HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Sunday, January 26, 2014

What did Jesus do on the cross?

Jesus died on the cross for our sins so that we might be forgiven when we trust in what Christ has done there.  When we, by faith, receive the sacrifice he offered, we can then have eternal life and escape the righteous judgement of God the Father.  On the cross, Jesus voluntarily bore our sins.  He allowed people to lie about him and kill him.  He used the evil done to him to bring good to others.  He sacrificed himself and demonstrated the greatest love of all.  On the cross is where we are redeemed, and it is where our sin debt to God is canceled.
Following is a list of Scriptures that tell us what Jesus did on the cross.
  1. He laid his life down for usJohn 10:11, "I am the good shepherd; the good shepherd lays down His life for the sheep."
  2. Demonstrated the greatest act of loveJohn 15:13, "Greater love has no one than this, that one lay down his life for his friends."
  3. Reconciled to GodRom. 5:10, "For if while we were enemies, we were reconciled to God through the death of His Son, much more, having been reconciled, we shall be saved by His life."
  4. Justified usRom. 5:18,  "So then as through one transgression there resulted condemnation to all men, even so through one act of righteousness there resulted justification of life to all men."
  5. He died to sinRom. 6:10, "For the death that He died, He died to sin, once for all; but the life that He lives, He lives to God."
  6. Died for our sins1 Cor. 15:3, "For I delivered to you as of first importance what I also received, that Christ died for our sins according to the Scriptures."
  7. He became sin2 Cor. 5:21, "He made Him who knew no sin to be sin on our behalf, that we might become the righteousness of God in Him."
  8. He finished the atonementJohn 19:30, "When Jesus therefore had received the sour wine, He said, “It is finished!” And He bowed His head, and gave up His spirit."
  9. Reconciled Jew and GentileEph. 2:16, "and might reconcile them both in one body to God through the cross, by it having put to death the enmity."
  10. Humbled himselfPhil. 2:8, "And being found in appearance as a man, He humbled Himself by becoming obedient to the point of death, even death on a cross."
  11. Reconciled all thingsCol. 1:20, "and through Him to reconcile all things to Himself, having made peace through the blood of His cross; through Him, I say, whether things on earth or things in heaven."
  12. Cancelled out our sin debtCol. 2:14, "having canceled out the certificate of debt consisting of decrees against us and which was hostile to us; and He has taken it out of the way, having nailed it to the cross."
  13. Rendered the Devil PowerlessHeb. 2:14, "Since then the children share in flesh and blood, He Himself likewise also partook of the same, that through death He might render powerless him who had the power of death, that is, the devil."
  14. Brought in the New CovenantHeb. 9:15-16, "And for this reason He is the mediator of a new covenant, in order that since a death has taken place for the redemption of the transgressions that were committed under the first covenant, those who have been called may receive the promise of the eternal inheritance. 16 For where a covenant is, there must of necessity be the death of the one who made it."
  15. He redeemed us1 Pet. 1:18-19, " knowing that you were not redeemed with perishable things like silver or gold from your futile way of life inherited from your forefathers, 19 but with precious blood, as of a lamb unblemished and spotless, the blood of Christ."
  16. Bore our sin1 Pet. 2:24, "and He Himself bore our sins in His body on the cross, that we might die to sin and live to righteousness; for by His wounds you were healed."
  17. Died for sins1 Pet. 3:18, "For Christ also died for sins once for all, the just for the unjust, in order that He might bring us to God, having been put to death in the flesh, but made alive in the spirit."
  18. Propitiated our sins1 John 2:2, "and He Himself is the propitiation for our sins; and not for ours only, but also for those of the whole world."
  19. He fulfilled prophecy, Psalm 22:14-18, "14 I am poured out like water, and all my bones are out of joint; My heart is like wax; It is melted within me. 15 My strength is dried up like a potsherd, and my tongue cleaves to my jaws. And you lay me in the dust of death. 16 For dogs have surrounded me. A band of evildoers has encompassed me; They pierced my hands and my feet. 17 I can count all my bones. They look, they stare at me; 18 They divide my garments among them, and for my clothing they cast lots."
  20. He fulfilled prophecy, Isaiah 53:4-7, "Surely our griefs He Himself bore, and our sorrows He carried. Yet we ourselves esteemed Him stricken, smitten of God, and afflicted. 5 But He was pierced through for our transgressions. He was crushed for our iniquities. The chastening for our well-being fell upon Him, and by His scourging we are healed. 6 All of us like sheep have gone astray, each of us has turned to his own way; But the Lord has caused the iniquity of us all to fall on Him. 7 He was oppressed and He was afflicted, yet He did not open His mouth. Like a lamb that is led to slaughter, and like a sheep that is silent before its shearers, So He did not open His mouth."
  21. He fulfilled prophecyZech. 12:10, "“And I will pour out on the house of David and on the inhabitants of Jerusalem, the Spirit of grace and of supplication, so that they will look on Me whom they have pierced; and they will mourn for Him, as one mourns for an only son, and they will weep bitterly over Him, like the bitter weeping over a first-born."

Thursday, January 23, 2014

NAMA YESUS: Kunci Jawaban Doa

 Yohanes 16:16-33

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku."  Yohanes 16:23b

Saudara memiliki kunci?  Entah itu kunci rumah, kunci motor, kunci mobil, kunci brankas dan sebagainya.  Untuk bisa membuka pintu rumah, mobil, brankas, menghidupkan mesin mobil atau motor kita pasti membutuhkan kunci tersebut.  Kunci benar-benar memegang peranan yang sangat penting.  Begitu juga dalam hal berdoa, ada kuncinya yang dapat membuka pintu sorga, menggerakkan Bapa bertindak dan memberikan jaminan bahwa doa-doa kita akan terjawab.  Ada pun kunci itu tak lain dan tak bukan adalah nama Yesus.  Mengapa?  Karena nama Yesus adalah nama yang berkuasa.  Tertulis:  "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!"  (Filipi 2:9-11).

     Yesus adalah Pengantara kita dan Juru Syafaat kita.  Dia berdiri di tengah-tengah antara kita dan Bapa di sorga.  Karena Yesus Kristus  "...kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah."  (Ibrani 19-20).  Jadi Tuhan Yesus adalah jalan pendamaian antara kita dengan bapa di sorga.  Oleh karena itu Yesus memerintahkan kita, anak-anakNya, untuk berdoa kepada Bapa di dalam namaNya.  Bila kita merasa bahwa doa-doa kita selama ini tidak mampu menyentuh hati Bapa, mungkin doa kita tidak sesuai dengan yang disampaikan Yesus dalam firmanNya ini.  Ketika kita berdoa dan meminta segala sesuatu ke Bapa, kita harus memintanya dalam nama Tuhan Yesus.  Inilah kunci utama doa orang percaya!  Jadi nama Yesus merupakan akses menuju kepada Bapa di sorga.  Yesus sendiri berkata,  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (Yohanes 14:6).

     Bila kita ingin beroleh jawaban atas doa kita, tidak ada cara lain bagi kita selain harus menaati ajaran firman Tuhan dan berdoa kepada Bapa di dalam nama Yesus. 


"dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak."  Yohanes 14:13

Seringkali kita berpikir bahwa Bapa di sorga harus menjawab doa-doa kita oleh karena kebaikan kita dan jasa-jasa kita.  Jika doa kita dijawab bukanlah karena kita baik, tapi terutama adalah karena nama Yesus.  Ia telah memberikan kepada kita hak dan wewenang menggunakan namaNya.  Jadi segala doa dan permohonan yang kita tujukan kepada Bapa harus di dalam nama Yesus.

     Berdoa dalam nama Yesus berarti berdoa dengan otoritas Yesus.  Saat kita percaya bahwa nama Yesus itu berkuasa, dan kita berdoa menggunakan kuasa itu, kita memiliki otoritas di dalam berdoa.  "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu."  (Lukas 10:19).  Jadi Yesus memberikan kepada kita kuasa atau hak untuk menggunakan namaNya.  Hal ini dibuktikan oleh ketujuh orang murid yang diutus oleh Yesus:  "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."  (Lukas 10:17).

     Persoalan apa pun yang sedang kita alami janganlah coba diatasi dengan kekuatan sendiri, sebab jika demikian kita sedang menghalangi Tuhan untuk mengulurkan tanganNya atas kita;  seperti memikul beban sendiri, bukannya mengijinkan Tuhan mengambil alih semuanya.  Jika kita berdoa tetapi tetap saja dihinggapi rasa cemas dan kuatir, doa kita pun tidak akan ada faedahnya.  "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."  (Filipi 4:6).  Ketika berdoa kita harus percaya bahwa apa yang kita minta akan kita terima, asal doa itu kita tujukan kepada Bapa di dalam nama Tuhan Yesus.  Setiap anak Tuhan, tanpa terkecuali, memiliki otoritas dan kuasa di dalam nama Tuhan Yesus.  Ini adalah hak semua orang percaya, bukan hanya untuk pendeta-pendeta terkenal atau para fulltimer saja.  Alkitab menyatakan bahwa  "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:"  (Markus 16:17).

"Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."  Yohanes 14:14

Tuesday, December 10, 2013

KESEMPATAN DI BALIK KESUKARAN


"Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."  Bilangan 13:31

Sebelum menduduki Tanah Perjanjian Tuhan memerintahkan Musa mengirimkan beberapa orang untuk menyelidiki tanah tersebut,  "Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kausuruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka."  (Bilangan 13:2).  Akhirnya Musa pun menyuruh orang-orang sesuai dengan perintah Tuhan, dan orang-orang itu adalah kepala-kepala di antara orang Israel.  Jumlah mereka ada 12 orang banyaknya, dan  "Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu,"  (Bilangan 13:25).  Masing-masing dari mereka memberikan laporan hasil investigasi selama 40 hari tersebut.

     Inilah laporan mereka:  sepuluh orang memberikan laporan yang membuat banyak orang merinding mendengarnya.  Apa yang disampaikan mereka itu benar-benar membuat ciut nyali, mematahkan semangat dan menciptakan ketakutan yang luar biasa. "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."  (Bilangan 13:31).  Mengapa mereka berkata demikian?  Inilah alasannya:  "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."  (Bilangan 13:32-33).  Sepuluh orang begitu membesar-besarkan masalah dan kesulitan yang sedang dihadapi sehingga fokus mereka hanya tertuju kepada ketidakberdayaan, ketidakmampuan, keterbatasan dan kemustahilan.  Mereka tidak mampu melihat sedikitpun kesempatan di balik kesukaran.  Bagi mereka kesukaran adalah bencana dan akhir dari segalanya.  Hal ini berdampak buruk bagi orang-orang yang mendengarnya.

     Sebagian besar umat Israel turut terintimidasi perkataan-perkataan negatif yang ke luar dari mulut sepuluh orang pengintai itu.  Padahal  "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu."  (Amsal 24:10). 

 

"Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!"  Bilangan 13:30

Kita harus menyadari bahwa selama kaki kita masih menginjak bumi, masalah dan kesukaran selalu ada di mana saja dan kapan saja.  Itu bisa menimpa siapa saja tanpa memandang bulu.  Akankah kita terus larut dalam masalah dan kesukaran yang ada?  Tawar hati hanya akan membuat semangat hidup kita padam dan iman menjadi lemah.  Mata rohani pun menjadi buta sehingga kita tak mampu melihat kebesaran kuasa Tuhan.  Tuhan menjadi tampak kecil sedangkan persoalan kian menjadi besar.

     Inilah yang terjadi pada bangsa Israel ketika mendengar laporan negatif dari sepuluh orang pengintai.  Bangsa Israel menangis dengan suara nyaring, menyesali diri, menyalahkan pemimpin, bahkan menyalahkan Tuhan dan meminta untuk kembali ke Mesir  (baca  
Bilangan 14:1-4).  Namun Kaleb dan Yosua tampil sebagai pribadi yang berbeda.  Keduanya memiliki Roh yang berbeda, di mana mereka mampu melihat kesempatan di balik kesukaran yang ada meskipun secara kasat mata mustahil bisa mengalahkan musuh, karena penduduk Kanaan memiliki perawakan tinggi-tinggi seperti raksasa.  Namun Kaleb dan Yosua tidak terbawa arus, keduanya tetap menguatkan hati dan tidak memusatkan perhatian pada masalah dan kesukaran, tapi mengarahkan mata rohaninya kepada Tuhan yang hidup, yang memiliki rencana yang indah bagi kehidupan mereka.  Visi inilah yang membuat keduanya mampu menguasai keadaan dan bersikap tenang.  Mereka sangat percaya akan rencana Tuhan membawa bangsa Israel ke luar dari Mesir ke  "...suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus."  (Keluaran 3:8);  bukan untuk mati di padang gurun, tetapi mewarisi tanah Kanaan, tanah Perjanjian.

     Dalam kesukaran selalu ada kesempatan yang terbuka ketika kita menaruh pengharapan kepada Tuhan, bukan mengandalkan kekuatan dan kemampuan manusia, karena kuasa Tuhan sangat tak terbatas, sementara kekuatan manusia sangatlah terbatas!

"Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?"  Yeremia 32:27


Friday, November 29, 2013

MENOLAK UNDANGAN TUHAN

"Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf."  Lukas 14:18a

Perikop dari pembacaan firman hari ini adalah perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih.  Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus menggambarkan hal Kerajaan Sorga seperti seorang Tuan yang sedang mengadakan jamuan yang besar dan mengundang banyak orang untuk datang di pestanya.  Biasanya orang akan antuasias ketika diundang ke sebuah pesta.  Pesta atau jamuan besar itu identik dengan makanan enak dan acara meriah.  Namun dalam kisah ini respons orang-orang yang diundang justru sangat mengejutkan, sekaligus mengecewakan.  Mereka malah menolak undangan itu dengan berbagai dalih atau alasan, padahal si Tuan yang empunya acara ini berkata,  "...rumahku harus penuh."  (ayat 23).  Menolak undangan berarti kehilangan kesempatan untuk menikmati perjamuan.

     Inilah gambaran dari orang-orang yang menganggap remeh berita salib!  Memang, "...pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."  (1 Korintus 1:18).  Mereka secara terang-terangan menolak anugerah keselamatan yang ditawarkan Allah melalui PuteraNya Yesus Kristus.  Padahal  "...begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah."  (Yohanes 3:16-19).  Tidak sedikit pula orang yang dengan sengaja melecehkan dan mempermainkan nama Yesus Kristus.  Padahal hanya oleh iman di dalam Yesus Kristus kita diselematkan.

     Kita yang sudah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan pun acapkali menyia-nyiakannya dengan tidak mengerjakan keselematan itu dengan hati yang takut dan gentar  (baca  Filipi 2:12-13).  Kita tidak lagi merespons dengan benar keselamatan yang telah kita terima dengan cuma-cuma itu dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan, dan menganggapnya sebagai hal yang biasa!


"Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."  Matius 22:14

Kalau kita menyadari bahwa hidup ini adalah karena kasih karunia Tuhan semata, maka seharusnya kita memiliki respons yang benar akan keselamatan yang Tuhan berikan dan juga panggilanNya.  Sampai saat ini pintu anugerah keselamatan dan berkat-berkatNya masih terbuka dan tersedia untuk siapa pun yang mau datang memenuhi undangan Tuhan.  Tapi masih banyak dari kita yang tidak mengalami dan menikmati berkat-berkat Tuhan sepenuhnya, padahal kita telah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.  Yang menjadi persoalan adalah kita memiliki banyak sekali alasan untuk menghindari undangan Tuhan.  Alasan-alasan inilah yang dijadikan senjata oleh Iblis untuk menjauhkan orang percaya dari kasih karunia Tuhan.  Alasan dan dalih sesungguhnya adalah bentuk dari pelemparan tanggung jawab.  Orang yang suka mencari-cari alasan atau dalih adalah orang yang tidak punya rasa tanggung jawab dan sulit untuk bisa dipercaya.

     Inilah yang seringkali menjadi alassan banyak orang untuk menolak dan menghindari undangan Tuhan Yesus:  1.  Karena harta kekayaan.  Mereka berkata,  "Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan."  (Lukas 14:18).  Ladang berbicara tentang harta kekayaan.  Seringkali banyak orang lebih mengasihi harta kekayaannya daripada mengasihi Tuhan, hatinya melekat kepada harta dan tidak lagi kepada Tuhan;  lebih mengutamakan perkara-perkara duniawi daripada rohani;  uang, rumah mewah, mobil, perhiasan dan sebagainya telah membutakan mata rohani mereka.  Kita bisa belajar dari pengalaman orang muda yang kaya  (baca  Matius 19:16-26), yang lebih memilih meninggalkan Yesus daripada harus membagi hartanya kepada orang miskin.  Kita patut bersyukur jika Tuhan melimpahkan berkat melimpah, namun semua itu tidak boleh menjadi berhala dalam hidup kita atau mengalihkan fokus kita dari Tuhan.  Jika itu terjadi, itu merupakan kejahatan di mata Tuhan.

     Di zaman sekarang ini orang lebih beriorientasi mengejar harta siang dan malam, sementara ibadah, pelayanan dan menabur tidak mereka pedulikan sama sekali.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).


"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku."  Matius 10:38

Alasan yang ke-2 adalah:  pekerjaan.  Perhatikan ini:  "Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya;"  (Lukas 14:19).  Ini berbicara tentang pekerjaan, karir atau bisnis.  Seringkali karena kesibukan kita dalam bekerja, berkarir dan berbisnis kita tidak punya waktu berdoa dan merenungkan firman Tuhan, jam-jam ibadah kita abaikan.  Kita juga menolak melayani Tuhan dengan alasan sibuk dan tidak ada waktu luang sedikit pun.  Kita lebih mementingkan pekerjaan daripada bersekutu dengan Tuhan.

     Pekerjaan, karir atau bisnis adalah salah satu cara Tuhan memberkati hidup kita.  Tetapi apabila itu kita anggap lebih penting daripada beribadah kepada Tuhan, maka akan menjadi berhala bagi kita.  Itu akan membuat seseorang makin jauh dari panggilan Tuhan.  Padahal,  "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah-sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur."  (Mazmur 127:1-2).  Ketaatan kita kepada Tuhan harus menjadi prioritas utama dalam hidup.  "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."  (Matius 6:33).

     Alasan selanjutnya adalah:  karena keluarga.  "Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang."  (Lukas 14:20).  Keluarga adalah orang-orang yang sangat kita kasihi, suami, isteri dan anak-anak adalah bagian hidup kita.  Bersama mereka kita menjalani hari-hari suka maupun duka.  Mereka sungguh sangat berarti!  Tanpa supportmereka kita tidak takkan mampu meraih semua harapan dan keinginan.  Meski demikian kita harus tetap menempatkan Tuhan sebagai segala-galanya bagi kita.  Seringkali keinginan menyenangkan suami, isteri atau anak-anak melebihi ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan.  "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."  (Matius 10:37-38).

Utamakan Dia lebih dari apa pun di dunia ini agar kehidupan kita berkenan kepada Tuhan!

Friday, November 8, 2013

HIDUP YANG DIPERKENAN TUHAN

"Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."  2 Korintus 6:2

Orang Kristen sejati tidak identik dengan orang yang pandai berkotbah, memiliki jam terbang pelayanan yang padat, memiliki karunia-karunia luar biasa, menjadi penulis buku-buku rohani, pengarang lagu rohani dan juga penyanyi rohani yang terkenal, ataupun yang dapat berkata-kata tentang kasih Tuhan dengan bahasa yang bagus dan indah di hadapan khalayak ramai, melainkan seseorang yang di dalam dirinya ada kasih Kristus yang dinyatakan melalui perkataan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.  Artinya ia benar-benar meneladani Kristus dalam hidupnya.  Ketika kita mempraktekkan kasih atau benar-benar hidup di dalam kasih, kita akan menjadi kesaksian dan berkat bagi orang lain.  Kehidupan kekristenan tanpa ada kasih di dalamnya adalah sebuah kehidupan yang kosong dan tanpa makna.  Kita patut bersyukur karena kita adalah umat yang dikasihi Allah,  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  (Yohanes 3:16).

     Yesus diutus datang ke dunia untuk menyatakan kasih Bapa yang kekal kepada kita.  OlehNya kita beroleh dan menikmati kasih yang sejati.  Dengan kasih Tuhan kita akan hidup di dalam berkat-berkatNya, pemulihan, kelepasan, terbebas dari dosa.  Karena kasih Tuhan inilah kita beroleh kesanggupan mengekspresikan sifat Allah yang penuh kasih kepada sesama kita.  Karena kasih Tuhan kita menerima perkenanan dari Tuhan.  Karena kasih Tuhanlah kita dikenan oleh Tuhan.  Kita tidak mungkin mendapatkan perkenanan dari Tuhan jika kita tidak mendapatkan kasih Tuhan terlebih dahulu.

     Kini bukan waktunya lagi bagi kita menjadi orang-orang Kristen yang biasa yang hanya percaya kepada Tuhan Yesus saja, tapi kita harus mengejar bagaimana kita menjadi orang Kristen yang bisa dipercaya oleh Tuhan Yesus.  Beroleh kepercayaan dari Tuhan adalah sesuatu yang sangat tak ternilai harganya.  Oleh karena itu jangan sia-siakan setiap kepercayaan yang Dia berikan untuk kita.  Lakukan itu dengan setia dan penuh ketaatan, karena tidak semua orang beroleh kesempatan itu!

Dipercaya Tuhan berarti kita istimewa di mata Tuhan dan sangat dikasihiNya!

Sunday, October 20, 2013

BERJALAN DALAM KEBENARAN TUHAN

"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia."  Matius 24:37

Keselamatan yang dialami oleh Nuh dan keluarganya adalah upah dari ketaatannya.  Nuh telah terbukti mampu hidup dalam kebenaran meski berada di tengah-tengah dunia yang dipenuhi dengan kejahatan.

     "Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah."  (Kejadian 6:9).  Ketika orang-orang sezamannya lebih memilih hidup menurut keinginan daging dan memuaskan hawa nafsunya, Nuh justru secara konsisten berjalan dalam kehendak Tuhan.  Ia senantiasa membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan;  dan terhadap orang yang bergaul karib denganNya Tuhan menyatakan diriNya sebagai sahabat, sehingga "...perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  (Mazmur 25:14).  Isi hati, kehendak dan rencana Tuhan pun disampaikan kepada Nuh:  "...sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa."  (Kejadian 6:17).

     Meskipun orang-orang di sekitarnya mencemooh, mencibir, mengintimidasi, mentertawakan dan menilai tindakan Nuh membuat bahtera adalah konyool, karena waktu itu tidak ada tanda akan turun hujan, tak sedikit pun melemahkan dan menggoyahkan imannya.  Nuh  "...dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan-dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya;  (Ibrani 11:7).  Tanpa memiliki iman yang teguh serta penyerahan hidup penuh kepada Tuhan mustahil Nuh dapat mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.  Hal ini membuktikan bahwa ia memiliki integritas!  Nuh berprinsip  "...harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia."  (Kisah 5:29).  Walaupun keadaan dan situasi sekitar sama sekali tidak mendukungnya untuk hidup dalam kebenaran, Nuh berani melawan arus!

    Di tengah dunia yang dipenuhi ketidakbenaran dan kejahatan, inilah kehendak Tuhan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,"  (Roma 12:2).

Sudahkah kita menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup ini?  Ataukah kita malah berkompromi dengan kehidupan duniawi?

Friday, October 4, 2013

JATUH DALAM DOSA DAN PENCOBAAN

"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  Matius 26:41

Mengapa Tuhan menasihati kita supaya selalu berjaga-jaga dan berdoa?  Tentu supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan, karena tidak ada seorang pun kebal terhadap dosa.  Kedagingan kita lemah sekali.  Buktinya?  Banyak orang Kristen yang seringkali jatuh dalam dosa dan kesalahan yang sama, padahal mereka selalu berusaha menghindarinya, tetapi selalu saja tidak punya kekuatan untuk melawan.  Rasul Paulus berkata,  "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat."  (Roma 7:19).

     Kita harus mencari penyebab mengapa kita mudah sekali jatuh dalam dosa.  Inilah yang disebut dengan peperangan rohani.  Kita tahu bahwa di setiap peperangan pasti ada musuh yang menjadi lawan kita.  Adakah seorang prajurit berleha-leha atau bersantai saat berada di medan peperangan?  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).  Jika lengah sedikit ia pasti akan menjadi sasaran empuk musuh dan nyawanya akan terancam.

     Siapakah yang menjadi musuh kita dalam peperangan rohani ini?  Pertama, musuh kita adalah si Iblis.  Ia adalah penyebab seseorang jatuh dalam dosa.  Tiada hentinya ia "...berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).  Tujuannya adalah untuk mencuri, membunuh dan membinasakan manusia  (baca  Yohanes 10:10a), serta menjauhkan orang-orang percaya dari kasih karunia Tuhan.  Siang dan malam tak henti-hentinya Iblis mendakwa, menghasut, menuduh, menyalahkan, mngungkit-ungkit masa lalu dan sebagainya sehingga kita memiliki citra diri yang buruk.  Dengan segala tipu dayanya Iblis menanamkan hal-hal yang negatif di dalam pikiran dan hati kita yang membuat kita kehilangan pengharapan, timbul keraguan, ketakutan, lalu kita pun mulai menyalahkan Tuhan.  Akhirnya,  "...yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul."  (Ayub 3:25-26). 


"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya."  Yakobus 1:14

Musuh kedua kita dalam peperangan rohani adalah kedagingan kita sendiri, karena seringkali membuat kita mudah jatuh ke dalam pencobaan.  Keinginan daging yang membuka celah dan akhirnya menyeret kita.  "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."  (Yakobus 1:15).  Musuh inilah yang tidak kita sadari tetapi sangat berbahaya.  Kedagingan atau kelemahan tubuh kita seringkali dimanfaatkan Iblis untuk membangkitkan keinginan kita melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan.  Apalagi setiap hari kita dihadapkan pada tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan dan meninabobokan.  Melalui berbagai media, cetak maupun elektronik, aneka ragam informasi disuguhkan kepada kita:  mulai dari berita yang menakutkan, menghibur, sampai hal-hal yang membangkitkan hawa nafsu.  Sesungguhnya  "...dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya,"  (1 Yohanes 2:17).  Akibatnya kita lebih banyak mendapatkan input yang bersifat duniawi daripada informasi atau berita yang bersifat sorgawi.

     Alkitab menegaskan,  "...semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."  (1 Yohanes 2:16).  Semakin kita terpikat dengan dunia ini semakin kita terikat dan menjadi sahabatnya.  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).  Bersahabat dengan dunia berarti mengutamakan perkara-perkara dunia ini dan mengabaikan perkara-perkara rohani.  Inilah yang dikehendaki Iblis bagi kita!  Karena itu jangan membuka celah terhadap keinginan daging kita yang menimbulkan pencobaan dan membuat kita jatuh dalam dosa.  Mustahil kita akan menang atas pencobaan jika kita tidak meningkatkan jam-jam doa kita untuk bersekutu dengan Tuhan.

     Dengan melekat kepada Tuhan setiap saat RohNya akan menolong kita dan menguatkan kita menghadapi setiap pencobaan yang ada.  "...Roh membantu kita dalam kelemahan kita;"  Roma 8:26