HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Monday, February 18, 2013

Inilah TubuhKu… inilah DarahKu

Perjamuan Malam Terakhir adalah perjamuan Paskah yang diselenggarakan oleh Tuhan Yesus menjelang masa sengsaraNya. Perjamuan Paskah merupakan peringatan keluarnya bangsa Israel dari Mesir berabad-abad yang lalu. Tradisi Yahudi dalam perayaan ini adalah menyajikan roti tidak beragi, anggur merah, juga makanan-makanan lain. Sebelum hidangan-hidangan itu disantap, kepala keluarga dalam keluarga Yahudi menceritakan kisah pelepasan itu. Roti tidak beragi disini disebut 'roti penderitaan' yang dimakan para nenek-moyang mereka saat keluar dari Mesir (lihat Ulangan 16:3).

Pada awal perjamuan, kepala keluarga setelah emmecah-mecahkan roti, mengucapkan syukur atasnya dengan kalimat penuh hormat : "Diberkatilah Engkau, ya TUHAN Allah kami, Raja semesta alam, yang menumbuhkan roti di bumi". Tetapi pada Perjamuan Malam Terakhir itu Tuhan Yesus selaku "kepala-keluarga"-Nya, setelah mengucapkan syukur atas roti perjamuan, menambahkan kata-kata yang memberikan makna baru pada roti itu "Ambillah, inilah tubuh-Ku". Dalam tulisan paulus dilanjutkan dengan kata-kata "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" .

Perjamuan Paskah ialah peringatan akan pelepasan agung pada waktu keluatran; sekarang, sebuah peringatan baru didirikan, mengingat akan pelepasan baru yang lebih agung yang bakal dilaksanakan. Dan kalau ada orang yang suka menanggapi hal secara harfiah, dan mengatakan bahwa roti yang Ia ambil dari meja adalah tidak mungkin tubuhNya. Para murid bisa melihat tubuhNya yang hidup didepan mata mereka. Sekali lagi jawaban atas kata-kata ini ialah bahwa, bagi iman orang-orang yang makan Perjamuan Kudus, roti itulah tubuh Tuhan. Karena iman, dengan memakan roti peringatan itu, mereka mengambil bagian dalam hidup Kristus.

Pada akhir Perjamuan Paskah, ketika ucapan syukur penutup perjamuan telah dinaikkan, sebuah cawan anggur diminum bergantian oleh seluruh keluarga. Cawan ini, yang disebut "cawan berkat", ialah cawan ketiga dari empat cawan yang diletakkan diatas meja. Ketika Tuhan Yesus mengucapkan berkatNya dan menberikan cawan itu kepada sobat-sobatNya tanpa Ia sendiri minum dari-padaNya, Ia berkata kepada mereka, "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang". (Versi Paulus mengatakan "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!").

Ketika Musa, di kaki Gunung Sinai, membacakan Hukum Allah kepada Bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir dan mereka berketetapan mentaati hukum itu, sebagian dari darah binatang korban dipercikkan pada mezbah (lambang kehadiran Allah) dan sebagian pada bangsa Israel. Tentang darah itu, Musa berkata-kata sebagai "darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu, berdasarkan firman ini" (Keluaran 24:3-8 ).

Bagi murid-murid Tuhan Yesus yang sudah sangat hafal akan kisah-kisah tentang Perjamuan Paskah dan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, maka kata-kata Tuhan Yesus mempunyai arti bahwa akan didirikan sebuah Perjanjian Baru sebagai pengganti dari perjanjian yang didirikan untuk nenek moyang mereka pada zaman Musa. Lagipula, Perjanjian Baru itu akan didirikan melalui kematian Tuhan Yesus bagi bangsaNya. Kalau kemudian mereka memakan roti peringatan itu, mereka karena iman mengambil bagian dalam kehidupan Dia yang mati dan bangkit kembali. Demikian juga waktu mereka minum cawan itu mereka menyatakan dan menerima karena iman "kepentingan mereka dalam darah Juru-Selamat". Dengan berbuat demikian, mereka memahami arti kata-kata Tuhan Yesus dan mereka tahu bahwa melalui Dia mereka termasuk dalam umat perjanjian Allah.


Sekarang kita lihat dalam Matius :


* Matius 26:26-29 Penetapan Perjamuan Malam
26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku."
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
26:29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku."


Kita lihat penekanan dalam frasa " untuk pengampunan dosa" setelah frasa "yang ditumpahkan bagi banyak orang".


* Lukas 22:14-23 Penetapan Perjamuan Malam
22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.
22:15 Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.
22:16 Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah."
22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.
22:18 Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang."
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
22:21 Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini.
22:22 Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!"
22:23 Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.


Dalam Lukas 22:17-20, kita menemukan versi yang lebih panjang, menyerupai versi Paulus.


* Yohanes 6:53-55
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.


Mengenai yang ditulis Yohanes ini, keterangannya bisa dibaca di Artikel Ucapan Yesus Yang Sulit, 1 : Makan daging dan Minum Darah Anak Manusia.


Tulisan Lukas, khususnya menjadi penting, karena ia satu-satunya penulis Injil yang melaporkan bahwa Tuhan Yesus berkata "perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" (Lukas 22:19). Dalam Tulisannya, kata-kata ini ditambahkan setelah Tuhan Yesus berkata-kata tentang roti perjamuan (dalam catatan Paulus kata-kata ini dihubungkan dengan roti dan cawan). Dari catatan Markus (dan Matius), orang tidak bisa menyimpulkan bahwa pertemuan itu sekedar makan dan minum untuk saat itu saja, ataukah harus dilakukan berulang-ulang (untuk peringatan). Lukas membuatnya menjadi jelas, bahwa makan dan minum itu dimaksudkan supaya diulang-ulang.

Menurut ketiga penulis Injil Sinoptis ini, Tuhan Yesus berkata sambil memberikan cawan kepada murid-muridNya, "Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah " – atau dengan kata-kata lain tapi dengan pengertian yang sama (lihat Markus 14:25), bandingkan dengan Matius 26:29; Lukas 22:18 ).
Saat itulah perjamuan Surgawi akan dimulai.

Tetapi sesudah Tuhan Yesus bangkit dari antara orang-orang mati, Ia menyatakan diriNya kepada murid-muridNya 'waktu ia memecahkan roti' (Lukas 24:35). Petrus di rumah Kornelius menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya 'makan dan minum bersama-sama dengan Dia' (Kisah 10:41). Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dalam pengertian tertentu (Kerajaan Allah yang 'datang dengan kuasa', begitu tertulis dalam Markus 9:1) : Kerajaan Allah telah diresmikan, meskipun penyempurnaanNya masih di masa yang akan datang. Sampai kepada penyempurnaan itu, maka umatNya akan senantiasa 'melakukan ini' – makan roti dan minum anggur – sebagai peringatan akan Dia. Dan dengan berbuat demikian mereka menyadari dengan sesadar-sadarnya kehadiranNya ditengah-tengah mereka.

MENYENANGKAN DIRI SENDIRI vs MENYENANGKAN TUHAN


Baca:  Roma 15:1-13

"Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya."  Roma 15:2

Pada dasarnya setiap orang memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri (egosentris), terlebih lagi di akhir zaman ini:  "...pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.  Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.  ...tidak tahu bererima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi..."  (2 Timotius 3:1-3).  Demi menyenangkan diri sendiri berbagai upaya dilakukan, tidak peduli berapa besar kocek yang harus dikeluarkan.  Contoh sederhana adalah masalah hobi.  Seseorang yang memiliki hobi mengoleksi benda-benda antik, berapa pun harganya pasti dibeli.  Demi hobinya ini ia rela memburunya sampai ke luar negeri, ke ujung dunia pun dicari.  Itu semua ditempuh banyak orang demi menyenangkan diri sendiri.  Menyenangkan diri sendiri adalah pekerjaan yang mudah dan semua orang pasti bisa melakukannya.  Tetapi bagaimana untuk menyenangkan hati orang lain?  Tidak semua orang mau melakukannya karena hal itu dirasa berat.  Terlebih lagi menyenangkan hati Tuhan!

     Paulus memberikan teladan hidup kepada kita betapa ia memiliki kepedulian terhadap orang lain.  Ia sadar, sebagai seorang hamba tugasnya adalah melayani, bukan untuk dilayani.  Oleh karena itu Paulus berusaha agar hidupnya menjadi berkat bagi orang lain;  ia tidak mencari hormat bagi diri sendiri.  Inilah pernyataan Paulus,  "Sama seperti  aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat."  (1 Korintus 10:33).  Paulus berusaha menyenangkan hati orang lain dan melakukan segala sesuatunya dengan tulus ikhlas tanpa ada 'udang di balik batu' atau kepura-puraan.  Dasarnya adalah dia ingin menyenangkan hati Tuhan melalui pelayanannya tersebut.

     Jadi,  "jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia."  (Efesus 6:6-7).

Sudahkah kehidupan kita menyenangkan hati Tuhan?  Atau malah Tuhan kecewa dan sedih karena kita lebih mementingkan kesenangan diri sendiri?

KEHENDAK TUHAN ADALAH YANG UTAMA


Baca:  Mazmur 143

"Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku!  Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata."  Mazmur 143:10

Di kalangan orang-orang percaya kata kehendak Tuhan sudah menjadi hal yang biasa dan seringkali digemakan.  Ketika mengharapkan sesuatu, semisal perihal jodoh/pasangan hidup, kita sering berkata:  "Ya...biarlah kehendak Tuhan yang jadi."  Ada pula yang dalam banyak hal selalu menggunakan kata kehendak Tuhanini sebagai senjata supaya kelihatan rohaniah atau Alkitabiah,  "Kalau Tuhan kehendaki saya akan aktif dalam pelayanan ini.  Saya sih ikut kehendak Tuhan saja dalam hal ini."  Namun penggunaan kata kehendak Tuhan yang serampangan ini akan menimbulkan satu pertanyaan:  apa sebenarnya kehendak Tuhan itu dan bagaimana kita bisa memahami kehendak Tuhan tersebut?

     Dalam kehidupan ini, sadar atau tidak sadar, kita seringkali merasa jauh lebih kuat, lebih pintar, lebih hebat dan lebih tahu daripada Tuhan.  Padahal sebenarnya kita ini adalah orang-orang yang lemah dan tak berdaya.  Kita selalu berusaha mengatasi setiap persoalan dengan mengandalkan kekuatan dan kepintaran sendiri.  Di setiap perencanaan hidup pun jarang sekali kita melibatkan Tuhan dan bertanya kepadaNya, padahal  "Tuhan mengetahui rancangan-rancangan manusia;  sesungguhnya semuanya sia-sia belaka."  (Mazmur 94:11), karena itu Salomo menasihati,  "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."  (Amsal 3:5).

     Kitta tidak pernah tahu akan apa yang terjadi di depan kita;  besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan sebagainya, tetapi Tuhan sudah tahu apa yang akan terjadi, bahkan Dia melangkah lebih jauh dari apa yang ada di pikiran kita, karena Dia Omniscience (Mahatahu);  Allah yang menciptakan kita, merancang hidup kita dan membentuk hidup kita.  Oleh karena itu kita harus belajar untuk mengerti kehendak Tuhan.  Namun seringkali kita melakukan segala sesuatu karena menuruti kehendak diri sendiri, bukan menurut kehendak Tuhan.  Kita harus menyadari bahwa kehendak kita tidak pasti, yang pasti hanya satu yaitu kehendak Tuhan.  Tertulis,  "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana."  (Amsal 19:21).

     Kita merasa yakin bahwa apa yang akan kita lakukan dan rancangan itu pasti akan berhasil.  Kenyataannya?  Kita banyak mengalami kegagalan. 

Mari lakukan segala sesuatu menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak manusiawi kita.

Pikul Salib dan Bertanding Dalam Iman!

Baca:  Efesus 1:15-23

"Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-nya:  betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang kudus,"  Efesus 1:18

Seringkali banyak dari kita yang salah mengerti dengan istilah panggilan Tuhan.  Ketika mendengar kata tersebut kita selalu menghubung-hubungkan dengan pelayanan di gereja, menjadi hamba Tuhan atau pendeta, masuk ke sekolah Alkitab atau seminari, menjadi worship leadersingerteam kunjungan rumah sakit dan sebagainya, padahal bukan hanya sebatas itu.  Kita dapat memenuhi panggilan Tuhan dengan tetap berada pada bidang pekerjaan atau profesi kita masing-masing selama bidang tersebut tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Alkitab menyatakan,  "Alkitab memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.  Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu."  (1 Tesalonika 4:7-8).

     Apa maksud panggilan Tuhan bagi kita?  Dan apa yang harus kita kerjakan untuk memenuhi panggilanNya itu?  Tertulis,  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."  (Lukas 9:23).  Bila kita menyadari bahwa setiap orang percaya harus menyangkal diri dan memikul salib, maka kita pun harus rela membayar harga.  Jika saat ini kita diijinkan menglami ujian atau penderitaan, kita pun harus bisa tetap mengucap syukur karena itu adalah bagian dari proses pendewasaan iman.  Kita harus dapat memandang hal itu sebagai salib yang harus kita pikul dan itu merupakan bagian dari panggilanNya, sebab penderitaan itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima kelak  (baca Roma 8:18).  Dalam hal penyangkalan diri, sudahkah kita menaklukkan kehendak diri sendiri kepada kehendak Tuhan?  Sudahkah kita menyalibkan segala keinginan daging dan hidup menurut Roh?  Tuhan juga memanggil kita untuk bertanding dalam iman dan berjuang merebut hidup kekal  (baca 1 Timotius 6:12).

     Kita tahu bahwa kehidupan kekal hanya dapat kita peroleh melalui iman kepada Kristus.  Oleh karena itu kita harus berjuang untuk mempertahankan iman dan mengerjakan keselamatan itu dengan hati yang takut dan gentar, sampai Tuhan datang kali yang kedua. 

Jangan sampai gagal di tengah jalan karena kita tidak taat mengerjakan panggilan dan tidak memelihara iman.

Thursday, February 14, 2013

TUHAN BERGAUL ERAT DENGAN ORANG JUJUR


Baca:  Amsal 3:27-35

"Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat."  Amsal 3:32

Jikalau kita ingin memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, bergaul karib dengan Dia dan menjadi sahabatNya, ada hal-hal yang harus kita perhatikan.  Itu tidak asal.

     Syarat untuk bisa karib dengan Tuhan adalah harus hidup jujur dan tulus, karena "...dengan orang jujur Ia bergaul erat."  Artinya kita harus menjadi orang yang terbuka di hadapan Tuhan dan tidak ada sesuatu yang kita tutup-tutupi atau sembunyikan.  Waktu kita berdoa, apa pun masalah, pergumulan, kekurangan, sukacita, bahagia, harus kita sampaikan semua kepadaNya dengan jujur dan terbuka sehingga hubungan kita denganNya tidak kaku atau sekedar pergaulan biasa, melainkan pergaulan yang sangat erat dari hati ke hati.  Ketika keintiman dengan Tuhan sampai pada taraf seperti itu kita akan bertumbuh dalam persekutuan denganNya dan kita akan semakin mengasihi Dia.  Tertulis:  "Siapa berjalan dengan jujur, takut akan Tuhan, tetapi orang yang sesat jalannya menghina Dia."  (Amsal 14:2).

     Tidak mudah menjadi orang yang jujur di zaman sekarang ini di mana banyak orang yang hidup dalam ketidakjujuran.  Mereka berprinsip:  "Jujur ajur"  (bahasa Jawa - Red.), artinya jika kita jujur kita pasti akan hancur.  Tetapi sebagai orang percaya kita dituntut untuk hidup dalam kejujuran.  Bagaimana kita bisa menjadi seorang yang jujur?  Kita harus hidup dalam ketulusan hati.  Alkitab mencatat, "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya."  (Amsal 11:3).  Jika kita ingin hidup jujur terhadap Tuhan kita juga harus tulus terhadap Dia.  Orang yang tulus adalah orang yang mengasihi Tuhan tanpa syarat, yang dalam melakukan segala sesuatu tidak akan menuntut upah.  Mengapa ada banyak pelayan Tuhan yang berselisih?  Karena mereka tidak tulus melayani Tuhan.  Orang yang tulus tidak akan mengeluh atau menggerutu dalam mengerjakan tugas pelayanannya.

     Tidak banyak orang dikatakan sebagai sahabat Tuhan selain Abraham dan Musa.  Lalu ada Daud yang disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan.  Apakah kita rindu menjadi sahabat Tuhan?  Hiduplah dalam kejujuran dalam ketulusan.

Daud berkata,  "Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau"  (Mazmur 25:21)

PENGIKUT KRISTUS: Ada Kasih dan Kesetiaan


Baca:  Yohanes 13:31-35

"Aku memberikan perintah kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi;  sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."  Yohanes 13:34

Menjadi pengikut Kristus ternyata tidak gampang, karena "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Di segala aspek kehidupan kita harus benar-benar meneladani bagaimana Kristus hidup.

     Suatu ketika Yesus berkumpul dengan murid-muridNya dan menceritakan tentang apa yang akan terjadi dengan diriNya yang akan mati dan disalibkan di atas bukit Golgota.  Selain itu Yesus juga memberitahukan bahwa salah satu dari mereka akan menjadi pengkhianat, seperti dikatakanNya,  " '...sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.  ...yang kepadanya Aku akan memberikan roti, mencelupkannya.'  Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot."  (Yohanes 13:21, 26).  Di hadapan para muridNya Yesus memberikan perintah yang sangat penting dan harus ditaati dan dipraktekkan, yaitu  "...supaya kamu saling mengasihi;  sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.  Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."  (Yohanes 13:34-35).  Jadi, jika perintah itu adalah kasih, maka kita harus saling mengasihi, walaupun mungkin kita berkata dalam hati,  "Ah bosan, yang dibicarakan tentang kasih melulu...!"

     Kata kasih terlalu mudah untuk diucapkan, tapi bagaimana menerapkannya?  Yesus menegaskan bahwa tanda utama menjadi pengikut Kristus adalah harus memiliki kasih.  Yesus telah terlebih dahulu membuktikan kasihNya kepada kita melalui pengorbananNya di atas kayu salib.  Di atas kayu salib ini  "...Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia."  (Yohanes 13:21).  Melalui kehidupan Yesus ini Bapa dipermuliakan.  Di atas kayu salib Yesus menghancurkan pekerjaan Iblis dan kuasa maut telah dikalahkanNya, Ia menjadi tebusan bagi umat manusia dan menjadi jalan pendamaian antara Allah dan manusia.  Oleh karena itukasih harus menjadi bagian hidup orang percaya.  Jika tidak, berarti kita bukanlah pengikut Kristus, sekalipun kita mengatakan bahwa kita ini seorang Kristen yang setiap Minggu rajin ke gereja.

Tanpa kasih kehidupan kita tidak akan memuliakan nama Tuhan!

JANGAN LAGI MENOLEH KE BELAKANG

Baca:  Kejadian 19:1-29

"Larilah, selamatkanlah nyawamu;  janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap."  Kejadian 10:17

Ketika keluar dari tanah perbudakan di Mesir perjalanan hidup bangsa Isael tidak langsung mulus tanpa rintangan.  Mereka dihadapkan pada laut Teberau yang terbentang luas, di kanan kiri mereka hamparan padang gurun dan di belakang mereka pasukan tentara Mesir dengan keretanya yang mengejar dengan kekuatan penuh.  Jika menoleh ke belakang sepertinya mereka sudah tidak memiliki harapan lagi untuk hidup.  Ketakutan dan keputusasaan merajai hati mereka.  Bayangan penderitaan dan kematian ada di benak mereka.  Itulah sebabnya mereka terus mengeluh, bersungut-sungut dan marah kepada Musa.

     Bangsa Israel mengeluh karena Musa membawa mereka ke padang gurun.  Mereka takut nantinya akan mengalami penderitaan yang lebih parah dari sebelumnya.  Ketakutan mereka sangat beralasan karena mereka teringat pada penderitaan saat menjadi budak di Mesir.  Bangsa Israel terus menoleh ke belakang, mengingat-ingat kehidupan masa lalu saat berada di Mesir.  Isteri Lot pun demikian, ia menoleh ke belakang sebagai pertanda bahwa ia enggan meninggalkan Sodom dan Gomora, serta takut kehilangan harta bendanya.  Padahal Tuhan memerintahkan, "Larilah, selamatkanlah nyawamu;  janganlah menoleh ke belakang,"

     Begitu pula kita yang sudah memutuskan mengikut Kristus, segala sesuatu yang ada di belakang harus benar-benar kita tinggalkan, sebab  "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru:  yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Jadi kita harus mengenakan 'manusia baru' dan menanggalkan 'manusia lama'.  Jangan lagi mengungkit-ungkit masa lalu dan berkompromi dengan dosa lagi.  Seringkali banyak orang Kristen yang tidak rela meninggalkan dosa karena merasa bahwa dosa itu terasa nikmat dan manis, sayang bila harus ditinggalkan.

Yesus tegas menyatakan,  "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerjaaan Allah."  (Lukas 9:62).  Artinya orang yang siap melangkah bersama dengan Kristus harus benar-benar meninggalkan kehidupan lamanya, jika tidak, ia tidak layak di hadapan Tuhan!


Baca:  Roma 6:1-14 

"Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa."  Roma 6:6

Tuhan ingin kita benar-benar meninggalkan cara hidup kita yang lama dan hidup dalam pertobatan.  Bertobat artinya hidup kita berubah 180 derajat.  Jika selama ini kita masih melakukan perbuatan dosa secara sembunyi-sembunyi berarti kita belum bertobat.  Alkitab menasihatkan,  "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu."  (2 Korintus 6:17).

     Mari kita belajar dari kehidupan Paulus:  "...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."  (Filipi 3:13-14).  Paulus tidak mau menoleh ke belakang hidup lama.  Masa lalu telah dikubur dalam-dalam, bahkan ia pun berkata,  "...yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.  Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.  Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,..."  (Filipi 3:7-8).

     Mengapa kita harus melupakan apa yang ada di belakang kita dan tidak boleh menoleh ke belakang?  Setelah percaya kepada Yesus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat status kita pun berubah:  kita adalah ciptaan baru, maka sudah selayaknya kita hidup dalam kehidupan yang baru bersama dengan Kristus.  Kita harus hidup seturut dan selaras dengan kehendak Tuhan di dalam firmanNya.  Kehidupan baru inilah yang sekarang harus menjadi fokus dan perhatian kita.  Bagaimana kita setiap hari harus menyenangkan hati Tuhan dan bukannya melakukan perbuatan-perbuatan dosa lagi.  Tidak menoleh ke belakang juga berarti tidak boleh mengingat-ingat dosa kita lagi, karena bisa saja Iblis menggunakan ingatan itu untuk menjatuhkan dan mengintimidasi kita agar kembali kepada dosa.

Jika kita berani mengambil komitmen untuk mengikut Yesus, apa pun resikonya harus kita pikul tanpa menoleh ke belakang dan tanpa mengingat-ingat apa yang dulu pernah kita lakukan.