HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Friday, November 29, 2013

MENOLAK UNDANGAN TUHAN

"Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf."  Lukas 14:18a

Perikop dari pembacaan firman hari ini adalah perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih.  Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus menggambarkan hal Kerajaan Sorga seperti seorang Tuan yang sedang mengadakan jamuan yang besar dan mengundang banyak orang untuk datang di pestanya.  Biasanya orang akan antuasias ketika diundang ke sebuah pesta.  Pesta atau jamuan besar itu identik dengan makanan enak dan acara meriah.  Namun dalam kisah ini respons orang-orang yang diundang justru sangat mengejutkan, sekaligus mengecewakan.  Mereka malah menolak undangan itu dengan berbagai dalih atau alasan, padahal si Tuan yang empunya acara ini berkata,  "...rumahku harus penuh."  (ayat 23).  Menolak undangan berarti kehilangan kesempatan untuk menikmati perjamuan.

     Inilah gambaran dari orang-orang yang menganggap remeh berita salib!  Memang, "...pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."  (1 Korintus 1:18).  Mereka secara terang-terangan menolak anugerah keselamatan yang ditawarkan Allah melalui PuteraNya Yesus Kristus.  Padahal  "...begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah."  (Yohanes 3:16-19).  Tidak sedikit pula orang yang dengan sengaja melecehkan dan mempermainkan nama Yesus Kristus.  Padahal hanya oleh iman di dalam Yesus Kristus kita diselematkan.

     Kita yang sudah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan pun acapkali menyia-nyiakannya dengan tidak mengerjakan keselematan itu dengan hati yang takut dan gentar  (baca  Filipi 2:12-13).  Kita tidak lagi merespons dengan benar keselamatan yang telah kita terima dengan cuma-cuma itu dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan, dan menganggapnya sebagai hal yang biasa!


"Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."  Matius 22:14

Kalau kita menyadari bahwa hidup ini adalah karena kasih karunia Tuhan semata, maka seharusnya kita memiliki respons yang benar akan keselamatan yang Tuhan berikan dan juga panggilanNya.  Sampai saat ini pintu anugerah keselamatan dan berkat-berkatNya masih terbuka dan tersedia untuk siapa pun yang mau datang memenuhi undangan Tuhan.  Tapi masih banyak dari kita yang tidak mengalami dan menikmati berkat-berkat Tuhan sepenuhnya, padahal kita telah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.  Yang menjadi persoalan adalah kita memiliki banyak sekali alasan untuk menghindari undangan Tuhan.  Alasan-alasan inilah yang dijadikan senjata oleh Iblis untuk menjauhkan orang percaya dari kasih karunia Tuhan.  Alasan dan dalih sesungguhnya adalah bentuk dari pelemparan tanggung jawab.  Orang yang suka mencari-cari alasan atau dalih adalah orang yang tidak punya rasa tanggung jawab dan sulit untuk bisa dipercaya.

     Inilah yang seringkali menjadi alassan banyak orang untuk menolak dan menghindari undangan Tuhan Yesus:  1.  Karena harta kekayaan.  Mereka berkata,  "Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan."  (Lukas 14:18).  Ladang berbicara tentang harta kekayaan.  Seringkali banyak orang lebih mengasihi harta kekayaannya daripada mengasihi Tuhan, hatinya melekat kepada harta dan tidak lagi kepada Tuhan;  lebih mengutamakan perkara-perkara duniawi daripada rohani;  uang, rumah mewah, mobil, perhiasan dan sebagainya telah membutakan mata rohani mereka.  Kita bisa belajar dari pengalaman orang muda yang kaya  (baca  Matius 19:16-26), yang lebih memilih meninggalkan Yesus daripada harus membagi hartanya kepada orang miskin.  Kita patut bersyukur jika Tuhan melimpahkan berkat melimpah, namun semua itu tidak boleh menjadi berhala dalam hidup kita atau mengalihkan fokus kita dari Tuhan.  Jika itu terjadi, itu merupakan kejahatan di mata Tuhan.

     Di zaman sekarang ini orang lebih beriorientasi mengejar harta siang dan malam, sementara ibadah, pelayanan dan menabur tidak mereka pedulikan sama sekali.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).


"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku."  Matius 10:38

Alasan yang ke-2 adalah:  pekerjaan.  Perhatikan ini:  "Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya;"  (Lukas 14:19).  Ini berbicara tentang pekerjaan, karir atau bisnis.  Seringkali karena kesibukan kita dalam bekerja, berkarir dan berbisnis kita tidak punya waktu berdoa dan merenungkan firman Tuhan, jam-jam ibadah kita abaikan.  Kita juga menolak melayani Tuhan dengan alasan sibuk dan tidak ada waktu luang sedikit pun.  Kita lebih mementingkan pekerjaan daripada bersekutu dengan Tuhan.

     Pekerjaan, karir atau bisnis adalah salah satu cara Tuhan memberkati hidup kita.  Tetapi apabila itu kita anggap lebih penting daripada beribadah kepada Tuhan, maka akan menjadi berhala bagi kita.  Itu akan membuat seseorang makin jauh dari panggilan Tuhan.  Padahal,  "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah-sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur."  (Mazmur 127:1-2).  Ketaatan kita kepada Tuhan harus menjadi prioritas utama dalam hidup.  "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."  (Matius 6:33).

     Alasan selanjutnya adalah:  karena keluarga.  "Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang."  (Lukas 14:20).  Keluarga adalah orang-orang yang sangat kita kasihi, suami, isteri dan anak-anak adalah bagian hidup kita.  Bersama mereka kita menjalani hari-hari suka maupun duka.  Mereka sungguh sangat berarti!  Tanpa supportmereka kita tidak takkan mampu meraih semua harapan dan keinginan.  Meski demikian kita harus tetap menempatkan Tuhan sebagai segala-galanya bagi kita.  Seringkali keinginan menyenangkan suami, isteri atau anak-anak melebihi ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan.  "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."  (Matius 10:37-38).

Utamakan Dia lebih dari apa pun di dunia ini agar kehidupan kita berkenan kepada Tuhan!

Friday, November 8, 2013

HIDUP YANG DIPERKENAN TUHAN

"Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."  2 Korintus 6:2

Orang Kristen sejati tidak identik dengan orang yang pandai berkotbah, memiliki jam terbang pelayanan yang padat, memiliki karunia-karunia luar biasa, menjadi penulis buku-buku rohani, pengarang lagu rohani dan juga penyanyi rohani yang terkenal, ataupun yang dapat berkata-kata tentang kasih Tuhan dengan bahasa yang bagus dan indah di hadapan khalayak ramai, melainkan seseorang yang di dalam dirinya ada kasih Kristus yang dinyatakan melalui perkataan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.  Artinya ia benar-benar meneladani Kristus dalam hidupnya.  Ketika kita mempraktekkan kasih atau benar-benar hidup di dalam kasih, kita akan menjadi kesaksian dan berkat bagi orang lain.  Kehidupan kekristenan tanpa ada kasih di dalamnya adalah sebuah kehidupan yang kosong dan tanpa makna.  Kita patut bersyukur karena kita adalah umat yang dikasihi Allah,  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  (Yohanes 3:16).

     Yesus diutus datang ke dunia untuk menyatakan kasih Bapa yang kekal kepada kita.  OlehNya kita beroleh dan menikmati kasih yang sejati.  Dengan kasih Tuhan kita akan hidup di dalam berkat-berkatNya, pemulihan, kelepasan, terbebas dari dosa.  Karena kasih Tuhan inilah kita beroleh kesanggupan mengekspresikan sifat Allah yang penuh kasih kepada sesama kita.  Karena kasih Tuhan kita menerima perkenanan dari Tuhan.  Karena kasih Tuhanlah kita dikenan oleh Tuhan.  Kita tidak mungkin mendapatkan perkenanan dari Tuhan jika kita tidak mendapatkan kasih Tuhan terlebih dahulu.

     Kini bukan waktunya lagi bagi kita menjadi orang-orang Kristen yang biasa yang hanya percaya kepada Tuhan Yesus saja, tapi kita harus mengejar bagaimana kita menjadi orang Kristen yang bisa dipercaya oleh Tuhan Yesus.  Beroleh kepercayaan dari Tuhan adalah sesuatu yang sangat tak ternilai harganya.  Oleh karena itu jangan sia-siakan setiap kepercayaan yang Dia berikan untuk kita.  Lakukan itu dengan setia dan penuh ketaatan, karena tidak semua orang beroleh kesempatan itu!

Dipercaya Tuhan berarti kita istimewa di mata Tuhan dan sangat dikasihiNya!

Sunday, October 20, 2013

BERJALAN DALAM KEBENARAN TUHAN

"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia."  Matius 24:37

Keselamatan yang dialami oleh Nuh dan keluarganya adalah upah dari ketaatannya.  Nuh telah terbukti mampu hidup dalam kebenaran meski berada di tengah-tengah dunia yang dipenuhi dengan kejahatan.

     "Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah."  (Kejadian 6:9).  Ketika orang-orang sezamannya lebih memilih hidup menurut keinginan daging dan memuaskan hawa nafsunya, Nuh justru secara konsisten berjalan dalam kehendak Tuhan.  Ia senantiasa membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan;  dan terhadap orang yang bergaul karib denganNya Tuhan menyatakan diriNya sebagai sahabat, sehingga "...perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  (Mazmur 25:14).  Isi hati, kehendak dan rencana Tuhan pun disampaikan kepada Nuh:  "...sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa."  (Kejadian 6:17).

     Meskipun orang-orang di sekitarnya mencemooh, mencibir, mengintimidasi, mentertawakan dan menilai tindakan Nuh membuat bahtera adalah konyool, karena waktu itu tidak ada tanda akan turun hujan, tak sedikit pun melemahkan dan menggoyahkan imannya.  Nuh  "...dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan-dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya;  (Ibrani 11:7).  Tanpa memiliki iman yang teguh serta penyerahan hidup penuh kepada Tuhan mustahil Nuh dapat mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.  Hal ini membuktikan bahwa ia memiliki integritas!  Nuh berprinsip  "...harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia."  (Kisah 5:29).  Walaupun keadaan dan situasi sekitar sama sekali tidak mendukungnya untuk hidup dalam kebenaran, Nuh berani melawan arus!

    Di tengah dunia yang dipenuhi ketidakbenaran dan kejahatan, inilah kehendak Tuhan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,"  (Roma 12:2).

Sudahkah kita menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup ini?  Ataukah kita malah berkompromi dengan kehidupan duniawi?

Friday, October 4, 2013

JATUH DALAM DOSA DAN PENCOBAAN

"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  Matius 26:41

Mengapa Tuhan menasihati kita supaya selalu berjaga-jaga dan berdoa?  Tentu supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan, karena tidak ada seorang pun kebal terhadap dosa.  Kedagingan kita lemah sekali.  Buktinya?  Banyak orang Kristen yang seringkali jatuh dalam dosa dan kesalahan yang sama, padahal mereka selalu berusaha menghindarinya, tetapi selalu saja tidak punya kekuatan untuk melawan.  Rasul Paulus berkata,  "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat."  (Roma 7:19).

     Kita harus mencari penyebab mengapa kita mudah sekali jatuh dalam dosa.  Inilah yang disebut dengan peperangan rohani.  Kita tahu bahwa di setiap peperangan pasti ada musuh yang menjadi lawan kita.  Adakah seorang prajurit berleha-leha atau bersantai saat berada di medan peperangan?  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).  Jika lengah sedikit ia pasti akan menjadi sasaran empuk musuh dan nyawanya akan terancam.

     Siapakah yang menjadi musuh kita dalam peperangan rohani ini?  Pertama, musuh kita adalah si Iblis.  Ia adalah penyebab seseorang jatuh dalam dosa.  Tiada hentinya ia "...berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).  Tujuannya adalah untuk mencuri, membunuh dan membinasakan manusia  (baca  Yohanes 10:10a), serta menjauhkan orang-orang percaya dari kasih karunia Tuhan.  Siang dan malam tak henti-hentinya Iblis mendakwa, menghasut, menuduh, menyalahkan, mngungkit-ungkit masa lalu dan sebagainya sehingga kita memiliki citra diri yang buruk.  Dengan segala tipu dayanya Iblis menanamkan hal-hal yang negatif di dalam pikiran dan hati kita yang membuat kita kehilangan pengharapan, timbul keraguan, ketakutan, lalu kita pun mulai menyalahkan Tuhan.  Akhirnya,  "...yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul."  (Ayub 3:25-26). 


"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya."  Yakobus 1:14

Musuh kedua kita dalam peperangan rohani adalah kedagingan kita sendiri, karena seringkali membuat kita mudah jatuh ke dalam pencobaan.  Keinginan daging yang membuka celah dan akhirnya menyeret kita.  "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."  (Yakobus 1:15).  Musuh inilah yang tidak kita sadari tetapi sangat berbahaya.  Kedagingan atau kelemahan tubuh kita seringkali dimanfaatkan Iblis untuk membangkitkan keinginan kita melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan.  Apalagi setiap hari kita dihadapkan pada tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan dan meninabobokan.  Melalui berbagai media, cetak maupun elektronik, aneka ragam informasi disuguhkan kepada kita:  mulai dari berita yang menakutkan, menghibur, sampai hal-hal yang membangkitkan hawa nafsu.  Sesungguhnya  "...dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya,"  (1 Yohanes 2:17).  Akibatnya kita lebih banyak mendapatkan input yang bersifat duniawi daripada informasi atau berita yang bersifat sorgawi.

     Alkitab menegaskan,  "...semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."  (1 Yohanes 2:16).  Semakin kita terpikat dengan dunia ini semakin kita terikat dan menjadi sahabatnya.  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).  Bersahabat dengan dunia berarti mengutamakan perkara-perkara dunia ini dan mengabaikan perkara-perkara rohani.  Inilah yang dikehendaki Iblis bagi kita!  Karena itu jangan membuka celah terhadap keinginan daging kita yang menimbulkan pencobaan dan membuat kita jatuh dalam dosa.  Mustahil kita akan menang atas pencobaan jika kita tidak meningkatkan jam-jam doa kita untuk bersekutu dengan Tuhan.

     Dengan melekat kepada Tuhan setiap saat RohNya akan menolong kita dan menguatkan kita menghadapi setiap pencobaan yang ada.  "...Roh membantu kita dalam kelemahan kita;"  Roma 8:26

Tuesday, September 17, 2013

Berharaplah Kepada Tuhan Yang Setia


Lukas 16:19-31
Setiap kita pasti ingin memiliki kasih seperti hatiNya Tuhan yang tulus dan memiliki kasih. Kasih itu tidak akan berubah ketika ada perubahan disekitar kita. Pengorbanan Tuhan bagi kita itu luar biasa, Dia begitu setia bahkan sampai mati di kayu salib dan semua yang Dia miliki yang luar biasa di dalam Sorga (keagungan, kemuliaan, dll) tidak Dia pertahankan, tetapi Dia meninggalkan semuanya itu untuk kita.
Perikop ini mengangkat dua orang yang kehidupannya sangat berbeda. Yang seorang kaya raya luar biasa karena selalu berpakaian kain ungu dan jubah halus (pakaian kebesaran), setiap hari dia bersuka ria dalam kemewahan. Orang yang kedua namanya Lazarus, seorang pengemis miskin yang badannya penuh dengan borok dan berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu. Berbaring artinya dia seorang yang cacat. Jadi, karena cacat maka dia tidak bisa mencari uang sehingga dia menjadi pengemis. Ketika pengemis ini lapar, dia pergi ke tempat pembuangan makanan dari orang kaya yang setiap hari mengadakan pesta, dan sambil Lazarus mengorek makanan dari tempat sampah datang anjing-anjing menjilat boroknya.
Betapa menderitanya Lazarus selama hidup. Tetapi ketika dia mati, dia dijemput oleh malaikat dan dibawa ke pengkuan Abraham. Abraham adalah bapa orang percaya/beriman, maka namanya bapa pasti yang dipangkuannya adalah anak. Ini merupakan sebuah kiasan dimana seorang ayah memangku seorang anak dan bagaimana bapa pasti begitu juga anaknya. Artinya Lazarus juga adalah seorang yang percaya, imannya dasyat dan tidak berubah sekalipun apa yang dia harapkan tidak pernah tercapai sampai mati dia. Lazarus tetap dalam keadaan yang menderita, namun demikian dia tetap percaya dan berharap kepada Tuhan. Lazarus artinya Allah adalah pertolonganku. Abraham juga demikian, sebagai bapa orang percaya imannya dasyat dan tidak berubah ketika apa yang dia harapkan semakin hari semakin tidak mungkin bahkan sepertinya menemui jalan buntu.
Abraham menantikan keturunan sesuai dengan janji Allah. Kita tahu bahwa untuk menantikan keturunan maka usianya harus muda. Saya tidak berbicara tentang seorang pria, karena seorang pria walaupun sudah lanjuta masih bisa memiliki keturunan. Tetapi bagi wanita ada limit waktunya dimana diusia tertentu sudah tidak mungkin untuk mendapatkan keturunan. Tetapi Alkitab berkata dalam Roma 4:18-20, “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, …”. Mau berharap apalagi Sarah sudah lanjut usia, tetapi terhadap janji Allah Abraham tidak menjadi bimbang, malahan ia memperkuat imannya dan memuliakan Allah.
Menantikan janji Tuhan yang semakin lama semakin tidak mungkin bahkan sepertinya menemui jalan buntu, Abraham tidak berubah dalam pengharapan. Abraham tetap berharap dan percaya karena dia mengetahui bahwa Allah yang Dia sembah adalah Allah yang berkuasa untuk melaksanakan apa yang Dia janjikan. Inilah juga seharusnya yang mendasari iman kita. Belajarlah dari iman Abraham, agar kita juga memiliki iman yang luar biasa. Tuhan yang berjanji adalah Allah yang setia. 2 Timotius 2:13, “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya”.
Kita istimewa dihadapan Tuhan, itu sebabnya jangan pernah goyah apalagi meninggalkan Tuhan dengan alasan apapun. Abraham adalah bapa orang percaya, karena sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham tetap berharap dan percaya. Saat ini kita mungkin sedang mengharapkan pertolongan dari Tuhan untuk persoalan apapun yang sedang kita alami, bahkan jika sekarang ini kita sepertinya menghadapi sebuah jalan buntu, tetaplah percaya dan berharap pada Tuhan karena pertolongan Tuhan itu tidak pernah terlambat selalu tepat pada waktunya. Hal ini Tuhan ijinkan kita alami karena Dia ingin membuktikan kepada kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, Dia akan menjawab tepat pada waktuNya.
Nyawa dan kedudukan dianggapNya tidak penting, karena bagi Dia kita jauh lebih penting sehingga Dia rela meninggalkanNya agar kita menerima keselamatan. kita sangat berharga di mata Tuhan, ketika kita dalam masalah berat dan sepertinya sedang berada di jalan buntu, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah punya niat jahat bagi kita, semua itu Dia ijinkan agar kita melihat mujizat yang luar biasa dalam hidup ini. Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.
Bahkan Alkitab berkata dalam 1 Korintus 2:9, “… Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”. Artinya kita harus melakukan Firman, tanda kita mengasihi Tuhan maka kita akan menerima apa yang sudah Tuhan sediakan. Ini menunjukkan bahwa Lazarus adalah orang percaya dan beriman. Sekalipun keadaannya tidak berubah sampai ia mati, namun tidak ada usaha Lazarus untuk bunuh diri, dia tetap bersuka cita.
Tuhan ingin kita bersuka cita walau keadaan tidak bisa diharapkan. Tetap percaya dan berharap karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang berkuasa dan mampu melaksanakan semua yang Dia janjikan. Sebab itu jangan beputus asa, teruslah berharap dan bersuka cita serta percaya. Beginilah hidup Lazarus, sehingga ketika dia mati Alkitab berkata dalam Lukas 16:22, “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham”.
Orang kedua adalah orang kaya, tidak disebutkan kejahatannya dimana. Tetapi jika kita membaca Alkitab, dia adalah seorang kaya yang selalu mengadakan pesta, namun tidak memiliki belas kasihan. Lazarus ada di depan pintu gerbangnya cukup lama, sehingga orang kaya ini mengetahui nama pengemis ini. Lazarus yang menderita seperti itu, dan hal ini dilihat oleh orang kaya yang setiap hari mengadakan pesta ini, tetapi orang kaya ini tidak tergerak sedikitpun untuk memberikan makanannya kepada Lazarus, hal ini menunjukkan bahwa orang kaya ini tidak memiliki belas kasihan dan kemurahan.
Berbahaya sekali jika kita tidak memiliki belas kasihan dan kemurahan karena kita diselamatkan hanya oleh kemurahan hati Tuhan. Bahkan Alkitab berkata dalam Matius 5:7, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”. Artinya jangan kita menutup mata dan hati kita jika ada orang yang membutuhkan pertolongan dari kita. Kita telah menerima hal-hal yang baik dari Tuhan, sebab itu pergunakanlah kekayaan kita untuk mempermuliakan Tuhan, maka Sorga akan menjadi bahagian kita. Artinya jika ada orang yang minta tolong, maka seberapapun yang kita mampu atau mau untuk memberi, berilah itu sehingga Tuhan akan dipermuliakan.
Perikop ini juga menerangkan kepada kita bahwa nasib orang yang sudah mati memiliki tempatnya masing-masing, bahkan Abraham menekankan lebih lagi bahwa dari tempat orang yang tidak percaya tidak bisa menyeberang ke tempat orang percaya, begitu sebaliknya apalagi kedunia ini lagi. Jadi, perikop ini juga menekankan agar kita jangan mempercayai sebuah tradisi bahwa orang yang baru meninggal rohnya masih bergentayangan, karena Alkitab berkata bahwa orang yang meninggal langsung dibawa ke tempat yang telah Tuhan sediakan.
Filipi 2:12, “… karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, …”.Sebab itu tetaplah setia kepada Tuhan sekalipun keadaan kita tidak seperti yang kita harapkan. Sekalipun pertolongan Tuhan sepertinya lambat tetapi itu pasti dan tepat waktunya. Belajarlah juga dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang berkata bahwa seklipun Tuhan tidak tolong kami akan tetap setia kepada Tuhan (Daniel 3:17-18), dan prinsip iman seperti inilah yang menghasilkan mujizat. Ini yang Tuhan inginkan dari kita sekarang, yaitu kesetiaan. AMIN

Saturday, September 14, 2013

TUHAN ADALAH PERLINDUNGANKU

Mazmur 27:1-14

"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?"  Mazmur 27:1

Tak seorang pun tahu perihal hari esok!  Karena itu Alkitab menasihati:  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).  Manusia hanya bisa meramal, merancang dan membuat perkiraan-perkiraan, tapi hanya Tuhan yang tahu pasti.  "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana."  (Amsal 19:21), sebab  "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita..."  (Ulangan 29:29).  Mari jalani hidup ini dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan.  Kita tahu bahwa hidup penuh tantangan, ujian dan ketidakmengertian kita akan masa depan, sehingga banyak orang menempuh segala cara untuk mencoba melihat masa depannya dengan bertanya kepada dukun, paranormal dan sebagainya dengan harapan beroleh kekuatan, perlindungan dan jaminan.  Namun sebagai orang percaya kita punya Tuhan Yesus yang senantiasa menjaga, melindungi dan menyertai kita.

     Dalam Mazmur 27 Daud menyatakan bahwa ada banyak tantangan yang datang dari mana saja yang mungkin terjadi dalam kehidupan orang percaya.  Tantangan itu bisa datang dari orang-orang di sekitar yang berniat jahat untuk menjatuhkan dan menghancurkan kita  (ayat 2);  masalah atau persoalan yang sedang terjadi dan kita alami  (ayat 3);  ditinggalkan oleh orang-orang terdekat dan yang kita kasihi  (ayat 10);  orang-orang yang iri dengki yang berusaha memfitnah kita  (ayat 12) dan masih banyak lagi.  Sikap dalam menghadapi semua itu adalah harus tetap percaya kepada Tuhan dan terus bertekun mencari Dia.  "Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku."  (Amsal 8:17);  dan yang terutama sekali adalah kita harus menjaga hidup ini supaya tidak menyimpang dari jalan-jalan Tuhan.

     Hidup dalam ketaatan adalah kunci untuk beroleh perlindungan dari Tuhan,  "Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai."  (Mazmur 5:13).

Semakin mendekat kepada Tuhan semakin kita beroleh kekuatan dan mampu tegak berdiri di atas persoalan, karena Dia adalah perlindungan kita!

Wednesday, September 11, 2013

MERAGUKAN TUHAN YESUS

"Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya."  Matius 28:6a

Sampai saat ini masih banyak orang meragukan keilahian Kristus, tidak percaya bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat.  Selalu timbul pertanyaan:  benarkah Yesus disalibkan dan bangkit dari kematian?  Benarkah Dia menebus dosa manusia?  Banyak orang Kristen turut terprovokasi sehingga menjadi ragu-ragu terhadap imannya sendiri.  "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."  (1 Korintus 1:18).

     Sebagai orang percaya kita tidak perlu meragukan Tuhan kita Yesus Kristus.  Dia adalah penebus dosa kita seperti tertulis:  "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah."  (2 Korintus 5:21).  Ditegaskan pula bahwa  "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).  Orang dunia boleh saja ragu akan Yesus Kristus, tapi kita harus yakin bahwa Ia sudah bangkit dan kebangkitanNya ini menjadi dasar iman kita yang teguh.  Perihal kematianNya nabi Yesaya sudah menubuatkan,  "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."  (Yesaya 53:5).  Begitu juga tentang kebangkitanNya:  "Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: 'Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.'"  (Matius 27:54).  Kubur kosong membuktikan bahwa Yesus telah bangkit dan makin dipertegas di mana Ia juga menampakkan diri kepada murid-murid dan banyak orang  (baca  1 Korintus 15:4-6).  Jadi setelah membayar hukuman atas dosa kita melalui kematianNya, Yesus bangkit.

     Dengan demikian kematian dan kebangkitan Kristus menjadi hal yang sangat prinsipal bagi orang percaya.

Rasul Paulus menulis,  "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu."  1 Korintus 15:14.