERKARA YANG KECIL

Baca: Mazmur 18:21-30
  
"Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,"  Mazmur 18:26

Penulis sering mendengar keluhan dari banyak anak muda Kristen perihal pelayanan mereka di gereja.  Keluh mereka, "Pelayanan di gereja cuma begitu-begitu saja, tidak ada peningkatan.  Sudah capai melayani, yang hadir cuma sedikit.  Malas ah jadisinger terus."  Kemalasan seringkali melanda anak-anak Tuhan, apalagi bila disinggung tentang pelayanan.  Kita ogah-ogahan dan tidak setia terhadap tugas yang dipercayakan.  Kita inginnya melayani Tuhan dalam skala yang lebih besar, langsung di atas mimbar atau terlibat dalam pelayanan yang besar dan spektakuler sehingga banyak orang mengenal siapa kita.  Benar apa kata Alkitab bahwa tidak mudah menemukan orang yang setia sebagaimana juga dikatakan oleh Salomo,"Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya."  (Amsal 20:6).

     Harus kita ketahui bahwa setiap hal yang besar akan datang dari hal-hal yang kecil.  Ketika kita setia dalam perkara yang kecil, yang mungkin tidak berarti di mata manusia, itu sebenarnya adalah proses memperkuat kapasitas diri kita untuk dapat dipercaya mengemban tugas dan tanggungjawab yang lebih besar.  Contoh tak asing bagi kita adalah perumpamaan tentang talenta: ada 3 orang hamba yang dipercayakan harta oleh tuannya.  Yang pertama diberi 5 talenta, kedua diberi 2 talenta dan yang ketiga diberi 1 talenta sesuai dengan kesanggupan mereka masing-masing (baca Matius 25:15).  Hamba pertama dan kedua dengan setia mengembangkan talenta yang dipercayakan kepada mreka, dan beroleh laba.  Ketika tuannya datang mereka beroleh pujian: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.  Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."  (Matius 25:23).

     Tidak demikian dengan hamba yang ketiga.  Dia tidak mau mengembangkan talenta yang dipercayakan kepadanya walaupun jumlahnya kecil, sehingga ketika tuannya datang, apa yang diberikan kepada hamba itu diambil darinya.  Dan hamba yang tidak setia itu akhirnya dicampakkan "...ke dalam kegelapan yang paling gelap.  Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."  (Matius 25:30).

Apakah kita sudah cukup setia dengan apa yang saat ini Tuhan percayakan kepada kita?

Monday, November 19, 2012

ALLAH ITU MAHAKUDUS

Baca:  Wahyu 4:1-11
  
"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."  Wahyu 4:8b

Ketika memuliakan Tuhan, para malaikat menyerukan bahwa Tuhan itu kudus.  Kata kekudusan ini menunjukkan kesempurnaanNya yang tanpa batas.  Sifat kudusNya adalah ringkasan dari semua sifat Tuhan, seperti Mahakuasa, Mahahadir, tidak berubah, Mahatahu dan sebagainya.  Jadi kekudusan Tuhan adalah mahkota dari semua sifat yang menunjukkan siapa Dia, sebagaimana nyanyian yang dinaikkan Musa dan seluruh umat Israel, "Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya Tuhan; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusanMu, menakutkan karena perbuatanMu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?" (Keluaran 15:11).  Tuhan adalah patokan mutlak untuk kekudusan, tidak aada yang lain, karena Dia tidak pernah membuat kesalahan atau melakukan sesuatu yang salah, tidak ada keputusanNya yang keliru; Ia tanpa cela, tanpa cacat, tanpa dosa, sepenuhnya benar, benar-benar kudus secara mutlak.  Siapa pun untuk bisa masuk dalam hadirat Tuhan harus hidup kudus.

     Munginkah manusia itu kudus?  Karunia kekudusan itu diberikan Tuhan kepada setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.  Sebaliknya, setiap orang yang menolak Yesus Kristus akan dicampakkan ke tempat yang disiapkan bagi Iblis dan para malaikatnya, ke luar jauh dari hadirat Tuhan.  Ditegaskan, "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis:  Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15-16).  Tuhan sangat membenci dosa; tidak ada kata kompromi terhadap dosa.

     Adalah sia-sia ibadah kita, pelayanan kita, penyembahan kita, persembahan kita dan sebagainya jika kita masih melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang mungkin bisa kita sembunyikan di depan manusia, tapi di hadapan Tuhan semuanya tampak jelas dan telanjang.

"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.  Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepadaKu korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu.  Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.  Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar."  (Amos 5:21-23).

Sunday, November 18, 2012

KERAJAAN YANG TIDAK TERGONCANGKAN: Perihal Jaminan Tuhan


Baca: Ibrani 12:25-29

"...karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut,"  Ibrani12:28

Keadaan dunia saat ini sungguh tidak bertambah baik.  Banyak sekali kejadian-kejadian yag mengejutkan, entah itu bencana, krisis atau fenomena alam yang menyimpan misteri.  Goncangan terjadi di segala bidang kehidupan.  Akibatnya banyak orang tergoncang karena keadaan yang tidak baik ini.  Ketakutan, kekuatiran atau rasa putus asa menyerang pikiran semua orang.  Hal ini tidak hanya dialami oleh orang-orang di luar Tuhan saja, tapi orang percaya (orang Kristen) pun tidak luput dari goncangan yang ada.

     Sebagai anak-anak Tuhan janganlah kita terkejut bila mendengar berita atau melihat kejadian-kejadian yang menggoncangkan ini.  Hal ini bukanlah berita baru sebab Alkitab sudah menyatakannya.  Kita sebagai anak-anaknya tidak seharusnya menjadi takut dan putus asa, sebab ada jaminan pemeliharaan Tuhan bagi kita.  Di dalam Yesus Kristus kita akan menerima kerjaaan yang tidak tergoncangkan.  Untuk dapat tinggal di dalam area kerajaanNya yang tidak tergoncangkan ini kita harus mengarahkan pandangan kita hanya kepada Yesus.  Jadi, "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, ...Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."  (ayat 2-3).  Mengapa orang Kristen mudah stres dan tergoncang ketika ada masalah?  Karena fokus kita hanya tertumpu pada masalah dan situasi yang ada, bukan mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang dahsyat.

     Mari kita belajar mengaktifkan 'mata iman' supaya kita dapat melihat pekerjaanNya yang ajaib di tengah goncangan.  Bila kita berjalan dengan 'mata iman', kita akan menyadari bahwa ada Roh Tuhan di dalam kita seperti tertulis:"...Alah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."  (2 Timotius 1:7). dan RohNya itu"...lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:4).

Dunia boleh saja bergoncang hebat.  Asal kita tetap melekat kepada Tuhan dan mengandalkanNya dalam segala hal, maka kita berada di dalam kerajaanNya yang tidak tergoncangkan.

MEMUJI TUHAN: Gaya Hidup Orang Benar


Baca: Mazmur 132:1-18

"Biarlah imam-imamMu berpakaian kebenaran, dan bersorak-sorai orang-orang yang Kaukasihi!"  Mazmur 132:9

Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan namaNya, artinya melalui kehidupan kita, kita dapat meninggikan dan memuliakan nama Tuhan.  Jadi kita diciptakan untuk memuji Dia.  Banyak orang Kristen yang tidak mengerti akan hal ini.  Contoh sederhana: saat ibadah di gereja ada yang malas memuji Tuhan, malu mengangkat tangan dan mulut pun terasa terkunci.  Takut dikatakan fanatik!  Justru mereka yang tidak sungguh-sungguh memuji Tuhan dan mengolok-olok teman lain dengan kata fanatik, dialah yang harus bertobat.

     Mari perhatikan.  Pujian adalah bidang kehidupan orang percaya.  Alkitab menegaskan, "Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan!  Haleluya!"  (Mazmur 150:6).  Hanya orang mati saja yang tidak dapat memuji Tuhan.  Selama kita masih bernafas kita harus menggunakan setiap nafas kita untuk memuji Tuhan.  Atau mungkin kita berkata, "Ah, memuji Tuhan itu tidak harus bersuara atau bersorak-sorai.  Cukup di dalam hati saja."  Memuji Tuhan di dalam hati saja tidak cukup.  Kita harus memiliki pujian di mulut kita seperti kata Daud, "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepadaNya tetap di dalam mulutku." (Mazmur 34:2).  Jadi kita tak dapat bersorak-sorai dan berdiam diri sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

     Pujian dapat menggerakkan kuasa sorga dinyatakan dalam kehidupan kita.  Saat pujian dinaikkan, saat itu pula kemuliaan Tuhan melawat kita, karena "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."  (Mazmur 22:4).  Kita harus berusaha menyingkirkan semua hambatan yang membuat kita merasa canggung atau enggan memuji Tuhan, serta mempersilahkan Roh Kudus bekerja melalui diri kita.  Ketika kita bersemangat dan memiliki totalitas saat memuji Tuhan kita akan tampak asing, dianggap aneh atau bahkan diejek dan direndahkan oleh orang-orang yang tidak mengerti kebenaran firman Tuhan.  Sebaliknya kita patut bersyukur karena kita akan tampak indah di hadapan Tuhan.

     Karena itu pujilah Tuhan di setiap waktu, jangan hanya saat berada di gereja atau di persekutuan, tetapi dijam-jam pribadi kita di rumah dan di mana pun kita berada.  Latihlah mulut dan hati kita untuk memuji Tuhan karena kita diciptakan untuk tujuan itu.

"Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya Tuhan, mereka hidup dalam cahaya wajahMu;"  Mazmur 89:16

TUHAN YESUS: Gembala yang Baik

Baca: Mazmur 79:1-13

"Maka kami ini, umatMu, dan kawanan domba gembalaanMu, akan bersyukur kepadaMu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untukMu turun-temurun."  Mazmur 79:13

Alkitab menggambarkan hubungan antara umat dengan Tuhan sebagai domba dan sang gembala.  Suatu hubungan yang sangat karib.

     Mengapa kita digambarkan sebagai domba, bukan yang lain?  Pasti ada kebenaran yang terkandung di dalamnya.  Domba merujuk pada: kelemahan, kerentanan dan ketidakberdayaan kita sebagai manusia.  Hal ini untuk menegaskan ketergantungan mausia kepada Tuhan, dan Tuhan sebagai gembala adalah satu-satunya Pribadi yang dapat membimbing dan meuntun kita ke jalan yang benar.  Daud berkata, "Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.  Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya."  (Mazmur 23:2b-3).  Tanpa pertolongan dari sang gembala, kita adalah domba-domba yang mudah terhilang.  Adalah tepat bila keberadaan kita sebagai manusia digambarkan sebagai domba yang lemah, bodoh, tak berdaya dan mudah tersesat.  Karena itu kita sangat membutuhkan seorang gembala yang baik untuk menuntun dan menyertai perjalanan hidup kita.

     Syukur bagi Tuhan, oleh karena anugerahNya semakin kita memiliki gembala yang baik yaitu Tuhan Yesus seperti yang dikatakanNya, "Akulah gembala yang baik.  Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;" (Yohanes 10:11).  Apa artinya?  'Akulah' menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Pribadi Ilahi sebagaimana Ia menyatakan diri kepada Musa, "Aku adalah Aku."  (Keluaran 3:14a).  Tidak ada gembala yang baik selain Dia.  Sedangkan di dalam kata 'gembala' terkandung: kasih, perhatian dan juga kesabaran.  Selain itugembala juga berbicara tentang otoritas atau kedaulatan atas umat.  Di dalam konteks Tuhan, Ia memiliki kedaulatan penuh atas hidup kita karena kita adalah domba-dombaNya dan Dia adalah gembala pemilik.  Bukti bahwa Yesus adalah gembala yang baik adalah Ia rela memberikan nyawaNya untuk kita.  Ini berbeda dengan gembala upahan yang hanya punya tujuan mencari keuntungan diri sendiri.  Tuhan Yesus tidak demikian.

Ia berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10b).

TAK MAMPU MEMBAYAR UTANG DOSA

Baca: Lukas 7:36-50

"Dosanya (perempuan berdosa) yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.  Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."  Lukas 7:47

Suatu waktu, Simon (orang Farisi) mengundang Tuhan Yesus untuk makan di rumahnya.  KedatanganNya ke rumah Simon itu didengar oleh seorang perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa.  Ia datang dengan membawa buli-buli pualam yang berisi minyak wangi dan berharga sangat mahal.  Lalu, "Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakinya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu."  (ayat 38).

     Perempuan itu tidak punya keberanian di hadapan Yesus sebab ia sadar ia berlumuran dosa.  Ia (perempuan itu) hanya bisa menangis saat bertemu dengan Yesus.  Menangis adalah ungkapan kesedihan yang mendalam, dukacita atau pun ungkapan hati yang remuk dan hancur.  Hal itu menggerakkan hati Yesus.  Dalam Mazmur 34:19 dikatakan, "Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."  Kehadiran perempuan 'berdosa' itu sangat tidak disenangi Simon, dan Tuhan Yesus pun tahu apa yang sedang berkecamuk di hati Simon.  Karena itu Ia menyampaikan suatu perumpamaan:  Ada dua orang berhutang kepada seorang pelepas uang masing-masing 500 dinar dan 50 dinar.  Karena mereka tidak sanggup membayar, si pelepas uang pun membebaskan hutang kedua orang itu.  Tanya Yesus pada Simon,"Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia (si pelepas)?' Jawab Simon: 'Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya."  Kata Yesus kepadanya, 'Betul pendapatmu itu.' "  (Lukas 7:42b-43).  Begitu juga dengan perempuan itu, ia menyadari betapa hina dan besar dosanya.  Dengan air mata, perempuan itu membasuh kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya.  Bahkan tiada henti ia mencium kaki Yesus dan meminyaki kepalaNya dengan minyak.  Tetapi Simon tidak melakukan hal itu.

     Melalui perumpamaan ini sebenarnya Tuhan Yesus sedang menyindir Simon, orang Farisi, yang penuh dengan kepura-puraan merasa dirinya lebih suci.  Pikirnya ia tidak seperti perempuan itu.  Sesungguhnya, orang berhutang yang tidak bisa membayar itu adalah gambaran dari kita.  Untuk membayar hutang dosa, apa pun caranya, kita tidak akan bisa.

Hanya melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib dosa-dosa kita diampuni dan hutang dosa itu lunas terbayar.

Saturday, November 3, 2012

HIDUP YANG BERPADANAN DENGAN INJIL

Baca: Filipi 1:27-30

"Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,"  Filipi 1:27

Surat yang ditulis Paulus kepada jemaat di Filipi adalah surat yang penuh muatan sukacita.  Kata sukacita ini menjadi tema terbesar dalam surat Filipi ini.

     Mengapa perihal sukacita ini menjadi begitu penting?  Karena surat ini ditulis oleh Paulus ketika ia berada dalam penjara di Roma.  Bayangkan, orang terkurung dalam penjara dan tetapi tetap bersukacita dan mengobarkan semangat kepada orang lain!  Suatu sikap hidup yang luar biasa!  Di tengah kesesakan dan penderitaan namun tetap kuat dan tak tergoyahkan.  Rasul Paulus berharap agar jemaat Filipi sadar bahwa mengikut Kristus tidak selalu berada di jalan yang mulus.  Adakalanya kita harus melewati banyak tantangan dan ujian, tapi percayalah bahwa Tuhan senantiasa memberi kekuatan kepada kita sehingga kita pun mampu melewatinya.  Paulus berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."  (Filipi 4:13).  Jadi, tidak seharusnya mereka putus asa.  Itulah sebabnya Paulus berusaha agar hidupnya menjadi teladan dan berpandanan dengan Injil Kristus yang ia beritakan, "...supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  (1 Korintus 9:27).

     Setidaknya ada tiga hal yang menunjukkan bahwa kehidupan Paulus berpadanan dengan Injil Kristus:  pertama, Paulus tetap berdiri teguh meski harus menderita karena Injil; ia rela berkoraban.  Kata 'teguh' dalam bahasa aslinya berarti 'setia'.  Di dalam kesetiaan terkandung komitmen yang tinggi.  Meski harus menghadapi berbagai pencobaan Paulus tidak pernah goyah imannya, karena ia sadar betul tentang panggilan hidup sebagai orang percaya, "...dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  (Filipi 1:29).  Sebagaimana Kristus saat diutus ke dalam dunia, dengan komitmen tinggi melakukan semua yang menjadi kehendak Bapa, Dia "...taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:8a).

     Bagaimana kita?  Seharusnya kita juga mau berkorban bagi Kristus.  Berkorban waktu, tenaga dan materi untuk Tuhan itu tidak akan pernah sia-sia.  Terlebih lagi kita harus mau menyalibkan 'daging' dan hidup menurut pimpinan Roh Kudus. 


Baca: Filipi 2:12-18

"supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda; sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,"  Filipi 2:15


Kedua, Paulus memiliki kerendahan hati.  Kunci dari kehidupan yang berpadanan dengan Injil Kristus adalah kerendahan hati.  Untuk menjadi orang yang rendah hati kita harus tunduk kepada Tuhan.  Kita tidak lagi mementingkan diri sendiri atau mencari pujian dari orang lain, "Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;"  (Filipi 2:6-7).  Lebih baik kita rendah hati dari pada direndahkan atau dipermalukan.

     Ketiga, hidup Paulus menjadi kesaksian bagi dunia.  Paulus menuntut supaya orang percaya di Filipi memberi respon yang benar pekerjaan kita atau kebaikan kita, semuanya itu semata-mata oleh kasih karuniaNya.  Tuhan Yesus berkata, "Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman."  (Yohanes 6:44).  Oleh karena itu jangan pernah meremehkan kasih karunia Tuhan ini.  Sebaliknya mari kita kerjakan keselamatan yang telah kita terima itu dengan takut dan gentar.

     Tuhan Yesus menginginkan agar kita menjadi bintang di dunia ini.  Maksudnya supaya hidup kita bersinar atau bercahaya menerangi dunia ini dengan iman dan kesaksian hidup kita.  Dampak pelayanan Paulus bagi perkembangan Injil begitu luar biasa karena hidupnya berpadanan dengan Injil Kristus.

Sudahkah hidup kita berpadanan dengan Injil?