HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Tuesday, September 17, 2013

Berharaplah Kepada Tuhan Yang Setia


Lukas 16:19-31
Setiap kita pasti ingin memiliki kasih seperti hatiNya Tuhan yang tulus dan memiliki kasih. Kasih itu tidak akan berubah ketika ada perubahan disekitar kita. Pengorbanan Tuhan bagi kita itu luar biasa, Dia begitu setia bahkan sampai mati di kayu salib dan semua yang Dia miliki yang luar biasa di dalam Sorga (keagungan, kemuliaan, dll) tidak Dia pertahankan, tetapi Dia meninggalkan semuanya itu untuk kita.
Perikop ini mengangkat dua orang yang kehidupannya sangat berbeda. Yang seorang kaya raya luar biasa karena selalu berpakaian kain ungu dan jubah halus (pakaian kebesaran), setiap hari dia bersuka ria dalam kemewahan. Orang yang kedua namanya Lazarus, seorang pengemis miskin yang badannya penuh dengan borok dan berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu. Berbaring artinya dia seorang yang cacat. Jadi, karena cacat maka dia tidak bisa mencari uang sehingga dia menjadi pengemis. Ketika pengemis ini lapar, dia pergi ke tempat pembuangan makanan dari orang kaya yang setiap hari mengadakan pesta, dan sambil Lazarus mengorek makanan dari tempat sampah datang anjing-anjing menjilat boroknya.
Betapa menderitanya Lazarus selama hidup. Tetapi ketika dia mati, dia dijemput oleh malaikat dan dibawa ke pengkuan Abraham. Abraham adalah bapa orang percaya/beriman, maka namanya bapa pasti yang dipangkuannya adalah anak. Ini merupakan sebuah kiasan dimana seorang ayah memangku seorang anak dan bagaimana bapa pasti begitu juga anaknya. Artinya Lazarus juga adalah seorang yang percaya, imannya dasyat dan tidak berubah sekalipun apa yang dia harapkan tidak pernah tercapai sampai mati dia. Lazarus tetap dalam keadaan yang menderita, namun demikian dia tetap percaya dan berharap kepada Tuhan. Lazarus artinya Allah adalah pertolonganku. Abraham juga demikian, sebagai bapa orang percaya imannya dasyat dan tidak berubah ketika apa yang dia harapkan semakin hari semakin tidak mungkin bahkan sepertinya menemui jalan buntu.
Abraham menantikan keturunan sesuai dengan janji Allah. Kita tahu bahwa untuk menantikan keturunan maka usianya harus muda. Saya tidak berbicara tentang seorang pria, karena seorang pria walaupun sudah lanjuta masih bisa memiliki keturunan. Tetapi bagi wanita ada limit waktunya dimana diusia tertentu sudah tidak mungkin untuk mendapatkan keturunan. Tetapi Alkitab berkata dalam Roma 4:18-20, “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, …”. Mau berharap apalagi Sarah sudah lanjut usia, tetapi terhadap janji Allah Abraham tidak menjadi bimbang, malahan ia memperkuat imannya dan memuliakan Allah.
Menantikan janji Tuhan yang semakin lama semakin tidak mungkin bahkan sepertinya menemui jalan buntu, Abraham tidak berubah dalam pengharapan. Abraham tetap berharap dan percaya karena dia mengetahui bahwa Allah yang Dia sembah adalah Allah yang berkuasa untuk melaksanakan apa yang Dia janjikan. Inilah juga seharusnya yang mendasari iman kita. Belajarlah dari iman Abraham, agar kita juga memiliki iman yang luar biasa. Tuhan yang berjanji adalah Allah yang setia. 2 Timotius 2:13, “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya”.
Kita istimewa dihadapan Tuhan, itu sebabnya jangan pernah goyah apalagi meninggalkan Tuhan dengan alasan apapun. Abraham adalah bapa orang percaya, karena sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham tetap berharap dan percaya. Saat ini kita mungkin sedang mengharapkan pertolongan dari Tuhan untuk persoalan apapun yang sedang kita alami, bahkan jika sekarang ini kita sepertinya menghadapi sebuah jalan buntu, tetaplah percaya dan berharap pada Tuhan karena pertolongan Tuhan itu tidak pernah terlambat selalu tepat pada waktunya. Hal ini Tuhan ijinkan kita alami karena Dia ingin membuktikan kepada kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, Dia akan menjawab tepat pada waktuNya.
Nyawa dan kedudukan dianggapNya tidak penting, karena bagi Dia kita jauh lebih penting sehingga Dia rela meninggalkanNya agar kita menerima keselamatan. kita sangat berharga di mata Tuhan, ketika kita dalam masalah berat dan sepertinya sedang berada di jalan buntu, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah punya niat jahat bagi kita, semua itu Dia ijinkan agar kita melihat mujizat yang luar biasa dalam hidup ini. Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.
Bahkan Alkitab berkata dalam 1 Korintus 2:9, “… Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”. Artinya kita harus melakukan Firman, tanda kita mengasihi Tuhan maka kita akan menerima apa yang sudah Tuhan sediakan. Ini menunjukkan bahwa Lazarus adalah orang percaya dan beriman. Sekalipun keadaannya tidak berubah sampai ia mati, namun tidak ada usaha Lazarus untuk bunuh diri, dia tetap bersuka cita.
Tuhan ingin kita bersuka cita walau keadaan tidak bisa diharapkan. Tetap percaya dan berharap karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang berkuasa dan mampu melaksanakan semua yang Dia janjikan. Sebab itu jangan beputus asa, teruslah berharap dan bersuka cita serta percaya. Beginilah hidup Lazarus, sehingga ketika dia mati Alkitab berkata dalam Lukas 16:22, “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham”.
Orang kedua adalah orang kaya, tidak disebutkan kejahatannya dimana. Tetapi jika kita membaca Alkitab, dia adalah seorang kaya yang selalu mengadakan pesta, namun tidak memiliki belas kasihan. Lazarus ada di depan pintu gerbangnya cukup lama, sehingga orang kaya ini mengetahui nama pengemis ini. Lazarus yang menderita seperti itu, dan hal ini dilihat oleh orang kaya yang setiap hari mengadakan pesta ini, tetapi orang kaya ini tidak tergerak sedikitpun untuk memberikan makanannya kepada Lazarus, hal ini menunjukkan bahwa orang kaya ini tidak memiliki belas kasihan dan kemurahan.
Berbahaya sekali jika kita tidak memiliki belas kasihan dan kemurahan karena kita diselamatkan hanya oleh kemurahan hati Tuhan. Bahkan Alkitab berkata dalam Matius 5:7, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”. Artinya jangan kita menutup mata dan hati kita jika ada orang yang membutuhkan pertolongan dari kita. Kita telah menerima hal-hal yang baik dari Tuhan, sebab itu pergunakanlah kekayaan kita untuk mempermuliakan Tuhan, maka Sorga akan menjadi bahagian kita. Artinya jika ada orang yang minta tolong, maka seberapapun yang kita mampu atau mau untuk memberi, berilah itu sehingga Tuhan akan dipermuliakan.
Perikop ini juga menerangkan kepada kita bahwa nasib orang yang sudah mati memiliki tempatnya masing-masing, bahkan Abraham menekankan lebih lagi bahwa dari tempat orang yang tidak percaya tidak bisa menyeberang ke tempat orang percaya, begitu sebaliknya apalagi kedunia ini lagi. Jadi, perikop ini juga menekankan agar kita jangan mempercayai sebuah tradisi bahwa orang yang baru meninggal rohnya masih bergentayangan, karena Alkitab berkata bahwa orang yang meninggal langsung dibawa ke tempat yang telah Tuhan sediakan.
Filipi 2:12, “… karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, …”.Sebab itu tetaplah setia kepada Tuhan sekalipun keadaan kita tidak seperti yang kita harapkan. Sekalipun pertolongan Tuhan sepertinya lambat tetapi itu pasti dan tepat waktunya. Belajarlah juga dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang berkata bahwa seklipun Tuhan tidak tolong kami akan tetap setia kepada Tuhan (Daniel 3:17-18), dan prinsip iman seperti inilah yang menghasilkan mujizat. Ini yang Tuhan inginkan dari kita sekarang, yaitu kesetiaan. AMIN

Saturday, September 14, 2013

TUHAN ADALAH PERLINDUNGANKU

Mazmur 27:1-14

"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?"  Mazmur 27:1

Tak seorang pun tahu perihal hari esok!  Karena itu Alkitab menasihati:  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).  Manusia hanya bisa meramal, merancang dan membuat perkiraan-perkiraan, tapi hanya Tuhan yang tahu pasti.  "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana."  (Amsal 19:21), sebab  "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita..."  (Ulangan 29:29).  Mari jalani hidup ini dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan.  Kita tahu bahwa hidup penuh tantangan, ujian dan ketidakmengertian kita akan masa depan, sehingga banyak orang menempuh segala cara untuk mencoba melihat masa depannya dengan bertanya kepada dukun, paranormal dan sebagainya dengan harapan beroleh kekuatan, perlindungan dan jaminan.  Namun sebagai orang percaya kita punya Tuhan Yesus yang senantiasa menjaga, melindungi dan menyertai kita.

     Dalam Mazmur 27 Daud menyatakan bahwa ada banyak tantangan yang datang dari mana saja yang mungkin terjadi dalam kehidupan orang percaya.  Tantangan itu bisa datang dari orang-orang di sekitar yang berniat jahat untuk menjatuhkan dan menghancurkan kita  (ayat 2);  masalah atau persoalan yang sedang terjadi dan kita alami  (ayat 3);  ditinggalkan oleh orang-orang terdekat dan yang kita kasihi  (ayat 10);  orang-orang yang iri dengki yang berusaha memfitnah kita  (ayat 12) dan masih banyak lagi.  Sikap dalam menghadapi semua itu adalah harus tetap percaya kepada Tuhan dan terus bertekun mencari Dia.  "Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku."  (Amsal 8:17);  dan yang terutama sekali adalah kita harus menjaga hidup ini supaya tidak menyimpang dari jalan-jalan Tuhan.

     Hidup dalam ketaatan adalah kunci untuk beroleh perlindungan dari Tuhan,  "Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai."  (Mazmur 5:13).

Semakin mendekat kepada Tuhan semakin kita beroleh kekuatan dan mampu tegak berdiri di atas persoalan, karena Dia adalah perlindungan kita!

Wednesday, September 11, 2013

MERAGUKAN TUHAN YESUS

"Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya."  Matius 28:6a

Sampai saat ini masih banyak orang meragukan keilahian Kristus, tidak percaya bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat.  Selalu timbul pertanyaan:  benarkah Yesus disalibkan dan bangkit dari kematian?  Benarkah Dia menebus dosa manusia?  Banyak orang Kristen turut terprovokasi sehingga menjadi ragu-ragu terhadap imannya sendiri.  "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."  (1 Korintus 1:18).

     Sebagai orang percaya kita tidak perlu meragukan Tuhan kita Yesus Kristus.  Dia adalah penebus dosa kita seperti tertulis:  "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah."  (2 Korintus 5:21).  Ditegaskan pula bahwa  "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).  Orang dunia boleh saja ragu akan Yesus Kristus, tapi kita harus yakin bahwa Ia sudah bangkit dan kebangkitanNya ini menjadi dasar iman kita yang teguh.  Perihal kematianNya nabi Yesaya sudah menubuatkan,  "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."  (Yesaya 53:5).  Begitu juga tentang kebangkitanNya:  "Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: 'Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.'"  (Matius 27:54).  Kubur kosong membuktikan bahwa Yesus telah bangkit dan makin dipertegas di mana Ia juga menampakkan diri kepada murid-murid dan banyak orang  (baca  1 Korintus 15:4-6).  Jadi setelah membayar hukuman atas dosa kita melalui kematianNya, Yesus bangkit.

     Dengan demikian kematian dan kebangkitan Kristus menjadi hal yang sangat prinsipal bagi orang percaya.

Rasul Paulus menulis,  "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu."  1 Korintus 15:14.

Monday, September 9, 2013

ORANG YANG MENANTIKAN TUHAN

Yesaya 40:12-31

"...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."  Yesaya 40:31

Kita melihat dan mendengar betapa dunia dipenuhi dengan goncangan demi goncangan.  Beberapa waktu yang lalu ibukota negara kita (Jakarta) dilanda banjir hebat.  Ribuan orang, baik itu kaya, miskin, berpendidikan atau tidak, harus meninggalkan rumahnya dan tinggal di pengungsian.  Jalan-jalan protokol di ibukota menjadi kolam raksasa sehingga aktivitas warga menjadi terganggu, banyak kantor yang tidak bisa beroperasi, dan ini pasti berimbas pada sektor perekonomian, perdagangan dan juga industri.  Bukan hanya Jakarta, di daerah-daerah lain di seluruh pelosok tanah air juga mengalami hal yang sama.  Karena hujan dan banjir (cuaca ekstrem) para petani harus mengalami kerugian besar, gagal panen dan sawah ladang mereka rusak.  Hari-hari ini segala sesuatu yang dahulunya tidak digoncang sekarang mulai digoncangkan.  Adalah wajar jika banyak orang menjadi takut, kuatir dan cemas menghadapi hari esok.  Itulah sebabnya Alkitab menasihati,  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).

     Namun bagi anak-anak Tuhan, kuatkan iman percaya kita kepadaNya, sebab di dalam Dia  "...kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."  (Ibrani 12:28).  Tuhan akan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang menanti-nantikan Dia.  Dikatakan bahwa orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru, ia tidak menjadi lesu dan tidak menjadi lelah (ayat nas).  Siapa orang yang menanti-nantikan Tuhan?  Dia adalah orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal.  Artinya dalam menjalani hidup ini ia tidak mengandalkan diri sendiri, kekuatan, kepintaran dan kegagahannya.  Terhadap orang-orang yang demikian Tuhan akan memberikan kekuatan dan pertolongan saat menghadapi badai dan goncangan yang ada, sehingga ia akan tetap kuat dan akan tampil sebagai pemenang.  Dalam Yeremia 17:7 tertulis:  "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."  (Yeremia 17:17-18).

     Sebaliknya orang yang tidak menanti-nantikan Tuhan adalah orang yang mengandalkan manusia, tidak menaruh harap kepada Tuhan tapi lebih mengandalkan diri sendiri, uang, kekayaan, kekuatan dan kegagahannya.  FirmanNya mengatakan, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5)  Karena mereka mengatasi permasalahannya dengan kekuatan sendiri, Tuhan pun angkat tangan.  Itulah sebabnya mereka akan mudah lemah, frustasi, kecewa dan putus asa.

Tuhan berkata,  "...diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  Yohanes 15:5b.  Masihkah kita mengandalkan kekuatan sendiri?

Monday, August 12, 2013

KE MANA KITA AKAN LARI?


"Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?"  Mazmur 139:7

Tuhan Mahahadir dan Mahatahu, tidak ada tempat di belahan bumi mana pun kita dapat menyembunyikan diri dariNya.  "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).  Daud menyadari hal ini,  "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi."  (Mazmur 139:1-3).  Namun banyak dari kita yang tidak menyadarinya.  Kita berpikir Tuhan tidak tahu apa yang kita perbuat sehingga kita pun mengelabuiNya.  Ibadah tetap jalan, dosa pun tetap dilakukan.  Di dalam hati dan pikiran kita terpendam seribu rancangan dan segala keinginan untuk memuaskan daging, padahal  "...TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).

     Yunus adalah orang yang diutus Tuhan untuk memberitakan Injil dan menyerukan pertobatan kepada orang-orang yang ada di kota Niniwe.  Niniwe bukan hanya kota yang besar luasnya, tapi juga padat penduduknya.  Niniwe adalah ibukota Kerajaan Asyur, tempat di mana penindasan dan kekejaman muncul dari kota itu.  Jadi Niniwe adalah musuh besar bangsa Israel pada waktu itu.  Secara manusiawi mungkin Yunus merasa minder dan takut untuk pergi ke sana karena Niniwe adalah kota besar dan kejam penduduknya.  Namun sesungguhnya ia sangat marah dan benci atas perbuatan orang-orang Niniwe yang membuat bangsanya menderita.  Karena itu daripada mentaati perintah Tuhan, Yunus memilih untuk kabur dan mangkir dari tugas sehingga ia putar haluan ke kota lain yaitu Tarsis, suatu tempat yang  "...jauh dari hadapan TUHAN;"  (Yunus 1:3).  Yunus berpikir bahwa Tuhan tidak akan mengetahuinya dan tidak akan mencarinya, walau sesungguhnya ia tahu benar bahwa Tuhan itu Mahatahu.

     Jika Tuhan ada di mana-mana, hendak lari ke mana Yunus?  Ke ujung dunia pun ia tahu keberadaannya.  Itulah sebabnya dalam perjalanan laut menuju Tarsis Tuhan berkenan mendatangkan malapetaka, yaitu angin ribut dan badai besar melanda. 



"Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah."  Yunus 3:3

Semua awak dan penumpang kapal menjadi panik dan takut.  Singkat cerita, mereka membuang undi untuk mencari siapa yang patut disalahkan sebagai penyebab terjadinya malapetaka ini.  Bukanlah kebetulan jika undi itu pun jatuh kepada Yunus.  Akhirnya Yunus pun menceritakan tentang pelariannya dan karena dialah Tuhan menjadi murka.  Di tengah rasa frustasi dan penyesalannya karena ia tahu dirinyalah penyebab ini semua, Yunus berkata kepada orang-orang,  "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."  (Yunus 1:12).

     Rencana Tuhan tidak pernah gagal!  Atas campur tanganNya seekor ikan besar menelan Yunus dan ia pun harus tinggal di dalamnya tiga hari tiga malam lamanya.  Saat berada dalam perut ikan Yunus menyesali perbuatannya dan minta ampun kepada Tuhan karena telah memberontak dan lari dari panggilanNya.  Ia berkenan akan doa penyesalan Yunus, lalu  "... berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat."  (Yunus 2:10).  Tuhan memberi kesempatan kedua kepada Yunus untuk mengerjakan panggilanNya,  "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu."  (Yunus 3:2).

     Sejauh apa pun kita berlari untuk menjauh dari hadiratNya, jika Ia berkenan memakai kita untuk sebuah rencana-Nya maka Ia akan selalu punya cara yang luar biasa untuk memanggil kita kembali sampai kita berkata 'ya' dan melangkah mengerjakan panggilanNya itu.  Mungkin saat ini banyak dari kita yang sedang melarikan diri dan menghindar dari panggilan Tuhan untuk melayani Dia dengan berbagai alasan:  sibuk, tidak ada waktu, tidak punya talenta dan sebagainya.  Ingat!  Melayani Tuhan adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita, jangan sia-siakan itu.  Tidak semua orang beroleh kesempatan dan kepercayaan!  Biarlah pengalaman hidup Yunus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita.  Jangan menunggu sampai Tuhan menegur kita dengan keras.  Juga, jangan sekali-kali berkompromi dengan dosa, sebab Tuhan Mahatahu.

"Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia."  2 Tawarikh 16:9a

Wednesday, July 24, 2013

KASIH KRISTUS: Dasar Hidup Suami Isteri


"Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya."  Efesus 5:33

Membangun mahligai rumah tangga ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan oleh para muda-mudi, sebab situasi dan kondisi berumah tangga sangat berbeda jauh dengan masa pacaran.  Dibutuhkan kesiapan mental dan juga materi supaya perkawinan yang dibangun dapat membuahkan kebahagiaan dan langgeng, apalagi menurut penelitian angka perceraian di Indonesia tergolong cukup tinggi.  Bukankah ini sangat memprihatinkan?

     Ada beberapa hal yang seringkali menjadi penyebab retaknya sebuah rumah tangga:  ketidakharmonisan antarpasangan, beda prinsip, perselingkuhan dan juga faktor ekonomi.  Kalau kita perhatikan, perceraian dalam rumah tangga tak lepas dari persoalan yang mendasar dalam kehidupan pasangan suami isteri, dan tidak menutup kemungkinan terjadi dan melanda keluarga-keluarga Kristen pula.  Apabila keluarga Kristen tidak lagi berpusatkan pada Kristus dan tidak menjadikan kasih Kristus sebagai dasar dalam membina hubungan rumah tangga, maka akan sangat berbahaya!  Karena itu marilah kita senantiasa berpegang teguh pada firman Tuhan supaya rumah tangga kita dapat terbangun sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

     Kita dapat memahami dasar-dasar perintah Tuhan dalam membangun rumah tangga yang berpusatkan pada Kristus dengan mengingat beberapa hal:  pertama, perihal tanggung jawab pada suami.  Tertulis:  "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya,"  (Efesus 5:25).  Jadi seorang suami harus mengasihi isterinya di segala keadaan.  Itulah yang menjadi kehendak Tuhan bagi para suami.  Alkitab juga mengingatkan bahwa doa-doa suami akan menjadi terhalang apabila ia tidak mengasihi isterinya dengan sungguh. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."  (1 Petrus 3:7).

Doa-doa Saudara ingin dijawab Tuhan?  Kasihilah isteri dengan tulus, sebagaimana Kristus mengasihi Saudara!

 

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  Kolose 3:23

Ada banyak kasus kekerasan rumah tangga terjadi di mana suami suka bertindak kasar, memukul dan menganiaya isterinya sampai babak belur hingga kasus KDRT ini sampai ke ranah hukum.  Apakah ini bisa dikatakan suami mengasihi isterinya?  Ada lagi kasus isteri menggugat cerai suaminya karena telah menelantarkan keluarganya.  Uang hasil kerja keras yang seharusnya untuk membiayai kebutuhan keluarga disalahgunakan suami untuk berfoya-foya, selingkuh, mabuk-mabukan, berjudi, sampai narkoba.  Memprihatinkan sekali!  Perhatikan ayat ini baik-baik!  "...jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman."  (1 Timotius 5:8).  Jadi, jika ada suami yang tidak bertanggung jawab terhadap isteri dan anak-anaknya, apalagi sampai menelantarkannya, Alkitab menegaskan bahwa ia disebut murtad dan dinilai lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

     Kedua, bagaimana dengan tanggung jawab isteri?  "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat."  (Efesus 5:22-23a).  Perintah ini mutlak ditaati oleh isteri, sekalipun mungkin suaminya adalah orang yang berkarakter buruk.  Isteri harus tetap menunjukkan kasih dan dengan rendah hati tunduk pada suami.  Jika isteri melakukan tugasnya dengan benar sesuai dengan firman Tuhan, ia telah menyenangkan hati Tuhan dan bisa menjadi kesaksian bagi suaminya, supaya  "...jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu."  (1 Petrus 3:1-2).  Kadangkala ada pula isteri yang bekerja yang punya jabatan lebih tinggi dari suami, kurang menghargai dan tidak mau tunduk pada suaminya karena merasa dirinya punya penghasilan lebih besar dibandingkan suaminya.

     Maka setiap keluarga Kristen harus mengetahui apa yang harus dilakukan untuk bertumbuh dalam firman dan menghormati Tuhan.

Suami isteri yang menghormati Kristus dan firmanNya akan mewariskan nilai-nilai rohani kepada anak-anaknya dan menjadi berkat bagi banyak orang!

Saturday, July 20, 2013

MENGAPA HARUS ADA PENDERITAAN?


"Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung."  1 Petrus 2:19

Kita perlu menyadari bahwa dalam kehidupan ini sering kita dihadapkan pada masalah, penderitaan, kesusahan.  Itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang tak terelakkan.  Sukacita, dukacita, kesenangan, kesusahan silih berganti datang dan pergi di dalam kehidupan kita.  Yesus juga mengingatkan,  "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."  (Yohanes 16:33b).

     Orang-orang dunia tidak bisa menerima masalah, sebab bagi mereka masalah adalah bencana bagi kehidupannya.  Namun sebagai orang percaya masalah dan penderitaan seharusnya tidak membuat kita putus asa dan kian terpuruk dengan merenungi nasib dan mengasihani diri sendiri, karena hal itu hanya akan melipatgandakan rasa sakit yang kita rasakan, bahkan membuat penderitaan terasa lebih berat untuk ditanggung dari yang seharusnya.  Kita harus selalu memiliki pengertian bahwa setiap masalah yang datang bisa bermakna positif dan mendatangkan kebaikan bagi kita.  Ada penderitaan yang membawa maut, tapi ada juga penderitaan yang memberi faedah atau manfaat.

     Penderitaan karena pelanggaran dan dosa itulah yang membawa maut,  "Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah."  (1 Petrus 2:20).  Tetapi penderitaan karena melakukan kehendak Tuhan akan membawa kita kepada kedewasaan rohani.  Jika dalam hidup ini tidak ada masalah atau penderitaan, manusia pasti memilih hidup untuk tidak bergantung kepada Tuhan sepenuhnya:  menjadi sombong dan lebih bergantung pada kekayaan, kepintaran dan kekuatannya sendiri.  Jadi, masalah dan penderitaan yang ada bukan hanya untuk melindungi dan menjauhkan kita dari kecenderungan hidup tidak bergantung kepada Tuhan, tapi juga untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging kita,  "...karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa."  (1 Petrus 4:1), sehingga kita makin mengerti kehendak Tuhan.

"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  Mazmur 119:71

 

"Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."  Yohanes 9:3

Bermuara pada apa pun keadaan kita, biarlah kita memiliki pengertian yang berbeda dan memandang semua masalah dan penderitaan yang kita alami dari sudut pandang rohani.

     Ayat nas menegaskan bahwa penderitaan adakalanya diijinkan terjadi supaya pekerjaan-pekerjaan Tuhan dinyatakan seperti yang dialami oleh orang yang buta sejak lahir, yang disembuhkan Tuhan dengan caraNya yang ajaib.  "...Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta,"  (Yohanes 9:6).  Secara manusia orang yang buta sejak lahir tidak mungkin disembuhkan, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.  Penderitaan yang dialami oleh orang buta itu adalah kesempatan baginya untuk mengalami kuasa dan kebesaran Tuhan.

     Maria dan Marta dalam peristiwa lain sebenarnya punya alasan untuk kecewa dan marah kepada Tuhan, karena ketika kabar tentang adiknya (Lazarus) yang sedang sakit sampai kepada Tuhan, Tuhan justru dengan  "...sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;"  (Yohanes 11:6), sampai pada akhirnya Lazarus meninggal.  Pasti semua orang akan berkata,  "Nasi sudah menjadi bubur."  Namun dalam setiap perkara tidak ada satu pun yang kebetulan, Tuhan tetaplah Pribadi yang memegang kendali hidup kita.  Manusia seringkali berkata bahwa semuanya sudah terlambat, tapi tidak bagi Tuhan!  Karena  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  (Pengkotbah 3:11).  Maksud dari semuanya itu adalah supaya kuasa dan kemuliaan Tuhan dinyatakan dengan menyadari bahwa kekuatan manusia itu sangat terbatas, karena itu jangan pernah membatasi kuasa Tuhan yang tak terbatas itu dengan keterbatasan kita.

     Penderitaan adalah juga cara Tuhan untuk menegur dan mengingatkan kita agar karakter kita makin dilebur dan dimurnikan.  Ayub yang sempat pahit hati karena penderitaan akhirnya menyadari dan hatinya pun diubahkan, sehingga ia dapat berkata, "Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (Ayub 42:2).

Melalui penderitaan, Tuhan hendak memurnikan iman dan ketaatan kita supaya kita bisa menjadi alatNya untuk menyaksikan perbuatanNya yang heran dan ajaib!