HELL and his life.....

YESAYA26:9: "Jiwaku merindukan Engkau pada waktu malam, aku mencari Engkau dengan segenap hati, apabila Engkau menghakimi bumi kelak, penduduknya akan mengetahui makna keadilan"

Wednesday, August 15, 2018

TANAH LIAT DI TANGAN PENJUNAN

"Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya."  Yeremia 18:4

Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap orang Kristen pasti menginginkan berkat-berkat Tuhan dalam hidupnya.  Namun dalam pengiringan kita kepada Tuhan janganlah kita hanya ingin menikmati berkat-berkatNya saja, sementara kita tidak mau dibentuk dan diproses Tuhan.  Siapakah kita ini di hadapan Tuhan sehingga kita mau mengatur Tuhan?  Ingat, kita ini adalah tanah liat dan Tuhan adalah Sang Penjunan.  Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan Yeremia untuk pergi ke tukang periuk supaya ia dapat belajar dari apa yang diperbuat si tukang periuk terhadap tanah liat sebelum menjadi bejana yang indah dan memiliki nilai guna.  "Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'"  (Yesaya 45:9).

     Agar kita menjadi bejana Tuhan yang berharga dan digunakan untuk tujuan yang mulia kita pun harus rela dan mau dibentuk oleh Tuhan, sebab tanah liat tidak secara otomatis berubah menjadi bejana yang halus dan menarik tanpa melewati proses terlebih dahulu.  Proses inilah yang seringkali kita hindari karena kita merasakan sakit yang luar biasa sehingga kita memberontak, kecewa dan marah kepada Tuhan.  Namun semakin memberontak proses itu akan terasa lama dan menyakitkan.  Bangsa Israel harus mengalami proses pembentukan Tuhan di padang gurun selama 40 tahun lamanya oleh karena mereka suka memberontak, bersungut-sungut, mengeluh dan hidup dalam ketidaktaatan alias tegar tengkuk.  Bisa saja tukang periuk membuat bejana itu secara cepat atau instan  ('SKS' - sistem kebut semalam), tapi hasilnya?  Tidak bisa dijamin kualitasnya, dan mungkin saja bejana tersebut tidak bisa bertahan lama, retak dan mudah pecah.

     Maukah kita menjadi bejana atau perabot Tuhan yang bermutu rendah, biasa saja dan berharga murah?  Setiap kita pasti ingin menjadi bejana Tuhan untuk tujuan yang mulia, menjadi anak-anak Tuhan yang outclass (unggul).  Untuk itu ada harga yang harus dibayar.  Karena itu jangan mengeraskan hati!  Hati yang keras tak ubahnya seperti tanah keras yang perlu dilebur dan digemburkan sampai tanah itu benar-benar siap untuk dibentuk menjadi bejana sesuai dengan rencana si tukang periuk.


"Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: 'Mengapakah engkau membentuk aku demikian?'"  Roma 9:20

Tuhan selalu punya cara membentuk dan meproses kita, bisa melalui masalah, ujian, penderitaan, sakit-penyakit, krisis keuangan, bahkan melalui berkat atau kelimpahan.

     "Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?"  (Roma 9:21).  Artinya Tuhan memiliki hak penuh atas hidup kita karena Dialah Sang Penjunan, sedangkan kita ini adalah tanah liatNya, karena itu Ia akan membentuk kita sesuai dengan kehendak dan recanaNya.  Sebagai tanah liat kita tidak dapat menentukan sendiri akan menjadi bejana yang bagaimana dan seperti apa kita ini karena hal itu sepenuhnya tergantung dari Sang Penjunan.  Bagaimana supaya kita menjadi bejanaNya yang mulia?  Tidak ada jalan lain selain kita harus tunduk, taat dan berserah penuh kepada Tuhan, menanggalkan manusia lama dengan menyucikan diri terhadap hal-hal yang jahat supaya kita layak dipakai untuk setiap pekerjaan yang baik dan mulia  (baca  2 Timotius 2:21).  Karena itu  "...jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran."  (2 Timotius 2:22-23).

     Ada banyak orang Kristen yang sudah merasa cukup menjadi perabot Tuhan untuk tujuan yang biasa-biasa.  Mereka tidak mau membayar harga, enggan meninggalkan dosa dan segala bentuk kecemaran dunia ini, padahal Alkitab tegas mengingatkan:  "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."  (1 Tesalonika 4:7).  Tuhan akan dan siap memakai kita untuk tujuannya yang mulia asal kita terlebih dahulu mau menyucikan diri.

Ingin menjadi bejana Tuhan yang mulia?  "Keluarlah kamu...dan pisahkanlah dirimu...dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu."  2 Korintus 6:17

SERUPA KRISTUS: Menjadi SahabatNya

"Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu."  Yohanes 15:14

Tuhan menginginkan agar setiap orang percaya makin hari makin meningkatkan hubungan denganNya, semakin hari semakin intim dan karib dengan Dia seperti hubungan seorang sahabat.  Tuhan mau kita menjadi sahabat-sahabatNya.

     Orang yang menjadi sahabat Kristus adalah orang yang senantiasa bergaul karib dengan Dia, seia-sekata di segala keadaan, baik itu suka maupun duka.  Menjadi sahabat berarti lebih dari sekedar teman:  kedua belah pihak sudah saling mengenal luar-dalam, saling memahami, saling berbagi.  Ada unsur kesetiaan dan juga komitmen di dalamnya.  Jadi hubungan persahabatan itu hubungan yang sangat spesial atau khusus, di mana kedua belah pihak saling membagi isi hati, bahkan tidak ada hal yang dirahasiakan.  Penulis Amsal menggambarkan,  "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."  (Amsal 17:17), bahkan  "...ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara."  (Amsal 18:24).  Itulah arti seorang sahabat!  Tuhan Yesus berkata,  "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku."  (Yohanes 15:14-15).  Pada saat kita belajar menjadi sahabat Yesus kita sedang belajar untuk mengenal dan memahami isi hati, pikiran, perasaan dan juga kehendakNya.  Bagaimana kita bisa mengenal dan memahami isi hati, pikiran, perasaan, dan kehendak Tuhan?  Yaitu melalui firmanNya.  Kita harus tinggal di dalam firmanNya, artinya kita tidak lupa memperkatakan kitab Taurat tersebut, merenungkan itu siang dan malam dan bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya.  (baca  Yosua 1:8).

     Seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan?  Apakah kita mendekat kepadaNya hanya ketika sedang dalam permasalahan yang berat?  Ataukah kekariban kita dengan Tuhan seperti hubungan antarsahabat di setiap waktu?  Sudahkah kita layak disebut sebagai sahabat Kristus?

"TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  Mazmur 25:14

SERUPA KRISTUS: Menjadi MuridNya

"Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus."  Galatia 3:27

Sebagai umat pilihan Tuhan yang dirancang untuk tujuan mulia, kita pun harus mau dan siap diproses dan dibentuk Tuhan sebagaimana ketika Tuhan memilih dan menetapkan 12 orang murid sebagai mitra kerjaNya selama 3,5 tahun di bumi.  Ia berkata,  "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."  (Matius 4:19).  Mereka tidak langsung diutus untuk menjangkau jiwa-jiwa, tapi mereka terlebih dahulu diajar, dilatih dan dipersiapkan Tuhan secara khusus sampai akhirnya dipercaya untuk mengemban Amanat AgungNya.  Awal kehidupan murid Kristus harus dimulai dengan mengerti apa artinya menjadi Kristen, sebab ada banyak orang Kristen yang sudah lama menjadi Kristen tetapi belum mengerti tujuan dan arti hidupnya sebagai orang Kristen.

     Jika kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul, sebutan murid ditujukan kepada orang percaya yang menunjukkan karakteristik tertentu, yaitu memiliki sifat atau karakter seperti Kristus.  Menjadi Kristen bertahun-tahun namun jika tindakan atau perbuatan kita tidak mencerminkan sifat atau karakter Kristus, layakkah kita ini disebut murid Kristus?  Apa arti kata murid?  Murid adalah seseorang yang mengikatkan dirinya atau memiliki komitmen terhadap orang lain untuk memperoleh pengetahuan, baik itu secara teori dan juga praktek;  seorang yang mau mendisiplinkan diri untuk belajar dan mau diajar oleh gurunya.  Menjadi murid Kristus adalah panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya.  Kita yang telah menerima keselamatan secara cuma-cuma dari Tuhan harus melangkah ke tingkat selanjutnya yaitu menjadi muridNya.  Dengan demikian menjadi murid Kristus berarti memiliki komitmen dan mendisiplinkan diri untuk belajar dan mau diajar oleh guru kita, yaitu Tuhan Yesus sendiri.  Ia adalah Guru Agung kita, dan untuk bisa memahami apa kehendak Sang Guru, kita membutuhkan Roh Kudus.  "Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."  (Yohanes 14:26).  Matius 16:24 mengatakan,  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."

     Jadi seorang murid Yesus yang sejati adalah orang yang mau menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia.


"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."  Matius 16:24

Ada tiga perkara yang harus kita lakukan supaya kita layak disebut sebagai murid Yesus.  Di antaranya adalah:  menyangkal diri, berarti mehyangkal keinginan daging kita:  ego, ambisi, pikiran, perasaan dan kehendak diri sendiri, lalu bertekad melakukan apa yang Tuhan Yesus kehendaki.  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Pada saat kita berkomitmen untuk menjadi murid Yesus kita sedang belajar untuk berpikir, berperasaan, dan berkehendak seperti Tuhan Yesus  (baca  Filipi 2:5).  Namun banyak orang Kristen yang sulit sekali menyangkal diri.  Contoh simpelnya dalam hal berdoa dan membaca Alkitab.  Seringkali kita malas melakukan, atau kita kerjakan sambil lalu saja termasuk dalam hal melayani Tuhan, di mana kita menunjukkan sikap ogah-ogahan dan tak bersemangat dengan berbagai alasan:  capai, lembur kerja, tidak punya talenta dan sebagainya.

     Memikul salib berarti mau menderita bagi Kristus.  "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  (Filipi 1:29).  Menderita bisa berupa perlakuan tidak adil, dibenci, dikucilkan, diintimidasi oleh orang lain karena status kita sebagai pengikut Kristus.  "Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung...Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya."  (1 Petrus 2:19-21).

     Mengikut Yesus artinya taat melakukan firman Tuhan.  "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku."  (Yohanes 8:31).  Saat kita taat melakukan firmanNya kita sedang melangkah menuju standar seperti Yesus.  "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,"  (Roma 8:29).

"Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya."  Lukas 6:40

Friday, June 29, 2018

NASI SUDAH MENJADI BUBUR

"Jawab Yesus: 'Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?'"  Yohanes 11:40

Semua orang pasti akan berkata,  "Nasi sudah menjadi bubur!"  setelah mendapati Lazarus sudah mati, bahkan telah empat hari dikuburkan.

     Nada penyesalan tersirat dalam pernyataan Marta,  "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."  (Yohanes 11:21).  Sambil tersungkur di bawah kaki Yesus Maria pun mengungkapkan hal yang sama,  "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."  (Yohanes 11:32).  Kita pun seringkali bersikap demikian, kecewa dan bersungut-sungut dengan mengatakan bahwa semuanya sudah terlambat,  "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."  (Yohanes 11:32).  Benarkah demikian?  Pertolongan Tuhan itu tidak pernah terlambat, karena  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  (Pengkotbah 3:11).  Hal ini dibuktikan ketika Yesus bertindak dengan berkata,  "'Lazarus, marilah ke luar!' Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh." (Yohanes 11:43-44).  Luar biasa!  Lazarus yang sudah mati selama empat hari pun dibangkitkanNya!

     Jika saat ini kita sedang mengalami pergumulan berat:  sakit-penyakit, ekonomi, kewangan, pekerjaan sepertinya sudah mati dan tiada harapan lagi, janganlah menyerah pada keadaan!  Tetaplah berserah kepada Tuhan dan nantikan pertolongannya dengan sabar, maka kita akan melihat mujizatNya dinyatakan.  Selalu ada rencana indah di balik  'keterlambatan'  Tuhan dalam bertindak.  Jika  'seolah-olah'  Tuhan terlambat dan lamban, di balik itu pasti ada sesuatu yang sedang Dia kerjakan.  Tuhan ingin kita belajar untuk percaya.  Selama ini murid-murid atau orang-orang sudah biasa melihat Yesus menyembuhkan orang sakit, namun mereka belum melihat Yesus membangkitkan orang mati.  Dalam hal ini Yesus sedang mengajar murid-muridNya untuk mengembangkan iman mereka supaya mereka tahu bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup.

"...syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya."  Yohanes 11:15

Thursday, June 28, 2018

BANGGA MENJADI ORANG PERCAYA

"...sekarang Aku akan membuat engkau menjadi kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun."  Yesaya 60:15

Masih banyak orang Kristen yang malu dengan keberadaannya sebagai pengikut Kristus;  dengan segala cara mereka berusaha menutupi diri rapat-rapat di hadapan orang lain.

     Tidak seharusnya kita malu dengan status kita sebagai orang Kristen,  "Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."  (Markus 8:38);  mestinya kita bangga menjadi pengikut Kristus karena kita adalah orang-orang pilihan Tuhan, artinya kita ini istimewa dan sangat berharga di mata Tuhan.  "...kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan."  (1 Petrus 2:9-10).  Kita pun adalah warga Kerajaan Sorga  (baca  Filipi 3:20).  Sedangkan Tuhan telah memanggil dan memilih kita  "... sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,"  (Efesus 1:4-5).  Jadi Tuhan memiliki rancangan yang luar biasa bagi hidup kita.

     Rancangan Tuhan bagi kita bukan hanya berkaitan dengan jaminan hidup kekal di dalam Kerajaan Sorga, tapi juga berlaku pada saat kita masih menjalani hari-hari kita di dunia yang fana ini.  "...Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).

Atas dasar inilah Tuhan menghendaki supaya kita tidak menjadi orang yang minder, sebaliknya dengan penuh semangat kita memberitakan kabar baik ini kepada orang dan hidup sesuai dengan panggilan Tuhan tersebut!

AMOS: Saluran Isi Hati Tuhan

"Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup;"  Amos 5:14

Amos adalah salah satu tokoh penting dalam Alkitab yang patut menjadi inspirasi kita.  Ia bukanlah berasal dari keluarga yang berada dan berpendidikan tinggi.  Dikatakan,  "Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan."  (Amos 7:14).  Amos adalah orang biasa:  peternak dan pemungut buah ara di hutan, serta bertempat tinggal di sebuah desa kecil bernama Tekoa yang termasuk wilayah Yehuda.  Itulah sebabnya Amos sering disebut sebagai penggembala dari Tekoa atau peladang pohon ara dari selatan.

     Meski dari kalangan orang  'bawah'  bukan berarti Amos tidak punya masa depan dan tidak layak dipakai Tuhan.  Justru dari kesederhanaannya ini Tuhan memilih Amos untuk alatNya.  Ada tertulis:  "...apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah."  (1 Korintus 1:27-29).  Jangan pernah  berkecil hati dengan keadaan yang ada dan janganlah berkata,  "Mana mungkin hidupku dipakai Tuhan, sementara aku tidak pernah mengenyam pendidikan teologia, tidak fasih bicara, wajahku pas-pasan, aku tidak punya harta yang bisa dibanggakan.  Semua orang pasti memandangku dengan sebelah mata."  Tuhan tidak pernah memilih seseorang dari fisik, jabatan, kekayaan dan sebagainya.  "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."  (1 Samuel 16:7b).  Setiap orang percaya memiliki kesempatan yang sama untuk dipakai Tuhan sebagai alat kemuliaanNya.

     Tuhan memakai Amos untuk sebuah misi besar yang luar biasa yaitu menyampaikan pesan penting yang berisi teguran dan peringatan kepada bangsa Israel bagian utara yang pada waktu itu sedang berada di puncak kejayaan.  Mungkinkah?  Tidak ada yang tak mungkin bagi orang percaya, karena dalam segala perkara Tuhan turut bekerja.  Dengan kekuatan sendiri Amos tidak akan mampu, tapi ada Roh Tuhan yang menyertainya.


"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu."  Amos 5:21

Secara eksternal bangsa Israel mengalami kemajuan dan kemapanan ekonomi.  Namun yang disesalkan hal ini tidak diimbangi kemajuan dari sisi rohani.  Yang terjadi justru sebaliknya, bangsa Israel sedang menuju kehancuran dan kemerosotan moral, terutama di kalangan orang-orang kaya atau masyarakat lapisan atas yang merasa nyaman dengan keadaan mereka yang berlimpah materi/kekayaan.  Karena merasa punya uang mereka bertindak semena-mena dengan melakukan penindasan terhadap rakyat kecil.  Akhirnya negeri dipenuhi ketidakadilan, ketidakbenaran, keserakahan, kelaliman.  Hati Tuhan sangat sedih melihat dosa dan pelanggaran bangsa Israel yang begitu kronis ini dan Ia sangat peduli terhadap orang-orang yang tertindas.  "Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya."  (Mazmur 34:7).

     Melalui Amos Tuhan menegur bangsa Israel dengan keras agar mereka segera bertobat!  Teguran Tuhan adalah bukti bahwa Ia sangat mengasihi bangsa Israel meski berulangkali mereka memberontak dan hidup dalam ketidaktaatan.  Tuhan menghendaki agar mereka segera bertobat;  jika tidak, Tuhan akan bertindak dengan tanganNya sendiri untuk menghakimi.  Penglihatan yang diterima oleh Amos di pasal 7-9 adalah bukti bahwa Tuhan tidak main-main dengan ucapanNya.  Tuhan sangat membenci kepura-puraan.  Ibadah dan persembahan tidak akan berarti apa-apa di hadapan Tuhan bila tidak disertai dengan ketaatan melakukan firmanNya.  Bangsa Israel berpikir bahwa Tuhan dapat disuap atau disogok dengan besarnya persembahan yang mereka bawa ke rumahNya.

     Teguran Amos ini juga berlaku bagi kita-kita yang hidup di zaman sekarang ini.  Bukankah ada banyak orang Kristen yang sedang terlena karena merasa berada di  'puncak'  dengan harta kekayaannya yang melimpah, sehingga mereka tidak lagi mengindahkan firman Tuhan?  Kita berpikir bahwa dengan memberikan banyak persembahan di gereja dan aktif di gereja Tuhan akan diam saja melihat kejahatan dan ketidaktaatan kita.  Amos, yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh manusia, hari ini dipakai Tuhan untuk mengingatkan kita.

Masihkan kita mengeraskan hati dan mengabaikan teguranNya?

ALLAH: Bapa yang Baik

"Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku."  Lukas 15:12a

Kita patut bersyukur, oleh karena pengorbanan Tuhan kita Yesus Kristus di atas Kavlari, kita yang dahulunya terbuang jauh karena dosa diperdamaikan kembali dengan Allah, bahkan kita diangkat sebagai anak-anak Allah dengan panggilan yang sangat intim yaitu Bapa.  Kata Bapamenunjukkan hubungan kasih yang tiada jarak, erat, tidak ada keraguan atau keengganan lagi.  Bahkan lebih dari itu  "...jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."  (Roma 8:17).  Sebagai anak kita juga berhak atas warisan yang telah disediakan oleh Bapa bagi anak-anakNya.

     Dalam pembacaan firman hari ini Tuhan Yesus melukiskan kebesaran kasih Bapa melalui perumpamaan tentang anak yang hilang.  Anak bungsu adalah gambaran dari kehidupan di dalam kasih karunia, sedangkan ayah yang baik adalah gambaran dari pribadi Bapa di sorga yang dipenuhi oleh kasih karunia untuk anak-anakNya.  Anak bungsu memaksa ayahnya untuk segera membagikan harta kekayaannya kepada anak-anaknya.  Si bungsu meminta harta yang menjadi haknya terlebih dahulu;  dan karena kasihnya yang begitu besar, sang ayah pun membagi-bagikan harta kekayaannya tersebut.  Setelah menerima harta dari sang ayah si bungsu ini pun segera menjual seluruh hartanya, lalu pergi ke negeri yang jauh meninggalkan ayah dan kakaknya.  Di tempat jauh inilah si bungsu memboroskan harta kekayaan untuk berfoya-foya hingga harta yang dimilikinya tersebut ludes tak tersisa.  Keadaannya makin buruk karena di negeri di mana ia tinggal terjadi bencana kelaparan yang hebat, sehingga ia pun menjadi sangat melarat.  Untuk bertahan hidup ia bekerja sebagai penjaga babi, dan karena laparnya ia sampai ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi.

     Anak bungsu menanggung akibat dari kesalahannya sendiri:  hidupnya gagal dan hancur total sampai di titik terendah setelah keluar dan meninggalkan rumah ayahnya.


"Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."  Lukas 15:32

Setelah mengalami kegagalan, kehancuran dan mengalami jalan buntu untuk setiap permasalahan yang kita hadapi seringkali kita baru menyadari akan kesalahan yang kita perbuat dan menyesal.  Memang, penyesalan selalu datang terlambat.  Inilah yang dirasakan anak bungsu,  "Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa."  (Lukas 15:17-18).  Akhirnya anak bungsu pun memutuskan untuk kembali ke rumah ayahnya.  Ia tidak peduli apakah ayahnya masih mau menerimanya atau tidak.

     Perhatikan:  ketika anaknya yang bungsu kembali,  "Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."  (Lukas 15:20b).  Luar biasa!  Dengan tangan terbuka ayah menyambut kembali anak bungsunya yang telah lama hilang.  Bukan hanya itu, ia pun memberikan jubah yang terbaik, cincin dan juga sepatu  (ayat 22b).  Inilah gambaran kasih Bapa yang sungguh besar kepada kita;  tanganNya selalu terbuka untuk menyambut dan menerima kita kembali meskipun kita telah memberontak, hidup dalam ketidaktaatan dan meninggalkan Dia demi menuruti keinginan hawa nafsu.  Jubah yang diberikan ayah kepada anak bungsu adalah gambaran kebenaran dan keselamatan.  Kebenaran telah hilang dalam diri semua manusia oleh karena dosa,  "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak."  (Roma 3:10).  Firman Tuhan menegaskan bahwa  "...upah dosa ialah maut;"  (Roma 6:23)  namun  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  (Yohanes 3:16).

     PengorbananNya di kayu salib membenarkan manusia dan memberi manusia keselamatan.  "Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran."  (Roma 6:17-18).


"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia."  Mazmur 103:13

Sang ayah memberikan cincin kepada anak bungsu.  Cincin adalah lambang otoritas.  Di awal penciptaannya manusia beroleh kuasa dan otoritas dari Tuhan unuk menguasai dan menaklukkan bumi.  "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."  (Kejadian 1:26).  Namun kuasa dan otoritas itu hilang karena manusia jatuh dalam dosa.  Namun melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib otoritas dan kuasa itu dikembalikan dan menjadi milik orang percaya seperti penegasan Yesus, "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu."  (Lukas 10:19).  Setiap yang percaya kepada Yesus mempunyai kuasa di dalam namaNya, karena namaNya adalah nama di atas segala nama dan di dalam namaNya bertekuk lutut segala yang ada di langit, yang ada di atas bumi dan di bawah bumi  (baca  Filipi 2:10).

     Sang ayah juga mengenakan sepatu pada kaki anaknya, sebab saat pulang anak tidak lagi memakai kasut/sepatu karena ia hidup sebagai budak, namun kini anak dikembalikan kepada posisi semula  (gambaran sepatu).  Karena dosa kita terbuang jauh dari Bapa, tetapi melalui karya Kristus kita dikembalikan kepada posisi semula yaitu sebagai anak yang dikasihiNya, dipindahkan dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib dan kita pun kembali menjadi obyek kasih Bapa.  Kepulangan anak bungsu juga membuat hati ayah dipenuhi sukacia sehingga ia pun menggelar pesta.  Pesta adalah gambaran sukacita Bapa yang besar karena anakNya yang telah lama hilang didapatNya kembali.

     Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita karena seorang yang berdosa, yang lama terhilang, pulang kembali ke rumah Bapa dan diselamatkan.  Saat itu pula beribu-ribu malaikat di sorga akan bersorak-sorai penuh sukacita.

"Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."  Lukas 19:10